Anak Rantau

2 Comments

Warna merah bertebaran di langit senja menjelang lebaran Idul Fitri tahun 2010. Desa di pinggiran pantai utara Brebes itu senyap, begitu hening dan pulas, hanya desiran angin, hingga suara Azan ashar mengusik kesunyian kampung, suaranya patah-patah, tersayat-sayat batuk, sesekali nafasnya yang berat terdengar dari pengeras suara menunjukan suara sang muazin telah dimakan usia. Suyat, nama orang tua itu, dari rongga kerongkonganyalah panggilan azan itu berawal, umurnya sekitar 60 tahun, berdirinya masih tegap, urat menonjol di lenganya yang legam keriput. Di usianya yang setengah abad lebih Ia masih sering diminta pemilik tanah mencangkul satu bahu sawah. Satu bahu luasnya tak kurang 300 meter persegi, Dulu ketika masih muda, ia sanggup mengerjakan sawah satu hektar lebih sawah. Ini karena para pemuda desanya lebih memilih bekerja di kota. Kini di sisa usianya, ia banyak habiskan waktunya di masjid dengan sesekali mengumandangkan azan atau sekadar solawatan, “ingin lebih dekat dengan tuhan” katanya lirih. “cah nom saiki pada lunga marang Jakarta, ra gelem marang masjid, apamaning adan, ra kaya gemiyen” (anak muda sekarang lebih memilih pergi ke Jakarta, tidak mau ke masjid, apalagi azan, tidak seperi dulu).
Ucapan Suyat tak salah, Selemparan batu dari masjid, di mulut gang masuk kampung, sekelompok anak muda duduk-duduk pada besi yang dijadikan pembatas jembatan. Tampak wajah-wajah bahagia, sesekali dengan tawa yang menggelegar. Tak jauh dari tempat mereka nongkrong, beberapa sepeda motor yang rata-rata masih mulus berjejer rapi terparkir, sebagian diantaranya berplat nomor “B”. para anak muda yang rata-rata berusia duapuluhtahunan ini sibuk dengan obrolan, yang lain sibuk memelototi hape keluaran terbaru yang dibelinya dari ibukota.
Dewi (18), satu-satunya perempuan di tongkrongan, sedang asyik dengan lagu dari MP4 baru miliknya. Matanya terpejam, sesekali ia goyangkan kepala kiri kanan mengikuti alur lagunya, mulutnya komat kamit, tak jelas lagu apa yang diputarnya, karena headset menempel di kedua telinganya. Sesekali ia mengigau, “auu ooh.. auuu oooh..”.
Rambutnya yang setengah dicat pirang dibiarkan terurai, bedak yang melapisi mukanya terlihat mulai mengelupas, lipstik dibibirnya retak-retak. Bajunya tipis, bolong-bolong transparan mirip kebaya modern yang sering dilihat di catwalk, sehingga terlihat punggungnya yang mulus samar-samar terlihat dari belakang. Dari depan, tak kalah memanjakan mata lawan jenis, kerahnya mengerucut ke bawah, buah dadanya sebagian dibiarkanya liar merangsek keluar. Suatu Pemandangan desa yang dulu dianggap tabu.
Sebagai perawan yang menginjak masa puber, dewi ingin menunjukan budaya yang dianggapnya modernis hasil rantaunya di Jakarta kepada kawan-kawan kampungnya, utamanya lawan jenis. Dewi yang sekarang bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) di salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta Barat ini seolah ingin menunjukan feminisme ala ibukota. Syaifudin, pacar baru Dewi, yang duduk disampingnya sesekali merangkul Dewi dan bibirnya yang bertindik menciumi rambutnya, jari-jari tanganya yang nakal menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Dewi yang menyergahnya dengan genit.
Dan, inilah dewi yang sekarang, Dewi yang modernis. Monas, Blacberry, guwe, kafe, Mall dan segala simbol modernitas ibukota telah berpindah ke benaknya. Dulu, sebelum merantau ke Jakarta, jebolan tsanawiyah ini hanya perawan desa yang menunggu dilamar, lebih tepatnya penganguran, tingginya tak kurang dari 150 cm, daging yang membungkus seadanya. Maklum, ia hanya anak miskin, untuk makan seadanya, ”lebih sering makan daun singkong”, ujar Sidiq, adik Dewi. Pakur, bapaknya hanyalah pedagang bensin eceran di pinggir jalan raya.
Lain Dewi , lain pula Aziz. Ia lebih beruntung, bukan Cuma hape keminclong yang dibawanya, Dari merantau ibukota, Kini ia punya teman baru, bahkan setia mengantarkanya menyusuri jalur pantura saat hendak mudik, sang teman adalah motor Honda Revo keluaran 2008. Tunggangan barunya adalah hasil jerih keringatnya hasil jualan gorengan friedchicken di kawasan Bekasi. Terhitung, ia telah merantau ke Jakarta sejak masih berusia 18 tahun, kini usianya 25 tahun, artinya ia sudah merasakan manis sepah kerasnya ibukota selama tujuh tahun lamanya. Dan kini ia memanen kerja kerasnya, seorang teman, sebuah motor yang setiap saat setia menemaninya, juga seorang teman lagi, yang setia menemaninya sepanjang hayat, seorang istri yang dinikahinya saat di Bekasi.
Bagi Dewi maupun Ayub, Jakarta adalah tanah harapan. jakarta telah bertransformasi menjadi alat mengubah status sosial masyarakat desa, dari perantaunyalah muda-mudi dari desa menemukan sock social yang mereka sebut budaya modern, menemukan kebanggaan yang membuat mereka setara derajatnya dengan elit desa.
Mereka tak butuh sawah yang luas, tak butuh ilmu agama mumpuni, tak butuh gelar haji, tak butuh jadi PNS untuk menjadi penghuni kasta tertinggi masyarakat desa . Mereka hanya perlu pergi ke Jakarta. Di perantaun jadi kuli, jadi supir bajaj, tukang gorengan, penjual ketoprak atau noni warteg itu perkara belakangan, asal tak ada tetangga yang tahu profesinya, jika ia pulang membawa motor plat “B” atau Hape Quetry, maka ia adalah penghuni kelas sosial baru yang yang bisa diriyakan di desanya.
Menjadi sebuah pameo dalam masyarakat tentang penamaan masyarakat modern, tradisional sebagai masyarakat petani dengan berbagai aturan adatnya, seperti Suyat, dan masyarakat modern dengan simbol ibukota yang dibawa muda-mudi perantau seperti Dewi dan Aziz.
Dan inilah bentuk ketimpangan nyata pembangunan yang salah kaprah, antara kota dan desa. ketimpangan yang menciptakan transformasi budaya, dan pasal pengkelasan sosial baru dalam masyarakat. Menjadikan teori Kuncoro ningrat tentang kasta masyarakat dalam pelajaran sosiologi tak berlaku lagi.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *