Berapa Harga Sebuah IP?

7 Comments

Bukan maksud kata su’udzon, namun begitulah adanya. Sebut saja Evi namanya, teman saya kuliah di kelas. Tak banyak sisi humanis yang bisa dipetik darinya, rautnya pendiam, jarang senyum mekar di bibirnya, meski hanya barang seper sekian detik pun.

Ketika di kelas, ia seringkan duduk di pojok paling depan, temanya itu-itu saja, seolah hanya dua manusia di kelas, dia dan temanya seorang. Tak menegur jika tak ditegur, jangan mengaharap sapa menyambar, hanya urusan tugas kuliah ia kasih senyumnya yang mahal itu. Kulitnya bening bersih, namun tertutup kacamata lensanya yang kadang melorot ke hidung menutup kecantikan naturalnya.

Ia punya kelebihan di banding saya, juga segenap mahasiswa di kelas yang lain. Apa itu? Indeks prestasi (IP), atau yang surat kabar biasa meneyebutnya grade point average (GPA) dalam rublik kolom lowongan kerja. Semester boleh berganti, namun juara IP tak pernah berlalu darinya, ialah sang juara kelas dalam perkara nilai. Prestasinya selalu bertaburan angka “A”, terbaik di antara yang baik, Tak pernah ia dapatkan nilai “C”, yang dipastikan menghiasi di kolom-kolom nilaiku, harga yang harus dibayar intelegentional quontient (IQ) saya yang memang rata-rata plus rasa malas kuliah yang kerap datang.

Aku memang tak bisa bicara banyak dalam IP, begitulah adanya. Perkara kuliah, hampir tak ada masalah dengan temanku ini, hampir tiada kelas tanpa ia absen, rumah boleh jauh, nun jauh di paling pinggiran Jakarta sana, ia sudah selalu tiga puluh menit sebelum kita menapak kelas. Luar biasa rajinya.

Namun selalu ada dualisme dalam kehidupan yang kita jalani. Ada hitam di samping putih, ada gelap setelah terang, ada cinta di balik benci, ada kelebihan ada kekurangan, begitu pula Evi, sang juara IP. Sifatnya yang pendiam membuatnya tak pandai berkomunikasi, jangankan berorganisasi, berkumpul dengan sekelas pun jarang ia lakukan, hanya satu yang bisa mempersatukan kita, tugas kelompok.

Kesimpulanya, ia jauh dari kesan leadership, work team, atau entahlah apa istilahnya. Meski bukan satu-satunya acuan, sesi presentasi adalah penilaian objektiv saya menilai kemampuan emosionalnya. Presentasinya mirip pak preseiden dalam pidato tekstualnya. Subjektif saya, nilai “E” saya berikan untuknya untuk IP versi emotional quontient (EQ).

Saat berkawan, ia tak percaya diri. Pandanganya berpaling tatkala mengobrol ngalor ngidul, tanganya tak henti menggaruk kepala yang tak gatal. Namun bukan Evi teman saya yang mau saya bahas. Evi hanyalah satu contoh nyata dari sekian korban disorientasi pendidikan yang hanya mengejar IP. Salah kaprah namun tetap dilanggengkan dengan sistem di negeri ini.

Perguruan tinggi (PT) hanya sebagai penyalur tenaga kerja, menyimpang jauh dari harapan sebagai Tri Darma PT yang begitu sakral saat zaman orba. Kita bicara realita mencari pekerjaan yang sulit, tiap tahun perguruan tinggi meluluskan sarjana dan diploma sekian ratus ribu, mereka diseleksi, tahap pertama seleksi administrasi, hampir semua semua perusahaan bahkan CPNS mengharuskan IP di atas 3.00. maka anda yang memiliki nalar dan kecerdasan yang bagus, namun IP di bawah 3.00, dipastikan lamaran akan dibuang jauh-jauh.

Paradigma ini telah megakar dan sulit diubah. 90 persen kuliah mubazir dihabiskan dalam hal meraih IP tertinggi. sementara inovasi, pengabdian, atau entepreneur menjadi nomor sekian. Ini berakibat pada disorientasi kuliah, menimbulkan pertanyaan “seberapa penting IP agar saya mendapat pekerjaan?” yang dilakukan selama kuliah, “bagaimana saya bisa lulus secepatnya dan cepat mendapat pekerjaan?” hasrat memuaskan diri sendiri, orang tua, dan pacar.

Konteks nyata, IP hanya jadi jalan pembuka memasuki persaingan kerja. Namun setelah lulus tahap administrasi, IP tak bernilai lagi, kemampuan komunikasilah yang menjadi tolak ukur meniti karir jangka panjang. Memang IP bukanlah segala-galanya untuk kuliah, begitu pula kuliah bukanlah segala-galanya untuk IP. Terlepas dari sekadar mencari kerja, Lebih penting lagi, kuliah menciptakan manusia pencipta peradaban, menciptakan manusia-manusia yang memang dibutuhkan manusia lainya. Meminjam istilah Paulo Freir, melokalkan pendidikan, itulah hakikat kuliah

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *