Mega Sinetron

2 Comments

Awal cerita bermula saat Doni, pemuda anak seorang pengusaha tajir mengendarai mobil mewahnya yang merah gemerlap tanpa atap menyusuri deretan ruko. hembusan angin sesekali menyibak rambutnya yang menutupi kaca mata hitamnya. Ia berhenti di salah satu sudut pertokoan, setelah memarkir mobil Ducatinya, dengan tas ransel di punggungnya, pemuda berkulit putih bersih tersebut berjalan dengan gayanya yang borju. . Sial baginya, baru sebentar melangkahkan kaki, tepatnya ketika melintasi sebuah gang pertokoan yang sepi, ia berpapasan dengan lima orang preman. “hei… serahkan tasmu!” gertak serapah salah satu preman. Namun Doni menolak mentah-mentah dan balik menantang preman.
Tak mempan dengan cara halus, jalan kekerasan ditempuh. Perkelahian tak dapat terelakan. Awalnya, Doni masih bisa melakukan perlawanan, namun jumlah yang tak imbang membuat Doni akhirnya tersungkur. Tanpa diduga seorang gadis berpakaian brandal, tiba-tiba datang dan langsung menghajar satu persatu preman yang memalak Doni, kali ini perkelahian lebih seru, meski seorang perempuan, gadis misterius ini berhasil melumpuhkan satu persatu preman yang semuanya laki-laki ini lari tunggang langgang.
Doni lantas berterimaksih sambil memperkenalkan diri pada gadis yang telah menolongnya. Melati, nama gadis baik itu, parasnya ayu, kulitnya mulus. Sangat bertolakbelakang dengan kehidupan jalananya yang keras. Doni tak henti-hentinya menatap Melati. Ia tak percaya, ternyata gadis malaikat ini sangat mirip dengan kekasihnya yang meninggal dalam kecelakaan dua tahun lalu. Namun si gadis misterius ini kemudian meninggalkan Doni yang masih terbuai terpaku dalam takjub.
Doni tak mau kehilangan cinta untuk kedua kalinya. Tanpa sepengetahuan Melati, Doni mengikutinya dari belakang. Ia ikuti hingga masuk ke sebuah permukiman kumuh, disitu Doni tambah takjub, hingga sampai di sebuah rumah berdiding kardus di ujung perkampungan, dengan matanya sendiri ia menyaksikan gadis pengamen yang telah menolongnya ternyata berhati malaikat, seorang diri ia mengajari anak-anak jalan laiknya guru sekolahan. sungguh luar biasa, pikir Doni bercampur kagum, nampaknya ia telah memantapkan pelabuhan hatinya yang baru. Ia memutuskan untuk datang lain waktu saja ke tempat tersebut.
Dalam perjalanan pulangnya, rautnya sumringah. Selempar senyum tersumbar dari bibirnya, mukanya tak bisa menutupi cinta yang bersemi. Di rumahnya yang mewah bak kastil, sang ayah yang sudah menunggu di ruang tamu menegurnya, “Hai… Doni! Dari manasaja kamu. Dasar anak tak tau diri!”, bentak sang ayah dengan nada emosi, seolah tak menganggap keberadaan ayahnya, Doni berlalu begitu saja menuju kamarnya.
Sambil banting daun pintu kamarnya dengan keras, ia lemparkan tubuhnya di kasur, juga dengan melemparkan tumpahan kesedihanya. “ayah tak pernah mengerti perasaan Doni”. Teriaknya sesenggukan dari dalam kamar sambil memegangi foto almarhumah ibunya. Cerita tiba-tiba berganti menjadi iklan bonus kartu provider perusahaan telepon seluler. kelanjutanya, serendah-rendahnya pendidikan manusia Indonesia pasti tahu ending ceritanya yang pasti selalu berujung bahagia.
Tak susah kita menemukan cerita sinetron sejenis, namun dengan latar si miskin yang berbeda-beda. Bisa si gadis yang miskin, tak jarang pula sang pemuda yang miskin, intinya berkisah cinta antara si miskin dan si kaya. Judulnya pun dikemas sedemikian dramatisnya, “Cinta di atas Angkot”, “Cinta di atas Gerobak Sayur”, “Cinta Bersemi di Halte”, dan judul sinetron yang selalu memakai kata “cinta” lainya, dengan sederet episodenya.
Pagi, siang, sore, malam, tak ada habinya. Tak ada waktu tayang televisi yang tak terkontaminasi tayangan sinetron. Tak jarang sinetron yang khusus menyita perhatian, tentunya dengan pemeran selebritanya ternama, tayang pada jam-jam padat penonton, hampir setiap stasiun televisi punya “Mega Sinetronya” masing-masing. Bulan Suci Ramadhan pun tak luput dari banjir sinetron, bahkan dengan bumbu cerita yang bercampur aduk berbau “Cinta Religius”.
Banyaknya sinetron tak diikuti dengan pengembangan ide sang sutradara yang melulu kisah cinta si miskin dan si kaya. Tak jarang ide cerita film korea pun dibajak, sedemikian parahkah, mengambil tema dari novel yang baru naik daun, kisah legenda rakyat namun disetting ke zaman modern, atau yang lebih parahnya lagi, entah sudah benar-benar tong kosong di balik tempurung kepalanya, kisah majalah siksa kubur pun dinagkat jadi sinetron kelas “Box Office” unggulan.
Namun, seperti kata pengamat ekonom, tak ada penawaran jika tak ada permintaan. rating sinetron dengan cerita sejenis terus menerus mendapat ranting yang selalu tinggi pula. Sinetron dengan percintaan beda kelas sosial nyatanya masih mendapat tempat yang terpuji di hati para pemirsa televisi, khususnya anak remaja dan Ibu-ibu.
Sejatinya jika dicermati, sinetron adalah bentuk penghinaan terhadap kaum papa. Hidup di sinetron, ibarat kaki di kepala, kepala menjadi di kaki. Kesemuanya mensuggesti kaum muda, kebanyakan kaum menengah bawah untuk hidup dalam surga angan-angan, mendadak kaya laiknya anak jalanan yang ternyata anak orang yang sengaja ditukar bayinya saat dirumah sakit seperti kehidupan sinetron.
Pun dengan karakter penokohnya yang serba ajaib. Bagaimana mungkin seorang pengamen, yang biasa kita lihat dengan kemiskinan dan penderitaan yang membungkus mereka, kulit dekil, kemudian di adegan sinetron diperankan oleh gadis yang berkulit putih mulus, hidung blasteran, dan tumbuh semampal yang tak mencerminkan sekali susahnya mencari sesuap nasi.
Kemiskinan yang tak kunjung teratasi, menjadi masalah sosial akut yang sangat parah. Oleh sinetron, kemiskinan adalah suguhan menarik yang mengesampingsan fakta lapangan. Belum lagi dengan sinetron remaja yang gaya berpakainya sangat tidak sesuai dengan relitas. Kesemuanya membentuk pikiran-pikiran yang serba angan-angan.
Tak hanya itu, sinetron kadangkala melecehkan budaya serta bahasa yang sengaja ditokohkan dalam sinetron. Ambil contoh bagaiman sinetron pendek yang sering mengangkat kisah antara gadis rantau dari desa yang miskin, dan terlibat kisah cinta dengan si kaya dari kota. Dari bahasa Jawa yang dipakainya terlihat sangat berantakan, terlebih dengan logat yang terkesan sangat dipaksaan. Orang jawa yang menghargai benar budayanya jelas sangat tersinggung.
Terlepas dari semua paradigma buruk yang melekat pada sinetron. Kita tak bisa menyalahkan stasiun televise atau si pembuat sinetron, toh semuanya balik pada masyarakat sendiri, memilih mana tontonan yang layak dan tidak dikonsumsi. Karna di negara manapun televisi telah menjadi alat perubahan yang mampu menembus dinding kamar. Alat perubahan yang punya dua sisi, perubahan baik dan negative.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *