Model Kultur Akademik

9 Comments

Mahasiswa merupakan lakon dalam membangun kultur akademik yang kondusif. Kultur akademik menghendaki mahasiswa untuk bertindak kreatif, inovatif, yang sesuai dengan karakter mahaiswa sebagai seorang yang intelektual. Kultur akademik ini bisa berupa budaya baca dan tulis, penelitian, karya dosen dan mahasiswa, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan ilmu pengetahuan. Namun melihat manasiswa saat ini sepertinya susah sekali untuk membangun kultur akademik yang kondusif.

Hal ini bisa dilihat dari sepinya kegiatan yang berhubungan dengan akademik. Seperti acara-acara  seminar, workshop dan sejenisnya yang berhubungan dengan akademik terkesan ditinggalkan oleh mahasiswa atau dapat dikatakan sedikit sekali mereka yang datang. Contohnya acara yang diselenggarakan oleh organisasi LKM (Lembaga Kajian Mahasiswa) yang bertemakan mengenai pemikiran Tan Malaka tentang pendidikan. Padahal tema seperti itu sangat penting bagi mahsiswa UNJ (Universitas Negeri Jakarta), mengingat UNJ merupakan salah satu Universitas penghasil tenaga kerja pendidik.

Sebenarnya ada beberapa alasan yang mendasari mengapa acara-acara yang bersifat akademik sepi dari mahasiswa. Diantaranya adalah minat dari mahasiswa itu sendiri. Menurut Mahfuz Imam, anggota BEM Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI), menjelaskan walaupun publikasinya sudah maksimal, kalau dari mahasiswa itu sendiri tidak ada minat terhadap acara-acara seminar maka merekapun tidak akan menghadirinya. “Tergantung mahasiswanya sih, minat atau tidak”, tukas Imam.

Berkurangnya minat mahasiswa terhadap kegiatan yang bersifat akademis dikarenakan jenuh. Seperti yang dikatakan oleh Ali, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI)  ini. “Dari dulu acaranya yang bersifat akademik mulu, terlalu monoton, jadi bikin jenuh,” ujar Ali.

Mahasiswa saat ini lebih suka denga acara-acara yang lebih menghibur. Oleh sebab itu, banyak kegiatan mahasiswa yang diadakan belakangan ini tidak berhubungan dengan kultur akademik.  Seperti yang diselenggarakan oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Teknik (FT) belakangan ini. BEM FT menyelanggarakan acara yang bernama FTMB (Fakultas Teknik Mencari Bakat) yang didalamnya terdapat lomba menyanyi dan lomba-lomba lainnya yang berupa hiburan. “Kita ingin berfikir berkreatifitas diluar kotak batasan kita”, tutur Wira, ketua BEM FT.

Kegiatan yang lebih bersifat menghibur memang bertujuan untuk menjaring massa. “Kalau ngadain acara lomba membuat robot maka yang datang hanya dari Jurusan elektro sajakan? Nah kita ingin membuata acara yang bertujuan agar temen-temn FT ngerasain,” tambah Wira. Alhasil acara semacam ini ramai peminat. “Wuih ramelah,” tukasnya. Bahkan BEM FT tahun depan akan berencana untuk mengadakan acara stand up comedy.

Sangat kontradiksi sekali memang, mahasiswa FT mencoba mengadakan acara yang diluar batasan dari FT itu sendiri. Tujuan awalnya adalah mencoba sesuatu yang inovasi. Namun, mahasiswa FT yang seharusnya berfikir inovasi dalam ilmu teknik, malah berfikir inovasi yang jauh melenceng dari teknik, seperti diadakannya lomba menyanyi di FT. Akhirnya kegiatan yang diadain hanya sekedar untuk menjaring peserta.

Sementara itu, dari pihak dosen juga sudah berupaya untuk mendorong mahasiswa untuk menghadiri ke acara-acara yang bersifat akademis. Namun caranya tidak secara langsung berkata kepada mahasiswa tetapi melalui perkataan yang lebih memberi stimulus terhadap mahasiswa. “Dari dosen sendiri sudah ada upaya dorongan untuk mahasiswa menghadiri acara-acara yang bersifat akademis,” kata Zulaekha, dosen PIP (Pengantar Ilmu Pendidikan).

Walaupun demikian, dalam menentukan baik-buruknya kultur akademik dapat didasarkan pada sistem pembelajaran dikelas. Jika sistemnya dapat memacu mahasiswa untuk berkarya, maka akan tercipta kultur akademik yang kondusif. Namun, begitu juga dengan sebaliknya. Menurut Widjono, dosen ilmu filsafat mengatakan bahwa untuk meningkatkan kultur akademik yang kondusif diperlukan tingkat minat membaca dan menulis yang tinggi.

Menurutnya, membaca dan menulis merupakan cara untuk meningkatkan kultur akademik yang kondusif, yaitu dengan cara mencari sumber-sumber pengatahuan melalui penelitian, buku, dan hal lainnya yang dapat meningkatkan kultur akademik. Kemunduran kultur akademik juga dapat dipengaruhi oleh kondisi internal pendidikan itu sendiri.

Membangun kultur akademik memang pondasi bagi majunya dunia kampus. Akibat tidak terbangunnya kultur akademik, akan berdampak ke berbagai hal, termasuk kegiatan kemahasiswaan. Oleh karena itu, sistem pendidikan terutama pembelajaran dikelas harus dirubah kearah yang lebih membangun kultu akademik.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *