Pembangunan Fisik, Keresahan Mahasiswa

No Comment Yet

Keberadaan gedung-gedung mewah sebenarnya tidak memberikan jaminan akan peningkatan kualitas pendidikan.

Keresahan melanda hati sebagian besar mahasiswa UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Keresahan tidak biasa ini bukan hanya karena takut telat mengumpulkan tugas, atau telat masuk kelas. Resah yang justru muncul melihat gedung-gedung bertingkat mulai bermunculan di kampus. Kemunculannya yang berbarengan dengan kenaikan biaya kuliah memaksa penggunaan logika rasionalisasi. Namun logika rasionalisasi pun tidak dapat memberikan toleransi atas tidak adanya transparansi keuangan.

Transparansi keuangan dibutuhkan karena mahasiswa pada dasarnya juga ingin mengetahui kemana uang kuliah yang telah dibayarkannya.  Kenaikan biaya kuliah yang terkesan diputus sepihak tentunya berimbas negatif kepada para mahasiswa miskin. Jika alasan kenaikan biaya kuliah ini untuk membangun gedung-gedung bertingkat tersebut, maka ini tidak adil bagi mahasiswa miskin. Lambat laun, mereka akan kehilangan kesempatan kuliah. Seiring dengan kenaikan yang tidak dapat dihindari setiap tahunnya. Jika sudah terjadi hal seperti ini, maka dimana tanggung jawab pemerintah untuk melakukan pemerataan pendidikan.

Kenaikan biaya kuliah ini semestinya tidak terjadi. Menimbang pada tahun 2009, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) telah menerima dana hibah dari Islamic Development Bank (IDB). Dana hibah sebesar 38 juta US$ (sekitar Rp 324 miliar) ditujukan untuk pembangunan fisik dan akademik UNJ. Namun dana sebesar itu rupanya tidak cukup memenuhi biaya pembangunan fisik yang ingin dilakukan. Terlalu banyak memang yang perlu dibenahi dari kampus ini. Mulai dari pengelolaan keuangan, kultur akademik, sampai yang paling kasat mata adalah bangunan kampus yang sudah tua, usang, dan sempat ada satu pakar pendidikan yang menyebutnya sebagai “kandang ayam”.

Pejabat kampus menilai pembangunan fisik menjadi prioritas. Kenyataannya maraknya pembangunan fisik yang dilakukan, memunculkan polemik baru di dalam kampus. Sementara kampus bersolek, masih banyak mahasiswa yang tidak mampu membayar uang kuliah. Kemudian tidak dapat di pungkiri saat gedung-gedung itu sudah selesai dibangun dan siap digunakan, akan muncul kebutuhan baru, yakni biaya perawatan. Apabila dalam proses pembangunannya saja sudah memberatkan mahasiswa, maka dapat diprediksi nasib mahasiswa tidak akan lepas dari tanggung jawab membayar biaya perawatannya.

Sambil berjalan-jalan di kampus memerhatikan perkembangan proses pembangunan, nampak gedung-gedung yang dibangun awal bukanlah bangunan yang merepresentasi kebutuhan mahasiswa. Sebut saja gedung Pusat Studi dan Sertifikasi Guru dan gedung Ki Hajar Dewantara yang justru digunakan untuk kantor. Padahal bila menilik ke beberapa fakultas, keadaannya sudah tidak layak. Kaca jendela yang pecah dibiarkan, saluran air di kamar mandi mampet mengganggu kebutuhan mendesak mahasiswa, pun bangku-bangku kuliah yang tidak pernah seimbang dengan  jumlah mahasiswa.

Keberadaan gedung-gedung mewah sebenarnya tidak memberikan jaminan akan peningkatan kualitas pendidikan UNJ. Karena pada dasarnya, seluruh sivitas akademika membutuhkan esensi perkuliahan di samping sekedar mementingkan tempat kuliahnya. UNJ perlu meningkatkan serta terus menanamkan kultur akademik di dalam diri setiap sivitasnya. Perpustakaan dingin dengan fasilitas mewah tidak berguna apabila tidak bisa mengakomodir mahasiswa untuk membaca buku sebanyak-banyaknya di dalamnya. Ruang-ruang nyaman tidak akan hidup bila mahasiswa tidak menggunakannya sebagai tempat untuk menuliskan gagasannya. Gedung-gedung bertingkat berbalut kaca yang menyilaukan mata tidak akan terlihat sempurna bila dari luarnya tidak terdengar gaung perdebatan mahasiswa dalam diskusi-diskusi yang dilakukan di dalamnya.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *