Rektor Zaman Kiamat

No Comment Yet

Matahari baru menyelesaikan setengah perjalanya, namun siang telah begitu teriknya. Hari itu, Senin (1/11) ada pemandangan yang tak biasanya bagi penghuni kampus, alat-alat berat bertebaran di sepanjang jalan depan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) sejak dari malam, deru suaranya beradu dengan suara bising dari kendaraan pribadi yang lalu lalang di kampus. Pemanadangan yang tak lazim bagi civitas kampus., Inilah hari pertama pembangunan proyek besar Universitas Negeri Jakarta, setelah sebelumnya merobokan gedung SarwahitaPagar seng bertuliskan PP pun melingkar di sepanjang di bekas reruntuhan gedung eks Administrasi IKIP Jakarta tersebut. sebuah panggung telah berdiri si atasnya. Beberapa tamu dengan pakaian setelan pejabat telah duduk pada kursi yang disediakan. Jam ditangan menunjukan angka 11.00, Mereka sibuk dengan dengan obrolanya masing-masing, hingga sebuah Camry hitam berhenti tepat di belakang panggung yang menhadap masjid Alumni tersebut.
Seorang ajudan berpakaian layaknya paspampres yang keluar duluan dari pintu depan, dengan cekatan segera membuka pintu mobil di belakang. Sesosok laki-laki yang telah beruban keluar dengan jas hitam, rambutnya klimis tersisir rapi, ia langsung melangkah menuju panggung, tak peduli beceknya tanah merah basah yang langsung menyergap sepatunya yang hitam mulus. Ia langsung menyalami satu per satu tamu, kerumunan mahasiswa di sekitarnya pun tak memperdulikan kehadiranya. Namun siapa sangka, jangan main-main denganya, Sang laki-laki tak lain kalau bukan adalah Bedjo Sujanto, Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Tak ada yang istimewa memang dari acara ritual pelatakan batu pertama ini. Namun inilah pertama kalinya rektor yang sudah dua periode pemimpin ini muncul di tempat terbuka di lingkungan kampus. sang rektor memang diketahui lebih sering kongkow di ruangnya di gedung rektorat, atau sesekali menyambangi Aula Pascasarjana sekadar mengesahkan ujian doktor.
Amsal dia atas adalah sekelumit dari sekian banyak kisah tentang Pa Bedjo, panggilan akrab pa rektor. Berstatus orang nomor satu di kampus UNJ raya, bukan jaminan Ia sosok terkenal bagi mahasiswanya. di mata mahasiswa, ia bahkan kalah pamor dibanding Fachrudin Arbah,orang dekatnya yang mengurusi bidang kemahasiswaan, tak sembarang orang bisa bertatap muka denganya, jangankan mahasiswa, pentolan pejabat fakultas pun jangan harap bisa menemuinya sebelum membuat agenda dengan sekertarisnya yang berbelit-belit.
Simbolon, Ajudanya, bahkan terkenal sangat tak ramah. Ibarat pepatah Betawi, “langkahi mayat guwe dulu” begitulah Simbolon, Maka siapa yang mau berurusan dengan pa rektor, Itulah rektor kita, rektor yang tak dikenal oleh mahasiswanya sendiri, sampai-sampai muncul sebuah parodi, mahasiswa hanya mengenal namanya hanya dari tanda tanganya di ijazah mahasiswa.
Dari pengamatan sebuah survey sederhana pada sedikit mahasiswa, entah ini mewakili seluruh mahasiswa atau hanya asumsi dari survey yang sengaja dikonstrusi, rata-rata mahasiswa hanya melihat orang nomor satu di UNJ ini sebanyak-banyaknya dua kali, yakni saat Masa Pengenalan akademik dan saat acara paling sakral bagi mahasiswa untuk mengakhiri kuliah, wisuda.
Pa Bedjo memang telah lama tak mengajar mahasiswa. Ia telah lama menanggalkan statusnya sebagai dosen di almamaternya di Fakultas Ilmu Sosial, namun bukan berarti ia lantas menasbihkan diri sebagai orang dengan keistimewaan khusus. Dengan rutinitas layaknya roda berputar, tiap hari memantau kampus senantiasa hanya dari balik kaca mobil mewahnya.
Lantas bagaimana ia mengetahui kondisi dan masalah kampus? Bagimana ia mengetahui semrawutnya parkir kalau ia sendiri tak pernah memarkirkan Camrynya di tempat parkir umum. Atau bagaimana ia tau buruknya kualitas perpustakaan jika ia sendiri hanya sekadar masuk ke aula perpustakaan yang sejuk untuk membuka seminar, tanpa sekalipun menegok derita mahasiswa yang kepanansan di lantai empat atau lima. Atau buku-buku zadul yang terpaksa dipakai mahasiswa karna tiadanya buku yang berkualitas? Atau sekadar melihat kegiatan mahasiswa saat jam sore daripada asyik bermain golf di Jakarta Golf Club selepas urusan tugas?
Mengutip perkataan Muhammad SAW, “kian dekatlah datangnya kiamat, ketika pemimpin-pemimpin tak lagi dihormati”. dan kini kiamat itu telah ada di pelupuk mata kita, para mahasiswa. seumpama azab, keadaan UNJ saat ini yang tertinggal jauh dari universitas eks IKIP lainya adalah bentuk nyata kiamat tersebut. krisis kepemimpinan yang berujung pada krisis kualitas. Kiamat sudah dekat? Nauzubillah..

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *