Comeradeship Mimpi Indonesia

345 Comments

Tujuan dari dibangunnya bangsa adalah terjalinnya comeradeship kesejahteraan

Pernahkah anda membayangkan? Jikalau wilayah Indonesia sekarang, sesuai dengan isi dari perjanjian linggarjati: Sumatera, Jawa dan Madura. Selebihnya menjadi negara otonom yang berdiri sendiri. Bali, Maluku, Borneo, Celebes, dan Irian bukanlah sebuah kesatuan dari apa yang sejak zaman pergerakan nasional hingga kini, kita sebut sebagai Indonesia.

Nampaknya sejarah Indonesia menampik itu semua. Kaum pergerakan di era 1940-an yang walaupun mereka sebagian besar adalah individu yang lahir di wilayah tersebut dalam linggarjati. Terus mengupayakan bahwa Indonesia adalah sebuah nasion yang satu. Beruntunglah sampai pada selesainya drama konfrontasi dengan Belanda dalam merebut Irian Barat, hari ini kita masih bisa menyebut wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke. Lantas kemudian pertanyaannya apakah Indonesia harus satu? Dan apakah Indonesia.

Kiranya sumpah pemuda adalah sebuah mitos yang mesti kita selesaikan secara kritis dan praxis. Nasion yang terkandung dalam sumpah pemuda ialah kolektifitas sosiologis. Jauh dari makna setelah sumpah pemuda itu berlangsung. Sebagai sebuah kolektifitas politik, yang pada pasca sumpah pemuda menjadi sebuah momentum spritualitas.

Beberapa individu yang mewakili tiap komunitasnya datang bermaksud mengungkapkan perasaan egalite dan freternite dalam bentuk simbolis. Bukan berarti hal ini adalah representasi dari apa yang terjadi sebelumnya pada tahun 1926. Sejumlah komunitas yang terdiri atas kaum buruh melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kaum tirani kolonial Belanda. Dengan cara melakukan pemogokan hingga berakhir pada tindakan represif.

Inilah salah satu alasan, kenapa sumpah pemuda harus dihapus dalam benak masyarakat Indonesia sebagai sebuah momentum spritualitas kebangsaan. Berikutnya, ‘satu bahasa’ dalam sumpah pemuda bukan berarti mengharuskan masyarakat berbicara satu bahasa. Niscaya hal ini kentara dalam surat kabar, radio, dan televisi dalam menjelaskan apa yang disebut sebagai jawanisasi. ‘Satu tanah air’ tidak dengan sendirinya menjadi ‘satu bangsa’. Aceh, Maluku, dan Irian dibangun atas dialektika nasion yang penuh dengan darah. Hari ini, mereka ingin melepas ke-Indonesi-an mereka.

Dalam beberapa karya Sukarno yang terdapat dalam Di bawah Bendera Revolusi, dia selalu mengutip Ernest Renan dalam menjelaskan apa itu nasion. Baginya nasion adalah sebuah komunitas yang memiliki persamaan nasib. Atas dasar hal inilah kemudian Sukarno memakai nasionalisme sebagai politik indonesianisasi.

Sukarno coba membangun bayangan komunitas-komunitas Indonesia akan makna indonesianisasi. Melalui beberapa klenik dan mitos nusantara yang diperolehnya dari serat-serat pada zaman Indonesia sewaktu masih dalam bentuk kumpulan feodalisme. Alhasil indonesianisasi Sukarno tidak usang oleh zaman. Ini terbukti ketika kita bertanya kepada masyarakat sekalipun dia pelajar, apa itu Indonesia? Jawabnya, Indonesia adalah wilayah yang terbentang dari sabang sampai merauke.

Interpretasi ke Indonesiaan Sukarno mencakup wilayah Irian. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang dimaksud oleh Hatta, Indonesia tanpa Irian. Begitupun dengan Tan Malaka, yang jauh melebar, bahwa Indonesia adalah nusantara beserta wilayah yang sekarang dinamai Filipina.

Penjelasan apapun perihal geografis Indonesia, secara kritis sangat abstrak jika dilihat secara historis, sosiologis ataupun antropologis. Meskipun wilayah Indonesia sama-sama pernah disinggahi imperalisme dan kolonialisme, hal ini belum membuktikan bahwa Indonesia memiliki nasib yang sama secara historis. Karena tiap wilayah yang hari ini kita sebut sebagai Indonesia, memiliki konteks imperialisme yang berbeda-beda. Penghisapan yang terjadi di tanah jawa tidak seseram yang dirasakan oleh mereka komunitas-komunitas masyarakat Irian. Yang sampai hari ini masih dikategorikan sebagai komunitas primitif yang perlu dimanusiakan.

Indonesia: Comeradeship Kesejahteraan

Materialisme Dialektika Hitoris (MDH) menganjurkan agar manusia kembali pada konsep komunal. Dimana di dalamnya terdapat komunitas yang membayangkan akan kesejahteraan. Dan, seharusnya Indonesia seperti ini.

Sejarah Indonesia yang diwarnai semua tahapan yang tersebut dalam MDH: primitif, perbudakan, feodalisme, dan kapitalisme. Belum sekalipun terjalin menjadi komunitas yang menjunjung tinggi comeradeship kesejahteraan. Meskipun dalam konstitusi keindonesiaan selalu disebutkan bahwa cita-cita bangsa ini ialah mewujudkan kesejahteraan segenap komunitas di dalamnya. Hal ini jauh dari realita.

Indonesianisasi Irian yang digelorakan pada tahun 1960-an tidak membuahkan kesejahteraan pada komunitas Irian. Comeradeship kesejahteraan yang dibangun di Irian tidak berdasar atas kesadaran akan sebuah nasion. Melainkan kebutuhan ekonomis politis semata. Irian yang di atas dan di dalamnya kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) tidak sedkitipun berbuah pada terciptanya comeradeship kesejahteraan antara jawa sebagai wakil Indonesia.

Egosime indonesianisasi di Irian jelas bukan merupakan gambaran akan nasion sebagaimana yang diungkapkan oleh Ernest Renan. Hal ini juga membawa kita pada apa yang kita sebut sebagai Indonesia. Dimana beberapa komunitas yang ada di Indonesia, baik di wilayah Sumatera, Jawa, Borneo, Celebes dan lain-lain dapat menggambarkan kesejahteraan.

Dalam prosesnya comeradship kesejahteraan dapat terjadi jikalau adanya kejujuran dalam pengelolaan pemerintahan. Dan Indonesia kini menganggap desenteralisasi atau otonomi khusus sebagai hal yang solutif. Nista, hal ini terlanjur dimaknai sebagai proses pembagian kekuasaan oleh oknum pada komunitas tertentu.

Comeradeship kesejahteraan untuk Indonesia bukanlah sebuah cita-cita ataupun tujuan. Melainkan sebuah keniscayaan yang sudah semestinya terjadi. Dan tujuan itu sendiri adalah Indonesia. Melihat kondisi objektif kini yang terjadi dalam masyarakat komunitas terbayang Indonesia. Dipenuhi dengan konflik dan perselisihan yang dikarenakan pertentangan kelas yang begitu tajam. Baik masyrakat kota dengan desa, ataupun kelas pekerja dan pemilik modal.

Hal inilah yang seharusnya cepat diselesaikan oleh kita. Meminimalisir terjadinya pertentangan kelas antar komunitas terbayang Indonesia. Niscaya comeradeship kesejahteraan bukanlah hal yang sulit untuk menjadi sebuah realita di bumi merah putih ini.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *