Jugun Ianfu Sebagai Sebuah Catatan

292 Comments

Jumat (18/11), bertempat di Ruang Sidang 212, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Forum Diskusi Penelitian Akselerasi Akademik FIS mengadakan sebuah diskusi dengan tema, “Jugun Ianfu Kejahatan Perang: Sebuah Temuan Penelitian.” Diskusi yang dihadiri mahasiswa dan dosen ini dibuka dengan sambutan Dekan FIS Komarudin.

Sebagai pembicara, Indri Hapsari Mustika Dewi langsung membuka diskusi dengan menyatakan bahwa hari ini masyarakat telah lupa akan beberapa kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).”Apa saudara masih ingat apa itu jugun ianfu,” tanya pembicara yang pernah menempuh kuliah di salah satu kampus negeri Jogjakarta kepada audiens. Indri ternyata masih ragu akan pemahaman mahasiswa terhadap kasus kejahatan perang yang merugikan ribuan wanita Indonesia.

“Jugun Ianfu adalah kejahatan perang. Dan Jepang harus bertanggung jawab terhadap para korban, terutama di Indonesia,” imbuh Indri. Kemudian Indri menunjukan beberapa data yang ditemukannya sewaktu menjadi peneliti. “Di Jogja, tepatnya di Gunung Kidul. Ada puluhan mantan Jugun Ianfu yang hari ini masih mengalami trauma,” tambahnya. Indri juga menjelaskan bahwa adanya Jugun Ianfu guna mencegah perwira Jepang yang tengah bertempur dalam perang pasifik kala itu untuk kembali pulang. Sehingga hadirnya Jugun Ianfu dianggap sebagai sebuah permasalahan gender. Hal ini bisa dilihat dari berbagai bentuk pelecehan yang dilakukan perwira Jepang terhadap para wanita Indonesia yang dipaksa untuk menjadi Jugun Ianfu.

“LBH Jogja juga sempat membawa masalah ini ke berbagai forum HAM di Indonesia. Tapi tetap saja kalah, karena pemerintah Indonesia menganggap ini sudah selesai. Jelas ini sebuah intervensi perekonomian Indonesia yang dilakukan Jepang,” ungkap Indri. Untuk melengkapi hasil penelitian ini Indri menuntut agar pemerintah Jepang wajib meminta maaf terhadap korban Jugun Ianfu. Juga memasukan kebenaran akan sebab akibat hadirnya Jugun Ianfu dalam kurikulum pendidikan Jepang.”Sekali lagi tuntutan ini mustahil dilakukan jika menyangkut hubungan ekonomi Jepang-Indonesia,” kritik Indri terhadap pemerintah yang lamban dalam menangani kasus Jugun Ianfu.

Acara diskusi ini diakhiri dengan tiga pertanyaan dari audiens. Wiwin, mahasiswi Pendidikan Sejarah 2007 mengungkapkan, “Apa yang akan dijelaskan kepada murid tentang Jugun Ianfu agar mereka tidak salah persepsi, yang kemudian akan membenci pria akibat apa yang telah dilakukan Jepang terhadap mereka Jugun Ianfu?” Dengan penuh keyakinan Indri menjawab bahwa murid perlu diajarkan bagaimana menghapus stigma bahwa Jugun Ianfu adalah pekerja sosial.”Dengan menjelaskan itu kita semua bisa melihat sejarah dengan objektif,” imbuh Indri.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *