LABORATORIUM UNJ: MINIM SARANA, SARAT MASALAH

5 Comments

Minimnya dana hanyalah alasan, akibatnya mahasiswa merugi

Terciptanya intelektual yang unggul harus terbangun dari budaya intelektual yang dinamis. Oleh karena itu, menumbuhkembangkan budaya baca, diskusi, penelitian dan menulis. Harus memperoleh dukungan instrumen yang baik.

Salah satu instrumen itu ialah laboratorium. Tempat dimana mahasiswa mengaktualisasikan gagasan dan pemikirannya agar memperoleh sebuah pengetahuan baru. “Laboratorium adalah sebuah keharusan. Disana kita dapat melakukan penelitian. Dari penelitian itu akan kita buat karya tulis yang berguna bagi masyarakat,” ungkap Teta mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Sebagai sebuah relasi dari terciptanya budaya intelektual, adanya laboratorium diharapkan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan dapat bersaing. “Idealnya laboratorium harus mempunyai sarana yang lengkap. Apalagi ilmu eksakta yang hari ini gue gelutin,” tambah Teta.

Tapi hal ini tidak pernah dirasakan oleh sebagian mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Laboratorium yang terdapat di jurusannya dirasa belum memfasilitasi kegiatan akademis mereka. “Perlengkapan macam obeng saja saya mesti bawa sendiri. Dan, mesin-mesin di jurusan sudah usang,” timpal Iki mahasiswa Jurusan Teknik Mesin. “Saya seolah bukan anak teknik mesin, tapi sastra mesin,” tambahnya.

Kondisi laboratorium yang tidak memadai juga dikeluhkan oleh Asep. Asep mengatakan bahwa laboratorium di jurusannya sering mengalami krisis air. Hal ini dianggap menghambat kegiatan akademisnya.

Air yang mengandung cairan-cairan tertentu itu merupakan sebuah pengetahuan yang wajib diketahui oleh mahasiswa FMIPA termasuk jurusan kimia. “Kejadian ini dari awal saya masuk sampai sekarang. Padahal kan ada dana pengembangan laboratorium, entah larinya kemana?” imbuh mahasiswa yang terdaftar menjadi mahasiswa jurusan kimia sejak tahun 2007 itu.

Selain minimnya fasilitas yang terdapat di laboratorium. Sering pula mahasiswa dibuat bingung oleh fungsi laboratorium komputer. Di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) misalnya, laboratorium komputer yang seharusnya digunakan untuk kepentingan akademis mahasiswa, dipakai sebagai kegiatan komersil yaitu, rental komputer. Hal ini terjadi jika laboratorium tidak sedang dipakai oleh salah satu jurusan yang ada di FIS untuk kegunaan akademis dalam mata kuliah tertentu. “Saya gak tahu, sebenarnya lab komputer itu punya kampus atau bukan,” keluh Ria mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah. Jelas kondisi yang seperti ini merugikan mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuannya.

Menanggapi infrastruktur juga sarana dan pra sarana laboratorium yang dirasa tidak efektif Dekan Fakultas Teknik (FT) Basuki Wibawa ambil suara, menurutnya jumlah laboratorium yang ada di UNJ sangat banyak. Oleh karena itu, secara finansial, UNJ belum mampu memfasilitasi secara lengkap semua kebutuhan laboratorium.”Di FT saja ada 42 lab. Kita memprioritaskan kebutuhan lab yang menunjang tingkat fakultas dulu, untuk jurusan menunggu,” terang Basuki Wibawa saat ditemui di ruangannya.

Dana yang diperoleh melalui mahasiswa dirasa UNJ belum mencukupi semua kebutuhan akademik, terutama pemenuhan kebutuhan laboratorium. Basuki juga menambahkan, “Kita tidak mengandalkan uang mahasiswa. Di FT kita membuka pintu untuk para penghibah. Hal ini guna menutupi kebutuhan itu.” Dekan FT ini juga menerangkan bahwa sebentar lagi FT akan kedatangan sejumlah kebutuhan laboratorium berupa mesin-mesin yang harganya kisaran 500 juta. Ini diperoleh melalui hibah lokal.

Terkait dengan belum mampunya UNJ mendanai kebutuhan laboratorium dirasa janggal. Hal ini berangkat dari terkuaknya kasus korupsi yang terjadi di lingkaran pejabat UNJ. Sejumlah media nasional memberitakan bahwa tengah terjadi penggelembungan dana pengadaan kebutuhan laboratorium yang dibiayai APBN 2010 sebesar Rp 17 miliar.

Hal ini bermula ketika barang pemenuhan kebutuhan laboratorium UNJ jauh dari standar spesifikasi yang sudah ditetapkan dalam proposal. Di antaranya pembelian laptop. Sehingga diperkirakan negara dirugikan lima miliar oleh tindakan yang diduga dilakukan oleh lingkaran pejabat UNJ. Dan, nama seperti Fakhrudin Arbah selaku Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan diklaim sebagai tersangka dalam kasus ini.

Dengan adanya kasus ini semakin jelas menceritakan sebab dari buruknya fasilitas laboratorium yang ada di UNJ. Sampai hari ini mahasiswa terpaksa menerima alat yang usang serta minimnya sarana dan pra sarana laboratorium. Padahal hal ini merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh UNJ sebagai institusi pendidikan. Yang kini memposisikan dirinya sebagai produsen, dan mahasiswa (masyarakat-red) yang telah membayar mahal pendidikan diposisikan sebagai konsumen. “Untuk kasus korupsi yang menimpa pejabat UNJ mungkin sedang apes. Tapi kita kan segera mengevaluasi dan memenuhi kebutuhan mahasiswa sesegera mungkin dengan jujur dan terbuka,” ucap Basuki Wibawa sambil memberikan janji dan kepastian akan buruknya laboratorium yang ada di UNJ.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *