Masihkah?

No Comment Yet

Judul Buku : Dimana Negara (Kumpulan Kisah VHRmedia)
Pengarang : Redaksi VHR
Penerbit : VHR Book
Tahun : Juni 2011
Halaman : x+220 Halaman

Rakyat tidak menjadi tuan di negerinya sendiri

Genap berusia 66 tahun bumi Indonesia ini berumur. Tapi kesejahteraan yang menjadi sebuah cita-cita Negara-Bangsa ini belum tercipta untuk seluruh rakyatnya. Kemiskinan, penindasan, dan penganiyaan terhadap sesama masih selalu terjadi. Hal ini kembali membuat kita semua bertanya. Dimana Negara?

Buktinya saja, sampai hari ini banyak rakyat yang masih menderita kelaparan dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal ini semua sudah menjadi kewajiban negara yang diatur dalam undang-undang. Ataukah memang, negara sudah tidak mendapat tempat lagi di hati rakyat. Sehingga rakyat menjadi frustasi dan terjadilah konflik horizontal diantaranya.

Bentuk frustasi rakyat ini bisa dilihat pada kejadian yang pernah menimpa seorang penganut ahmadiyah di Bandung, Jawa Barat. Ahmad Mulyadi namanya, seorang penganut ahmadiyah yang makamnya dibongkar warga setempat. Ahmad sendiri sebelum meninggal sempat berwasiat. Agar jasadnya dikebumikan di samping makam orang tuanya di Desa Binu Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Bandung Barat.

Awalnya warga menerima jenazah Ahmad dikuburkan di Desa Binu Jaya. Tapi selang beberapa jam terdengar sekelompok warga menolak. Warga beserta kepala desa, MUI, polisi, TNI dan Satpol PP berbondong-bondong menyambangi makam Ahmad. Dan kemudian dibongkarlah makam itu oleh warga.

Mereka beralasan bahwa jenazah orang musyrik haram untuk dikuburkan. Apalagi ditanah yang mereka huni. Kejadian ini memang bukan tanpa sebab.

Warga sendiri berpatokan pada Peraturan Daerah (Perda) yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Dalam Perda tersebut mengatur pelarangan terhadap segala jenis aktivitas  penganut Ahmadiyah. Hal ini juga menanggapi pernyataan MUI bahwa Ahmadiyah adalah aliran yang menyimpang dari Islam. Sehingga mereka dapat dikatakan Musyrik. Karena menolak abi Muhammad sebagai nabi terakhir bagi umat muslim.

Jelas, tindakan seperti ini tak boleh terulang lagi. Penganut Ahmadiyah adalah Warga Negara Indonesia, juga punya hak yang sama. Hal seperti ini adalah cerminan dari ketidak berdayaan negara dalam membendung rasa frustasi rakyatnya.

Lain cerita dengan apa yang menimpa penganut Ahmadiyah di Bandung, Jawa Barat. Peristiwa ini ada di Ibu Kota negara, Jakarta. Kejadian ini juga cerminan bahwa negara bukanlah wadah yang representatif bagi rakyatnya. Sebab, rakyat hanya dijadikan alat kepentingan politis semata.

Tepatnya di kampung kolong jalan tol Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Hidup ribuan keluarga yang tinggal di daerah sempit dan kumuh. Mereka kebanyakan adalah warga pendatang. Yang berprofesi sebagai pemulung, sopir bajaj, pedagang bakso, kuli bangunan dan buruh kasar.

Mereka telah hidup di kampung kolong selama berpuluh tahun. Yang selama ini kebanyakan dari mereka belum memiliki identitas diri. Sehingga mereka sering disebut sebagai warga liar.

Bagaimana tidak, penduduk kolong jalan tol ini tak diakui sebagai warga Jakarta. Sebab tanah yang mereka tempati adalah milik Jasa Marga, yang kini diatasnya berdiri jalan tol menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta. Walikota hanya memberikan izin untuk tinggal sementara ditempat tersebut.

Tanpa adanya kepastian relokasi, warga sering mendapat ancaman penggusuran. Hal inilah yang setiap saat mengganggu mereka. Hidup layak dengan tempat tinggal yang permanen hanya menjadi mimpi bagi mereka.

Pengakuan mereka sebagai warga negara hanya berlaku disaat pemilu berlangsung. Diluar itu mereka tetap disebut sebagai warga liar. Bagaimana tidak, ketika salah seorang warga kampung kolong ada yang meninggal. Mereka selalu menemui kesulitan dalam hal administrasi.

Kelurahan tidak mau memberikan keterangan bahwa mereka adalah warganya. Sehingga surat kematian pun tidak bisa diterbitkan. Hal ini memberikan dampak pada pengunduran waktu penguburan jenazah. Baru pada malam harinya setelah administrasi diurus, jenazah baru bisa dikebumikan.

Hal ini terjadi karena warga dari kampung kolong tidak memiliki RT dan RW. Mereka harus berupaya keras meminta belas kasih dari ketua RT atau RW kampung tetangga. Alhasil, segala macam perizinan pun dapat dipenuhi.

Ahmad Mulyadi dan warga kampung kolong adalah hasil dari kegagalan kemerdekaan Indonesia. Jikalau Founding Father masih hidup, mereka akan menangis haru mendengar ini semua. Pengorbanan jiwa dan raga mereka menghasilkan sebuah kegagalan.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *