Tabir-Tabir Manusia

No Comment Yet

Tentu, manusia dimana pun, terlahir di dunia ini sama. Tuhan pun mengiyakan. Katanya, diciptakanlah segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada langit-bumi, siang-malam, hujan-kemarau, laki-laki dan wanita. Jelas, Tuhan tidak pernah bilang kalau dia menciptakan kaya dan miskin.

Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas-red) pun begitu, dia lahir sama seperti anak-anak buruh bangunan. Tidak mungkin ketika keluar dari dalam kandungan Ani Yudhoyono, Ibas membawa emas dan senapan. Yang dia bawa sama seperti bayi kebanyakan; tangisan, darah, dan ari-ari.

Hakikatnya memang seperti itu, manusia tercipta di muka bumi ini sama. Hal ini kemudian yang menginspirasikan beberapa pergolakan akan perjuangan Hak Asasi Manusia ini terjadi. Dari magna cartha, revolusi Perancis, sampai pada revolusi bolshevik di Soviet tahun 1917.

Hakikat manusia yang sama inilah yang kemudian melahirkan semboyan pendidikan untuk semua. Konstitusi Indonesia pun bilang begitu, setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang sama. Keadaan objektifnya, kiranya tidak.

Ibas mengenyam pendidikan sampai ke tanah seberang, Singapura dan Australia. Baginya mengenyam pendidikan tinggi adalah sebuah keharusan. Dikarenakan basis ekonomi keluarganya yang termasuk dalam kelas elite eksekutif. Bapaknya yang seorang presiden tentu mendapatkan gaji 8-9 digit, dari sinilah Ibas bisa mengenyam pendidikan tinggi kelas internasional. Pengetahuan yang berkualitas sepadan dengan pekerjaan yang kelak didapat.

Tentu hal ini berbanding terbalik dengan anak buruh bangunan. Buruh bangunan hanya memperoleh upah dalam seharinya tidak sampai 8-9 digit. Di Jakarta saja contohnya, buruh bangunan yang bekerja musiman dalam membangun sebuah rumah, hanya mendapatkan upah Rp.15.000 perhari. Ketika kita melihat kondisi pendidikan hari ini, tentu dengan hasil yang sebegini anak buruh bangunan tidak mampu berpendidikan tinggi. Bahkan sampai ke negeri seberang. Sehingga yang ada, anak buruh bangunan akan meneruskan pekerjaan ayahnya, sebagai buruh bangunan.

Pendidikan dalam ruang sekolah sejak zaman kolonial Belanda sampai hari ini dimaknai sebagai perubah status sosial. Output dari sekolah tawarannya hanya satu, bagaimana memperbaiki kelas sosial. Inilah realitanya.

Kalau zaman kolonial Belanda ruang sekolah dipaksa untuk menghasilkan tenaga pribumi yang cakap dalam hal tulis-menulis dan pekerja ahli. Hal ini guna membantu perekonomian kolonial Belanda yang pada waktu itu membutuhkan tenaga administratur, juru ketik, dan buruh. Input pendidikan yang diberikan pada kaum pribumi pun hanya sekedar baca, tulis dan hitung. Tidak lebih, kalau lebih hal ini bisa merugikan kolonial Belanda tentunya.

Nah, beda lagi di zaman fasis Jepang. Input pendidikan pada masa ini malah meniadakan baca, tulis dan hitung. Sekolah pada masa ini seluruhnya berlangsung di alam terbuka. Yang diajarkan ialah beragam jenis bela diri dan baris berbaris. Output dari pendidikan pada masa ini ialah menghasilkan tentara guna membantu Jepang memenangkan perang. Alhasil, selain bela diri yang didapat, mereka yang bersekolah dimasa ini berwatak fasis.

Setelah menengok beberapa tahun kebelakang, ada apa dengan sekolah hari ini. Tentu, sekolah hari ini menghasilkan profesi yang beragam. Hal ini didukung dari kondisi perekonomian Indonesia tentunya. Dalam Perguruan Tinggi (PT) pun menawarkan jurursan-jurursan yang kelak akan menghasilkan profesi yang baru dalam dunia kerja.

Sekolah pertanian tidak lagi menghasilkan petani yang handal dibidangnya. Begitupun dengan sekolah keguruan. Bisa dilihat dari apa yang dihasilkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Lebih banyak lulusan IPB yang terjun dalam dunia perbankan ketimbang sesuai dengan displin keilmuannya yaitu pertanian.  Sama halnya dengan UNJ, dengan dibukanya jurusan baru yaitu, Fire Protection. Ruh keguruannya pun menghilang. Adanya pembukaan jurusan baru, semata demi mencari keuntungan material.

Hal ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dibilang oleh Piere Bourdieu menyoal pendidikan dan habitus dominan. Menurutnya budaya elite begitu dekat dengan budaya sekolah, sehingga anak-anak dari kelas menengah bawah (dan terlebih lagi kelas pekerja tani dan pekerja indsutri) hanya dapat memperoleh sesuatu yang diberikan kepada anak-anak dari kelas-kelas yang terdidik-gaya, selera, kecerdasan- dengan usaha yang sangat keras. Pendeknya, berbagai sikap dan kemahiran yang kelihatannya natural dalam anggota kelas terdidik, dan yang lazimnya diperkirakan datang dari mereka, tepatnya karena sikap dan kemahiran itu adalah budaya kelas tersebut.

Sekolah-sekolah yang ada sekarang tak lebih merupakan peninggalan dari budaya kolonialisme dan imperialisme. Yang telah menciptakan jurang stratifikasi sosial di Indonesia begitu dalam. Sehingga hal ini sampai masuk ke dalam ranah pendidikan atau sekolah. Maka dari itu, mereproduksi para pekerja handal baik tani ataupun buruh, dengan mempercayai sistem pendidikan hari ini, niscaya tidak akan berhasil.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *