Aku (Mau) Mati

3 Comments

Sejak bertemu orang tua itu selepas pulang kantor kemarin, aku punya niat untuk mati. Alasan pertama, atasanku adalah supplier masalah buat semua pegawainya, termasuk aku-karena aku asisten pribadinya aku yang paling banyak disodor masalah darinya. Dengan kepala botak dan badan gemuk pun kumis dan jambang yang hampir melebat sepinggir mukanya, dia cerminan manusia perfeksionis yang tidak melewat kesalahan sekecil apapun. Kedua, sejak kecil, aku dianugerahi Tuhan dengan sifat introvert dan inferior yang akut, makanya aku lebih suka sendiri untuk hal apapun. Sayangnya, aku kini tak mampu lagi menahannya sendiri dan belum juga aku lepas dari penjara jiwa ini.

Aku ingat betul apa yang dikatakan orang tua itu. Awalnya, saat keluar kantor, aku mampir ke warung untuk membeli rokok di seberang jalan. Karena aku lihat lalu lintas jalan yang masih padat, kuputus untuk sejenak merokok di warung tersebut. Tak lama, datanglah si orang tua tersebut.

“Permisi, boleh saya tahu apa saya masih hidup?” tanyanya.

“Hah?” kagetku.

“Iya,saya mau tanya. Apa saya masih hidup?”

“Haha, iya, bapak masih hidup. buktinya bapak mengajak bicara saya, bapak masih bernafas, bapak juga terlihat bugar. Artinya anda masih hidup.” sinting betul ini orang tua, pikirku.

“Oh, jadi hidup itu bagaimana organ-organ dan fungsi biologis tubuh masih berfungsi?”

“Kurang lebih seperti itu,”

“Apa beda hidup sepeda motor dengan hidup manusia? Mereka punya pola yang sama seperti anda sebut. Bernafas, walau beda zat. Manusia dari gas menjadi gas dan air, sepeda motor dari air menjadi gas.” Makin aneh si orang tua bicara.

“Entahlah, yang kutahu sewaktu sekolah ya itu yang aku papar barusan,”

“Setalah anda bekerja di kantor, setelah anda tidak sekolah. Anda tidak lagi hidup? oh bukan maksud saya anda tidak lagi mencari tahu apa itu hidup?”

Aku mulai tidak bisa menjawab. Aku mulai agak risih atas kehadirannya. Aku pikir aku lebih baik meninggalkannya, masalah yang diberikan atasanku sudah lebih dari standar masalah yang diberi Tuhan kepada manusia, aku tidak mau ditambah dengan ocehan omong kosong dari orang tua ini. Maka aku langsung meninggalkan warung tersebut. Hampir seratus meter aku berjalan tiba-tiba si orang tua meneriakiku.

“Hey, bagaiamana bila kita mati saja?”

***

Makanya hari ini aku tidak berniat berangkat kerja. Aku bangun jam 9. Hari ini niatku untuk mati sudah bulat. Setelah mandi dan sarapan sekadarnya, aku pergi ke toko bangunan untuk membeli sebuah tali tambang yang besar buat perangkat kamatianku.

Aku ingin mati dengan cara gantung diri. Aku tak punya pilihan, mau menggores pergelengan dengan pisau atau silet, aku takut darah. Mau lompat dari dari gedung, aku takut ketinggian. Mau menunggu ditabrak mobil di jalanan, kurasa tak mungkin. Kotaku hampir setiap waktu dipenuhi kemacetan. Bila aku menghadang mobil yang kutemu malah aku diteriaki orang, dimaki, atau paling parah aku dipukuli. Mati tidak, malah bisa jadi cacat.

Kutetap aku akan mati pukul 12 siang, tidak boleh lebih. Aku tidak ingin melihat siang, aku tidak boleh melihat pergantian pagi ke siang karena hidku memang tak pernah mengenal siang.

Pukul 11.00, semua sudah siap. Tali tambang yang pagi kubeli sudah kuikat erat di penyengga atap kamarku. Sudah kuperhitungkan betul bahwa aku tidak mampu meloloskan diri dari kematian yang aku rencanakan ini. Tinggiku hanya 170 cm, aku buat ikatan gantung setinggi 2,5 meter. Aku mengikatnya di tengah kamar setelah semua benda-benda di kamarku ku letakkan dipojok jauh dari ikatan gantung. Ini supaya aku tidak melarikan diri dari mautku.

Sebelum menggantung diriku, aku mengenakan setelan biasa aku bekerja. Lengkap dengan sepatu yang telah aku semir, dasi, bahkan aku masih mengantongi telepon genggam di saku bajuku. Aku ingin mati bersama simbol-simbol yang berkaitan dengan kerjaku. Walaupun bukan satu-satunya faktor, tapi pekerjaanku punya porsi paling besar yang menentukan motivasi kamatianku.

Aku tak pernah punya semangat sebesar ini selama hidupku, ini menakjubkan. Aku sangat ingin mati.

Pukul 11.30 aku sudah siap untuk mati. Tapi kurasa setangah jam yang tersisa sangat lama berjalan, aku terus girang. Benar benar ada perasaan seperti menunggu penyerahan piala dunia, dan anda adalah kaptennya. Aku rasa aku memiliki rasa seperti Charles Puyol sewaktu menunggu trofi piala dunia kemarin di Afrika Selatan setelah melumat habis Belanda.

“Bila terus begini aku bakal mati kegirangan bukan karena gantung diri,” pikirku. Tapi, aku benar tidak bisa menahan kegirangan ini. Ini benar menakjubkan buatku, ini yang pertama.

Aku putuskan untuk membuang waktu sedikit. Aku mengambil buku gambar, crayon, dari laci mejaku. Aku menggambar. Aku juga tak tahu menagapa tiba-tiba aku ingin menggambar. Aku memang suka gambar, lukisan, poster, tapi aku jelas tidak bisa menggambar. gambarku hanya sebatas gedung, kotak, persegi dengan garis-garis tebal. Jalan yang membesar dibawah, tak lupa dengan marka jalannya, kotak, persegi, juga dengan garis tebal. Sesekali aku ubah sedikit gedung-gedung ciptaku, miring, kubuat distorsi pada ukurannya, walau tetap kotak, persegi, dan dengan garis tebal.

“Aku akan menggambar gedung, kotak, persegi dengan garis tebal.”

Aku mulai menggambar. Lima menit kemudian gambarku selesai. Kulihat masih ada 25 menit waktu tersisa sebelum kematianku, maka kubalik lagi buku gambar itu, kumulai lagi menggambar. Kali ini kubuat sedikit distorsi pada gedung ciptaanku, aku tidakmembuat dua jendela pada gambar gedung, aku buat satu saja yang berukuran besar. Ternyata lebih indah dilihat. Gedung besar dengan jendela besar, gedung kecildengan jendela besar juga terlihat unik. Aku terus menggembar hingga mendapat empat halaman penuh gambar.

Waktu hanya tersisa 10 menit. Aku segera siap, siap menuju bangku kayu yang telah kuletakkan di bawah ikatan gantung. Sebelumnya aku merapih setelanku, tak lupa aku memakai wewangian, layaknya ingin berangkat ke kantor.

Pukul 11.55 aku putuskan naik ke podiumku. Aku pikir waktu lima menit cukup untuk sakaratul maut, dengan begitu matiku tidak akan melewati pukul 12.00. kuperbaiki kerah bajuku, kukencang ikat pinggangku. Aku tersenyum, senang tak terkira.

Aku mulai memasukkan kepalaku ke lubang ikatan gantung, sambil memastikan bahwa aku tidak bisa melarikan diri dari mautku. Kupegang sisi lubang ikatan gantungnya. Kucengkaram erat. Sedikit ambil kuda-kuda untuk siap melompat sambil menendang bangku. Aku siap mati.

KRIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNGGGGGGG, KRIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNGGGGGGG !!!

Telepon genggamku berbunyi, aku lihat jam menunjukan pukul 12.57. aku mengangkat telepon tersebut dengan perkiraan tak akan mengganggu rencana kematianku pun sebagai pemberitahuan kepada si penelepon bahwa aku akan mati sebentar lagi.

“Heh Goblok, dimana kamu? Kenapa batang hidungmu belum muncul juga di kantor,” suara dari telepon itu.

“Tapi pak, saya mau mati, jadi saya tidak bisa menemani bapak,”

“Terserah kamu mau mati atau apapun. Ini proyek berharga milliaran dollar. Kamu yang mengetahui betul bagimana kita bisamengambil tender ini. Cepat ke kantor untuk mengurus semua persiapan.”

“Saya tidak bisa pak, saya mau mati sekarang juga.”

“Bila kamu tidak datang saya yang akan membunuhmu! Cepat ke kantor sekarang juga tolol!”

“Tapi, saya benar ingin mati sekarang, saya sudah berada di gantungan tinggal lompat sambil menendang bangku tempat saya berdiri sekarang, beberapa saat kemudian saya akan mati.”

“Heh goblok, kamu saya bayar buat bekerja untuk saya. Bukan buat mati goblok!”

“Tapi pak, saya benar ingin mati sekarang, saya tidak peduli apapun lagi. Maaf”

“Baiklah bila itu inginmu, saya akan segera ke rumahmu, dan membunuhmu sekarang juga! Dasar tolol!”

“Tidak usah pak, saya akan segera menuju kantor,”

Sial! Ada saja hambatan. Aku hanya ingin mati! Aku tidak mau usaha kematianku yang sudah kurancang sedemikian rupa hancur di tangan atasanku yang brengsek. Sudah cukup dia punya otoritas atas hidupku, tapi tidak buat matiku. Brengsek!

Sesampai di kantor si brengsek itu langsung menyuruhku mempersiapkan bahan-bahan presentasi untuk di Riau. Ia menyuruhku ini, ia menyuruhku itu. Benar brengsek si bajingan ini.

Aku akan pergi bersama atasanku seminggu di Riau buat membuat kesepakatan proyek jual beli kayu di hutan Riau. Aku bekerja di perusahaan kertas yang besar di negeri ini. Perusahaan ditawri harga murah, atas kayu-kayu yang dipasoknya. Awalnya kupikir ini kayu curian, atau paling tidak ilegal, tapi atasanku mana peduli, yang dia tahu: dari proyek ini akan datang untung besar buat dia, buat perusahannya.

Akhirnya aku berkompromi. Kupikir menunda satu minggu rencana kematianku ketimbang dirusak si brengsek itu tidak jadi masalah besar. Aku putuskan segera sampai di rumah nanti aku akan langsung mati, tanpa pengecualian.

***

Satu minggu di Riau telah terlewati dengan rasa dongkol yang makin menjadi-jadi atas atasanku. Saat pesawatku tiba di Bandara, tanpa berpamit dengan atasanku aku bergegas menuju rumah, aku tak sabar melanjut niatku buat mati.

Sampai di rumah, sama sekali tidak ada yang berubah dengan posisi bangku, ikatan gantung, bahkan buku gambar dan crayon masih berserak sebagaimana aku tinggal seminggu kemarin. Aku tatap tajam tali ikatan gantung itu. Aku bayangkan dia meliuk-liuk menjerat aku yang sedang mengaguminya, aku melayang dibawanya hingga ke kursi. Aku merasa tidak bergerak sama sekali, tali gantungan itu yang terus aktif mengajakku ke pintu mati. Dia yang mengalungkan sendiri lubang gantungannya ke leherku.

“Oke, untuk kedua kalinya aku siap mati!”

Aku ambil lagi kuda-kuda untuk melompat sambil menendang kursi.

Brukkkk! Kursi itu jatuh, aku sudah tergantung! Aku rasakan lalu lintas nafasku terhenti, aku rasa nikmat yang belum pernah kurasa. Nikmat menuju kematian. Aku sebenarnya meronta, kesakitan, tapi karena semua sudah kubuat sedemikian rupa agar aku tak bisa lari dari matiku maka lama-kelamaan rontaku tak menemu hasil. Aku lemas, bahkan untuk membuat aku terjaga aku tak sanggup, mataku tertutup. Aku mati.

“Bangun! Bangun!” sebuah suara menyuruhku. Samar-samar kulihat siapa yang bersuara. “Bangun! Bangun! Bangun!” terus menerus suara itu menyuruhku.

“loh kamu sudah mati juga?” aku akhirnya menyadari wajah yang menyuruhku. Ia sahabat lamaku, Jihan namanya.

“Apa? Kamu belum mati! Bodoh! Untung aku tidak terlambat masuk ke kamarmu. Jadi kamu masih bisa tertolong.”

“Jadi aku belum mati?”

“Belum! Apa yang membuatmu berpikir untuk mati?”

“Ah! Brengsek. Kenapa tak kamu biar saja saya mati!”

“Apa katamu? Sebanyak apapun masalah yang kamu dapat, seberat apapun tak akan mampu mengalahkan apa yang sedang aku alami saat ini.” Jihan membentak.

Dan seketika saya manut. saya dulu pernah jatuh cinta dengannya. Kami pernah menjalin hubungan, lima tahun. Hingga akhirnya dia lebih memilih suaminya sekarang ketimbang saya.

“Seperti biasa! Dia selalu merasa bahwa dia lah yang harus jadi pusat. Dia yang harus selalu diperhatikan oleh semua orang.” kataku dalam hati.

“Suamiku selingkuh! Dan akan memiliki anak dari perempuan lain.” Ujar Jihan sembari menangis.

Sebenarnya, sampai sekarang aku masih menyimpan perasaan terhadapnya. Makanya, setiap dia ada masalah dia selalu datang padaku. Dan aku benar harus terus menerus bertoleransi terhadap apa yang dia perbuat terhadapku-meninggalkanku dan memilih lelaki lain. Aku tak bisa melawannya. Dia sendiri merasa seperti tidak punya rasa bersalah apapun dengan pergi dan datang seenaknya kepadaku. Seakan aku memang dilahirkan sebagai pos pengaduan di pusat perbelanjaan yang memang bekerja untuk melayani pengaduan pelanggan. Sialnya, dia benar tahu memainkan perannya terhadapku “Brengsek! Kanapa dia tidak bisa datang lima menit saja sebelum aku benar-benar mati.” Hatiku bertanya. “Tapi aku benar tidak bisa mencampakannya.”

Hampir tiga jam dia menceritakan suaminya yang selingkuh lagi. Ceritanya benar detil, bahkan dia memulai dengan menceritakan awal pertemuan dia dengan suaminya. Bukan pada pokok permasalahannya. Seakan aku tidak tahu apapun. Padahal, setiap dia bermasalah dia pasti mendatangiku. Entah bercerita tentang perlakuan kasar yang diterima, atau tentang main gila suaminya

“Kali ini aku benar tidak tahan atas kelakuan suamiku”

“Lantas apa maumu?”

“Boleh aku sementara tinggal disini? Aku benar tidak punya ide untuk melakukan apapun.”

“hhhmmmm,”

“Terima Kasih. Kamu memang benar lelakiku.”

“Kalau memang aku lelakimu kenapa tak menikah saja denganku. Sial” bisik hatiku.

***

Hampir tiga bulan Jihan tinggal di rumahku, tiga bulan juga aku harus terus menerus hidupku diperasnya untuk mendengar semua keluhnya. Tanpa perlawanan. ia berkeputusan meninggalkan rumahku karena suaminya lebih memilih perempuan yang diselingkuhi ketimbang Jihan. Kemudian suaminya minta cerai. Jihan sendiri lebih memilih pulang ke tempat orang tuanya, di Wonogiri. Entah apa rencananya, karena dia benar-benar terpukul. Sebenarnya aku siap saja menikahinya, namun karena memang dia hanya menganggapku sebagai folder yang berisi tumpuk keluh kesahnya jadi dia tidak berniat sedikitpun buat menjadikanku pendamping hidupnya.

Selepas dia pergi, aku menjalani kembali hidupku. Niatku buat mati perlahan sirna, karena menyadari  bahwa banyak manusia yang punya lebih banyak motivasi buat mati ketimbang aku tapi tidak melakukannya. Aku diajari lebih mensyukuri hidup, aku diberitahu untuk lebih mencintai hidup ketimbang sebelum-sebelumnya.

Walaupun tidak ada sedikitpun yang berubah, atasanku tetap mencak-mencak kepada semua pegawainya. Hidupku juga tanpa passion sama sekali, tapi dari hidup yang  telah kualami aku diajak untuk mencintanya.

“Katanya mau mati, tidak jadi?” atasanku menanyakan.

“Tidak pak. Kalau saya mati, siapa yang bakal dapat ocehan bapak setiap hari?”

“Brengsek kamu!”

“Kau yang lebih brengsek! Memperlakukan pekerja layaknya budak.” Suara hatiku menentangnya.

Namun tetap saja, semua motivasi matiku tak hilang, mungkin  hanya kesempatan saja yang belum diberi oleh Tuhan. Toh, semua orang akan mati nantinya. Tinggal tunggu tanggal mainnya. Walaupun sebenarnya hidup tak lebih baik dari mati.

Satu sore, selepas pulang kerja, sesampaiku di depan rumah aku bertemu kembali dengan orang tua yang menjadi agen sosialisasi kematian waktu itu. Dia nampak sedang duduk sambil merokok tepat di depan rumahku. Awalnya aku tidak menyadari kehadirannya, hingga ia memanggilku.

“Hey kau!”

“Loh! Bapak yang waktu itu ketemu di dekat kantorku kan. Kok bisa sampai disini?” tanyaku heran. “Apa mau mengajakku mati lagi?”

“Buat apa?”

“Ya, tidak tahu. Bapak mau mati kan?”

“Tidak.”

“Kenapa? Waktu itu Bapak mengajakku mati bersama”

“Aku dan Kamu sudah Mati!”

Anggar Septiadi

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *