Telos Bukan Tales

2 Comments

 

esensi kehidupan adalan telos tentang kehidupan itu sendiri

“ Ada yang menggelisahkan ku akhir-akhir ini,” ungkap Paijo.

“ Apa itu?” tanya Nyoto.

“Apa ini, apa arti semuanya. Ini, itu,” terang Paijo.

“Semuanya apa sih?” Nyoto semakin penasaran. “ Kenaikan biaya perkuliahan?” tambahnya.

“Kamu tahu, hidup, cinta, kematian, kaya dan miskin, semuanya,” ujar Paijo.

Nyoto melemparkan pertanyaan balik, “Apa yang membuatmu berpikir bahwa memang ada yang bermakna?”

“Sebab harus begitu. Kalau tidak hidup ini hanya akan menjadi..” jawab Paijo.

“Apa?” kata Nyoto.

“Ah, aku membutuhkan sebotol anggur merah beserta bir,” pinta Paijo.

Kemudian mereka berdua melangkahkan kaki menuju toko kelontong penjual minuman keras. Dalam perjalanan, Paijo terus menuangkan kegelisahan kepada Nyoto. Paijo menerangkan, bahwa di dalam kehidupan ini, pasti manusia mempunyai telos.

“Biji jambu ini juga mempunyai telos,” terang Paijo. Sembari memungut jambu yang ditemui di jalan dan kemudian mengarahkan jambu itu tepat ke wajah Nyoto. Pohon jambu itulah yang menjadi tujuan yang dimaksudkan. Kucing mempunyai telos, anjing, burung, mereka mempunyai telos. “ Di Bogor banyak telos,” ungkap Nyoto. “ Telos itu tujuan internal yang harus dicapai,” ujar Paijo. Paijo menambahkan, ini sudah dipikirkan sejak lama oleh Aristoteles. Manusia itu mempunyai telos, itu kata Aristoteles. Telos merupakan bagian dari struktur kenyataan. “ Di rumahku ada telos gak ya. Kira-kira aku layak tidak punya telos?” tanya Nyoto.

Mereka membeli dua botol anggur merah, satu botol bir, lima bungkus kacang dan sekotak coklat. Belum jauh melangkahkan kaki kembali menuju kampus. Tepat di depan pemakaman umum  yang lokasinya bersebelahan dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Tiba-tiba mereka berdua bertemu dengan Ibu Sujinah, pengagum berat St. Agustinus.  Seorang filsuf yang menjadi tokoh penting dalam perkembangan Kristen di barat.

“Hai bu, bagaimana acara pemakamannya? Mohon maaf kami berdua baru mendapatkan berita itu siang ini,” sapa Paijo.

“Ya, begitu. Hanya dihadiri delapan orang. Dan Petrick Angel, sahabatnya. Menangis histeris sembari memeluk nisannya,” jawab Sujinah.

“Duh lucunya anak ibu. Berapa umurnya bu?” tanya Nyoto.

Sujinah menjawab,” Yang guru lima tahun dan wartawan delapan tahun.”

“hah.” Ungkap Nyoto, sembari menggaruk-karukan kepalanya.

Kemudian mereka berdua meninggalkan Ibu Sujinah dengan Nyoto yang masih tercengang dengan pernyataan yang dilontarkan Ibu Sujinah. Di dalam perjalanan menuju kampus nyoto terus memegang kepalanya, sembari mengetukkan kepalanya dengan sedotan plastik.  Paijo memberi penjelasan kepada Nyoto, menurut Aristoteles, telos manusia adalah kebahagiaan. Inilah hal yang diperdebatkan oleh filsuf-silsuf lain sepanjang sejarah manusia. “ Bagaimana mengukur kebahagiaan dengan menjadi seorang guru atau wartawan?” tanya Nyoto.

Mereka berdua berhenti di samping gedung Ki Hajar Dewantara, tepat di depan pelataran Bank BNI cabang UNJ. Ditaruhnya plastik berisi minuman dan makanan oleh Paijo. “Ayo dong jo di buka,” pinta Nyoto. Paijo kemudian membuka plastik berisi campuran anggur merah dan bir. Jadilah, mereka dua orang mahasiswa pemabuk, yang sedang asik tenggelam bersama minuman keras di bawah terik matahari yang siang itu begitu menyengat.

Telos dan subjektivisme

“ Astagfirullah,” keluh seorang mahasiswa ketika melihat Nyoto dan Paijo. “ Apa yang sedang teman-teman lakukan?” tanya Idris, seorang aktivis mesjid yang ingin menarik tunai uang tabungannya. Ini hari senin, alangkah baiknya teman-teman berpuasa dan memperbanyak ibadah.  Ini apa, bau. Tambah Idris, sambil menunjuk-tunjuk ke arah kantong plastik berwarna hitam dan gelas plastik milik mereka. “ Ini orang mirip ustaz Ali, yang ada di Islam KTP itu,” bisik Nyoto dengan perlahan kepada Paijo. “ Kami berdua disini sedang mencari tujuan hidup,” jawab Paijo. “ Tujuan hidup itu berserah diri kepada Nya. Hidup hanya untuk mencintai Nya. Itu saran ane bang,” ujar Idris. “ Dan, manusia hanya mempunyai tujuan hakiki dalam hidupnya, yaitu mati,” tambahnya.

“ Maaf bang, kalo ane sok tahu. Itu saran ane. Asalamaualekum,” Idris kemudian memutar langkahnya kembali menuju kampus. “ Tu kan bener apa kata aku. Dia mirip sekali sama Ustaz Ali,” canda Nyoto. Kemudian Paijo berkata dengan dirinya sendiri. Apa yang dikatakan pria tadi persis dengan apa yang dikatakan oleh St. Agustinus. Bahwa telos hidup adalah untuk mencintai Allah. Dan bagi seorang eksistensialis abad ke-20 seperti Martin Heidegger, telos manusia adalah hidup tanpa penyangkalan terhadap keadaan manusia yang sebenarnya, khususnya kematian.

Seketika Paijo terbangun dari duduknya dan melangkahkan kaki mengejar Idris. “ Hei mas, tunggu dulu,” pinta paijo kepada Idris. Idris berhenti, “ Ada Apa Lagi?” tanyanya. “ Mas belajar dimana tentang itu semua. Aku sedang mencari seorang bijak yang mengetahui tujuan hidup ini,” ungkap Paijo. “ Setau ane, abang pergi aja ke lantai paling atas perpustakaan.  Tepat di atas puncak orang itu berada,” jawab Idris. Tanpa banyak pikir, Paijo langsung berlari menuju tempat yang Idris maksud. Dia meninggalkan Nyoto sendirian.

Paijo yang berpergian tanpa menggunakan alas kaki terus mengejar kebingungannya itu. Gedung perpustakaan yang begitu ramai dan aspal hitam dilahap Paijo tanpa kenal menyerah. Lebih dari sekali Paijo mendapat ejekan dari orang yang melihatnya. Dan kakinya penuh goresan serta luka, tetapi dia disanalah orang bijak yang selama ini menjadi tujuannya berada.

Dan ternyata, seorang bijak yang ditujunya sedang duduk dengan kaki tersilang. “ Oh, seorang bijak,” kata Paijo. “ Saya mengahadapmu untuk menanyakan apa rahasia hidup itu.”

“Oh, ya rahasia hidup,” kata seorang bijak. “ Rahasia hidup itu adalah seliter minyak.”

“ Seliter minyak?” Saya datang dari bawah ke atas dengan berpanas-panasan untuk mencari tujuan hidup, dan anda hanya berkata seliter minyak!”

Seorang bijak mengangkat bahu, “ Jadi mungkin bukan seliter minyak.”

Seorang bijak itu mengakui bahwa merumuskan telos kehidupan bukan merupakan hal yang sulit. Kemudian Paijo bergegas turun dan kembali menemui Nyoto. “ Dari mana aja Jo. Ketemu telos?” tanya Nyoto. Paijo menjawab, “ Ah sial. Kok dihabisin semuanya. Coklatnya juga lagi. Sini, bagi dong.” Kemudian nyoto memberikan coklat itu sembari berkata, “ Hidup itu sekotak coklat penuh coklat”. “ Apa? Kau tau tentang Chomsky?” ujar Paijo yang tak menyangka bahwa selama ini Nyoto pun telah berfilsafat.

Terdapat perbedaan memang antara telos kehidupan. Dimaksudkan untuk apakah manusia itu dan tujuan-tujuan khusus seseorang di dalam hidup. Dia ingin menjadi apa, serta apa menjadi apa.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *