Didaktika 304

2 Comments

Seorang ilmuwan Robert Mitchel dalam bukunya Political Parties mengatakan bahwa munculnya oligarki adalah mustahil untuk dihindarkan. Cepat atau lambat sebuah organisasi yang dibangun diatas demokrasi pasti terperangkap kedalamnya. Bahkan Amerika Serikat yang terkenal karena demokrasinya pun tidak luput dari bahaya laten oligarki.

Dapat dibayangkan bila di negara AS yang mengaku pemerintahannya paling demokratis saja tidak dapat lepas dari lingkaran setan oligarki, lalu bagaimana dengan sebuah miniatur “pemerintahan” yang bernama Opmawa (Organisasi Pemerintahan Mahasiswa)? Sebuah miniatur yang pada awalnya iklim pluralitas dan wacana demokrasi kritis serta partisipan dalam berdemokrasi masih coba diperlihatkan.

Lalu, secara perlahan seiring berjalannya waktu sebuah tatanan sosial dalam berdemokrasi di kampus mulai berubah. Arah menuju demokrasi untuk semua dibelokkan menjadi demokrasi oligarki yang berujung pada pembatasan partisipasi mahasiswa. UNJ sebagai salah satu kampus yang memakai sistem pemerintahan mahasiswa pun tak terlepas dari sisitem tersebut. Hal ini bisa dilihat dalam sistem pemilihan ketua Opmawa di UNJ. Berbagai syarat yang cukup sulit di penuhi untuk menjadi kandidat ketua BEM semakin membenarkan sebuah teori yang dinamakan Hukum Besi Oligarki (The Iron Law of Oligarchy). Dari syarat-syarat ketakwaan hingga bukti sertifikat hanya membuat segelintir orang untuk bisa duduk sebagai kandidat untuk mencicipi kursi empuk ketua BEM UNJ. Para mahasiswa yang sudah mengantongi berbagai syarat ini mulai meneguhkan jati dirinya sebagai politisi kampus

Secara bertahap tapi pasti arena politik kampus kini dikuasai oleh sekelompok orang. Jati diri demokrasi mulai di kikis, tak jarang saling sikut diperlihatkan demi kepentingan golongan. Para politisi kampus terpilih ini disadari atau tidak membentuk suatu kelompok yang ekslusif.

Sayangnya, klaim diri sebagai representative mahasiswa tidak membuat mereka mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan dari kampus yang tidak berpihak kepada mahasiswa. Manuver-manuver politik dimainkan dengan sangat cantik ketika masa-masa pemilihan.

Sistem demokrasi ala oligarki ini begitu kuat mengakar sehingga membuahkan oligarki informasi. Hanya segelintir orang yang mendapat informasi jelas. Pengerahan massa untuk kepentingan golongan sering dilakukan, sehingga sering terlihat bila ada sebuah aksi demonstrasi banyak massa yang tidak mengetahui akar permasalahan yang diangkat. Pada akhirnya aksi massa hanya dijadikan sebagai alat dari golongan yang sedang berkuasa.

Sudah cukup jelas gambaran Robert Mitchel untuk memahami keadaan politik yang sedang berlangsung baik dilingkup negara maupun kampus. Pada akhirnya Robert Mitchel menegaskan oligarki tidak dapat dihindarkan. Oligarki hanya dapat dikurangi sekecil mungkin dengan pengawasan yang ketat.

Muncul pertanyaan baru. Bagaimana bisa mengawasi dengan ketat bila saja ada “perselingkuhan” antara lembaga legislatif (pengawas) dengan lembaga eksekutif (pelaksana)? Terlebih Trias Politica sebagai jalan untuk roda pemerintahan tidak dibangun secara menyeluruh. Sedikitnya kita sudah punya pandangan bagaimana keadaan Opmawa sekarang dan nantinya pasca pemilu. Semuanya tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Selamat mengambil sikap…!!!

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *