Pendidikan dan Kebutuhan Kapitalisme*

8 Comments

Judul                    : Marx and Education

Penulis                 : Jean Anyon

Penerbit               : Routledge Press

Tahun Terbit     : Desember 2011

Halaman             : 115 halaman

Anyon mengajak guru, murid, dan orang tua di Amerika untuk memiliki determinasi atas buruknya kondisi pendidikan. Bisakah Indonesia?

Sudah jauh-jauh hari ahli pendidikan revolusioner Brazil Paulo Freire mengingatkan bahwa netralitas terhadap pendidikan adalah sebuah kenaifan. Pendidikan, secara keseluruhan memang digunakan sebagai alat atas upaya menjaga eksistensi kelompok dominan. Lewat kurikulum, metode pengajaran, hingga sistem produksi guru diyakini Freire meciptakan manusia-manusia yang siap menyokong konfigurasi kelompok dominan.

Pendidikan tidak hadir dengan lmu pengetahuan yang tidak berkepentingan. Lewat sekolah, kepentingan menjaga eksistensi kelompok dominan gencar dilakukan. Atas pendangan tersebutlah, paradigma terhadap pendidikan pada akhir 1970-an memiliki dinamika. Lewat pendekatan sosiologis, khususnya perspektif Marxis, ahli-ahli seperti Michael Apple, Pierre Bordieu, Henry Giroux, Paulo Freire memulai analisis sosiologi pendidikan.

Ahli-ahli sosiologi pendidikan ini tidak sepakat bahwa yang diajarkan pada siswa sekolah sebagai pengetahuan objektif, melainkan pengetahuan yang mengandung dominasi budaya, yaitu pengetahuan yang disusun melalui proses selektif yang memasukkan kepentingan tertentu dan membuang yang lainnya.

Karena banyak menggunakan Marx dalam menganalisis proses pendidikan, para ahli sosiologi pendidikan sepakat –walau tidak sepenuhnya-menjadikan ekonomi kapitalis sebagai kelompok dominan. Ada tiga ide utama Marx yang digunakan dalam mengjewantahkan silang sengkarut dunia pendidikan: kapitalisme sebagai sumber utama sistem sosial, ekonomi, dan ketidakmerataan pendidikan.

Dalam kapitalisme, relasi kelas-kelas ekonomi (Borjuis-Proletar) berpengaruh kuat atas kondisi realitas manusia. “The Mode of Production material life conditions the social, political, and intelectual life process in general. It is not the consciusness of men that determines their being, but on the contratry, their social being that determines their consciousness,” (Marx:1859).

Dengan kondisi tersebut, maka segala tindak tanduk manusia didasari atas basis materialnya, dalam hal ini adalah ekonomi. Pada saat yang sama kelas ekonomi yang memiliki materi yang tinggi-kapitalisme-turut mengontrol kondisi sosial untuk tetap menjaga keberlangsungan eksistensinya.

Cara mengontrolnya dilakukan oleh bagian-bagian yang merepresentasikan kapitalisme: pemerintah, media , dan institusi pendidikan. mereka memproduksi ide dan keyakinan-ideologi- yang melegitimasi dan mendukung  kapitalisme. pun kapitalisme yang paling mengeruk hasilnya. Ideologi ciptaan kapitalisme salah satunya ditemukan di dalam sekolah. Dimana sekolah diyakini sebagai institusi pencetak manusia. Kapitalisme dengan kuat menancapkan dominasinya di atas sekolah, demi menjaga dominasinya

Makanya, atas analisis terhadap relasi-relasi yang melingkupi realitas pendidikan, pendidikan tidak bisa dipandang secara netral sebagai media produksi, dan reproduksi ilmu pengetahuan saja. Malah, kenyataan di atas menunjukkan bahwa pendidikan digunakan untuk mengkonfigurasi bagian-bagian yang menunjang kapitalisme itu sendiri.

Sekolah dan kelas sosial

Didasari atas keyakinan pendidikan yang digunakan untuk mengkonfigurasi kepentingan-kepentingan kapitalisme, Jean Anyon Professor di bidang kebijakan pendidikan dan sosial dari Universitas New York mulai menulis Marx and Education. Anyon mengakui tertarik atas isu-isu pendidikan yang disingkap secara struktural karena mengklaim generasinya (1960-an) adalah generasi pemberontak.

Dalam Marx and Education, Anyon mengemukakan temuan-temuan hasil penelitiannya terhadap lima kelas lima di Sekolah Dasar dengan latar belakang ekonomi yang berbeda; dua sekolah kelas pekerja; satu sekolah kelas menengah; satu sekolah kelas profesional; dan satu sekolah elit eksekutif.

Walau secara prosuderal kelima sekolah tersebut sama, tetapi Anyon mendapati fakta bahwa masing-masing sekolah merepresentasikan kelas sosial dalam pembelajaran dan konsepsi pengetahuannya. Dari perbedaan tersebut tercermin pekerjaan –pekerjaan yang akan dan bisa murid lakoni pada masa depannya.

Di sekolah kelas pekerja, murid-murid diberikaa metode mekanis dalam pembelajarannya. Guru menjelaskan, dan murid harus menerima secara utuh, tanpa kritisme. Murid harus mencatat dan mengusai apa yang diberikan guru, makanya pembelajarannya lebih menekankan kepada prosedur mentaati langkah-langkah. Murid hampir tidak diberi ruang untuk berekspresi.

Fenomena ini tercermin dengan kuat pada pelajaran matematika. Ada satu kejadian dimana guru menyuruh untuk membuat sebaua diagram dengan membuat garis, lalu membuat nomor pada tiap titik, dan kemudian menghubungkan antar titik yang dibuat.

Saat itu ada satu gadis yang menyela guru dalam memberi perintah, bahwa ia dapat membuat diagram tersebut lebih cepat dari langkah-langkah yang diberitahu guru. Si guru tersebut kemudian marah “No, you don’t; you don’t even know what i’m making yet. Do this way, or i’ts wrong.” Bentak guru tersebut. Di sekolah kelas pekerja ini Anyon juga banyak menemukan guru yang berkata dan bertindak kasar kepada murid untuk membuat disiplin kelas.

Dengan cara menghapal, ketiadaan apresiasi terhadap murid, dan kotrol disiplin yang ketat, sekolah kelas pekerja memang merepresentasikan mekanisme kerja dari buruh-buruh murah. Dan murid pun dipersiapkan untuk menjadi buruh murah selanjutnya.

Di sekolah kelas menengah,  nilai jadi tolak ukur murid. Murid dipacu untuk untuk mendapat nilai bagus ketimbang sekolah kelas pekerja yang lebih mengutamakan cara-cara prosedural. Walau tidak seketat sekolah kelas pekerja, guru masih menerapkan kontrol. Malah arahan-arahan guru membuka sedikit ruang bagi murid untuk berekspresi, walau tidak diutamakan.

Nilai–nilai murid pada sekolah kelas menengah diyakini berisi informasi, fakta, pengetahuan. Makanya mendapat nilai tinggi menjadi tujuan untuk kemudian diakumulasikan demi mendapat perolehan-perolehan yang menguntungkan bagi murid kelak di kemudian hari; seperti mendapatkan pekerjaan, akses masuk ke perguruan tinggi.

Proses pembelajaran tersebut, kata Anyon juga berpengaruh pada kebutuhan kelas pekerja menengah. Yakni dengan pemberian sedikit ruang untukmengambil keputusan, pemahaman terhadap konsep, dan dapat dinilai secara numerik.

Di sekolah kelas profesional, murid diberi ruang bebas untuk mencipta ide, dan konsep-konsep baru secara. Tugas-tugasnya berupa buah pikir dan ekspresi individual. Murid diminta untuk menjelajah lebih jauh atas konsep yang sudah ada ditambah imajinasinya. Tugasnya bisa berupa tulisan atau bentuk kerajinan.

Dalam mengontrol kelas guru lebih longgar terhadap murid. Guru biasa bernegosiasi dengan murid dalam mengambil keputusan. Kemampuan negosiasi ini kelak dibutuhkan murid dalam pekerjaannya kelak seperti konsultan, desainer, pemilik media yang banyak melibatkan kreatifitas dan pengambilan keputusan.

Di sekolah elit profesional, murid dituntut untuk lebih sekedar berekspresi, yakni untuk memiliki kemampuan analisis intelektual. Murid secara berkelanjutan diminta untuk menanggapi sebuah masalah, membuat produk intelektual yang logis dan memiliki nilai akademis. Tujuan utama dari menganalisis masalah tersebut adalah untuk mengkonsepkan aturan yang mencakup banyak elemen dan kemudian digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Di dalam kelas murid punya otonomi penuh, mereka bebas melakukan apapun. Para guru selalu berpesan bahwa murid harus bisa mengontrol dirinya sendiri atas dasar aturan rasional dan disiplin berpikir. Dengan kemampuan tersebut, murid kelak diharapakan mampu menjadi stakeholder yang memiliki kontrol terhadap diri sendiri serta keharusan mengendalikan orang lain atas sistem yang dibuat dengan tanggung jawab.

Kebijakan, Ekonomi-Politik

Dari temuan di lima sekolah tersebut Anyon makin memperjelas bahwa kemampuan, keahlian, ilmu pengetahuan yang didapat pada sekolah berkorelasi langsung atas kebutuhan ekonomi kapitalisme. Sayangnya, atas klasifikasi tersebut muncul diskriminasi kelas sosial yang makin ekstrim.

Konstelasi pendidikan dan ekonomi politik jelas tergambar pada situasi ekonomi Amerika Serikat pada 2000-an. Kala itu, kondisi perekonomian Amerika mulai linglung dengan dibanjiri mobil dan produk-produk elektronik dari Jepang dan Korea. Kamar dagang, dan pebisnis Amerika menyalahkan sistem pendidikan di Amerika yang tidak bisa menciptakan manusia-manusia yang mampu berkompetisi global.

Dengan tanggap, pemerintah Amerika membuat standar pendidikan yang tinggi dengan meningkatkan seleksi murid secara nasional. Presiden Bush kala itu malah mengeluarkan kebijakan No Child Left Behind guna mereformasi sitem pendidikan Amerika Serikat. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan kognitif dan teknologi demi mendorong perekonomian.

Padahal, Buat Anyon kebijakan-kebijakan pendidikan yang diharap memajukan kondisi ekonomi nasional adalah upaya sia-sia. Masalah ekonomi ada pada peningkatan ekonomi itu sendiri. Adalah mubazir meningkatkan pendidikan tanpa meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat itu sendiri.

Kondisinya justru makin memprihatinkan ketika diberlakukan kebijakan tersebut. Pintu masuk terhadap lembaga pendidikan yang makin diperketat secara finansial, dan akademik ditambah peningkatan ekonomi masyarakat malah menimbulkan konflik kelas yang makin meruncing.

Kebijakan pendidikan seharusnya memberi akses penuh bagi masyarakat untuk mendapat pendidikan hingga tingkatan tertinggi, bukan malah memberlakukan aturan seleksi yang ketat. Karena dalam hal ini pendidikan jutrsu harus bertujuan untuk masyarakat kelas bawah untuk menaiki tangga sosial, bukan malah membenamkan mereka.

Gerakan Bermula dari Sekolah

Demi mencapai keadilan sosial, dan meredam konflik kelas, juga meruntuhkan dominasi kapitalisme dalam Marx and Education Anyon juga menawarkan cara untuk membuat perlawanan. pertama, dengan mengaplikasikan praktek neo-marxis di kelas. Ini berguna untuk mendorong kesadaran politik murid dalam bersikap terhadap isu-isu kontemporer.

Semisal, murid diajak membaca, berdiskusi, dan menulis tentang bagaimana sistem pendidikan nasional menciptakan diskriminasi terhadap ekonomi,  ras, gender.  Pada tingkat selanjutnya bagaimana suprastruktur, kebijakan menciptakan kondisi ketidakadilan tersebut.

Kedua, Anyon berusaha mendorong sekolah menjadi pusat gerakan untuk transformasi sosial. Guru bisa menggunakan Orang tua, murid sebagai agen perubahan. Selain itu, para aktifis sosial turut diikutsertakan dalam memperluas gerakan tersebut. Dari semua elemen tersebut kegiatan seperti diskusi, kampanye, dan provokasi atas kepentingan bersama digencarkan.

Ketiga, keterlibatan langsung atas elemen tersebut di dalam aksi-aksi protes yang nyata. Walau Anyon tidak berharap banyak atas hasil dari gerakan tersebut, tetapi buatnya ini akan berguna khususnya buat murid untuk menjadi bekal  dalam kerja-kerja perubahan sosial selanjutnya.

Di Indonesia sendiri-walau tidak secara keseluruhan-kondisi pendidikan menyerupai apa yang digambarkan Anyon. Yakni tentang pembentukan murid guna mengkonfigurasi kebutuhan kapitalisme, hingga kebijakan-kebijakan pendidikan yang makin menjauhkan masyarakat atas pendidikan.

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), otonomi perguruan tinggi, pendidikan entrepreneurship belum menjadi solusi atas kondisi pendidikan nasional. Kebijakan tersebut hanya mencerminkan sifat reaksioner dari pemerintah Indonesia. Tawaran Anyon tentang sekolah sebagai pusat gerakan mungkin bisa jadi tawaran yang baik. Walau dengan kondisi Indonesia tentu akan butuh kerja ektra keras demi mewujudkan perubahan sosial tersebut.

*Diterbitkan di Koran Jakarta pada rubrik Perada Jum’at, 2 Maret 2012

Anggar Septiadi

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *