Tetap Sebuah Mainan

348 Comments
Rilis: Juni 2010Produksi: Disney/PixarSutradara: Lee UnkrichPenulis: John Lesseter, Andrew Stanton, Michael Arndt (screenplay)

Pemain: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cussack, Ned Beatty

 

Andy Davis telah berumur 17 tahun dan siap menjadi seorang mahasiswa. Sebagaimana lelaki yang beranjak dewasa, Andy juga mulai belajar meninggalkan masa kecilnya. Ia mulai dunia barunya di dalam kedewasaan. Pun, sebagaimana seorang yang berangkat menuju dewasa, ia meletakan spontanitas, keceriaan kanak-kanak, keluiwesan di balik pintu aturan, kekakuan kedewasaan. Termasuk juga mainannya.

Dengan latar belakang inilah John Lesseter kembali menggarap sequel animasi terbaik sepanjang masa-ada di peringkat tujuh daftar film terbaik sepanjang masa versi IMDB– Toy Story. Pada sequel yang ketiga, Lee Unkrich yang pada sequel sebelumnya berposisi sebagai co-Director, kini dipercaya memegang penuh kendali sutradara.

Setelah jeda lebih dari satu dekade, Toy Story 3 masih bercerita tentang petualangan Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cussack), Mr. and Mrs. Potato Head, Rex, dan segerombolan mainan lain di rumah Andy Davis.  Namun, karena Andy yang kini sudah beranjak dewasa, dan harus meninggalkan masa kecil termasuk mainannya, maka pertualangan kali ini bukan lagi tentang mainan layaknya mainan untuk anak kecil.

John Lesseter-beserta semua punggawa di balik layar-nampaknya tahu betul bagaimana plot cerita yang mendukung lanjutan dari sequel-sequel sebelumnya. Di Toy Story 3 John berhasil menghadirkan dunia nyata, yakni sebuah kedewasaan yang tak mungkin dicegah semua orang. Makanya, karakter kedewasaan seperti; gertakan, pengorbanan, kepercayaan bahkan egoisme gamblang ditonjol disini.

Film dibuka dengan adegan flashback masa lalu Andy yang sedang bermain dengan mainannya. Sementara itu Andy hanya punya waktu tiga hari sebelum berangkat menuju Universitas tempat ia kuliah nanti. Maka, ia perlu memilah barang-barang apa saja yang harus dan berguna untuk dibawa ke universitas kelak.

Niat awal Andy adalah menyimpan semua mainannya ke loteng, dan menyisa Woddy untuk dibawa bersamanya ke universitas. Namun, terjadi kesalahpahaman dengan ibu Andy yang mengira semua mainan untuk dibuang. Menyadari halini, Woody yang tersisa berniat menyelamatkan teman-temannya. Hingga pada akhirnya. Mereka semua terdampar di tempat penitipan anak, Sunnyside.

Petualangan mulai disini, saat masuk Sunnyside, mereka disambut meriah oleh Lotso (Ned Beatty), seekor beruang beraroma stroberi sekaligus pemimpin mainan di Sunnyside, dan mainan penghuni Sunnyside lainnya. Awalnya, gerombolan Toy Story kecuali Woody sepakat untuk tinggal di Sunnyside, karena mereka merasa telah dibuang Andy. Hingga akhirnya Woody yang tetap bersikeras untuk kembali ke rumah Andy sepakat untuk meninggalkan teman-temannya.

Dalam upaya melarikan diri, Woody justru bertemu dengan Bonnie (Emily Hahn) anak pemilik Sunnyside, dan terbawa hingga ke rumahnya. Dirumah Bonnie, Woody bertemu Chuckles (Bud Luckey) yang ex-Sunnyside. Chuckles juga teman Lotso dulu, ia bersama Lotso, dan Big Baby-tangan kanan Lotso di Sunnyside-merupakan maianan milik Daisy, seorang gadis kecil. Karena kejadian itu pula Lotso menjadi seorang ‘diktator’ di Sunnyside.

Chuckles bercerita bagaimana kondisi di Sunnyside dengan sistem yang dibuat oleh Lotso. Di Sunnyside ada sistem pengkelompokan, dari yang Balita, hingga yang diatas lima tahun. Nah, biasanya, mainan-mainan kecil, dan lemah diletakkan di ruang Balita. Karena Balita biasanya lebih spontan, tak karuan, pecicilan. Mengetahui hal itu, Woody berniat menyelematkan teman-temannya.

Benar saja, hari pertama di Sunnyside bagai neraka bagi gerombolan Toy Story, buntut Rex copot, bagian-bagian tubuh Mr. Potato Head berantakan, Buzz jadi cemong terkena cat di sekujur tubuhnya. Hingga pada akhirnya, Woody berhasil menemukan teman-temannya dan menyusun strategi meloloskan diri dari Sunnyside.

Kejar-kejaran antar geng Sunnyside dan gerombolan Toy Story tak dapat dihindar-disini Disney dan Pixar teruji kehandalannya. Dalam ketegangan ini Efek grafis yang menawan, halus, dan terkesan real-terlebih versi 3d-dengan tetap mempunyai karakter. Maka tidak heran, bila memang film ini dinobatkan sebagai film animasi terbaik sepanjang masa.

Anggar Septiadi

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *