Banksy dan Kesakralan Seni

No Comment Yet

Daniel, Warga Hackney, London mencak-mencak lantaran daerah rumahnya kini mulai dipenuhi mural. Ia marah bukan lantaran Hackney justru jadi kumuh, tak rapih, melainkan karena dari mural tersebut mulai banyak pendatang yang ingin tinggal di Hackney demi menikmati mural tersebut. Daniel tahu siapa yang membuat grafiti tersebut ialah Banksy, seniman jalanan yang menggunakan teknik stensil dalam melancarkan aksinya membuat mural.

Daniel yang lahir dan besar di Hackney bersama saudara lelakinya, resah karena ulah Banksy justru membuat harga sewa rumah di Hackney makin tinggi dan karena harganya yang melambung tinggi, ia jadi tidak mampu membeli satu buah rumah di daerah ia lahir dan hidup ini. Dan ia yakin Banksy jadi satu penyebab utamanya.

Makanya, ia ingin Banksy menyudahi aksinya. Ia mengirim surat elektronik ke website Banksy: banksy.co.uk. ia tak mencoba langsung menemui Banksy karena itu adalah hal yang sia-sia. Banksy seniman jalanan kawakan yang terkenal seantero Inggris, bahkan hingga luar Inggris lewat karyanya berupa mural, seni instalasi, dan beberapa kali melakukan aksi mengubah lukisan-lukisan sakral di museum.

Atas ulah dan muralnya, Banksy jadi buron yang dicari polisi Inggris. Ia banyak menelurkan karya fenomenal: mural God Save the Queen, gambar ratu Inggris yang sedang melakukan hubungan seks, gambar Ronald McDonalds bersama Mickey Mouse yang menggandeng seorang anak perempuan busung lapar.

Surat Elektronik Daniel dikutip di beberapa Buku Banksy, salah satunya Cut it Out vol 3, 2005. Dalam Cut it Out, Banksy memang tidak menjawab keluhan Daniel secara langsung, ia hanya menjelaskan Teori Jendela Pecah James Wilson dan George Kelling sebagai tesis yang ingin dilawannya.

Mungkin, Banksy cuma ingin menolak teori Jendela pecah dan dampaknya. Karena teori dari kriminolog ini membuat New York mendisiplinkan warganya pada tahun 1985 lewat kebijakan pembersihan kota oleh Rudi Giulani, Wali kota saat itu. Pemerintah kota New York berniat mengurangi tingkat kriminalitas dengan cara meminimalisir mural, grafiti, dan coretan dinding.

Teori Jendela Pecah menganalogikan bila ada satu jendela rumah pecah dan dibiarkan begitu saja, orang-orang lain yang melihatnya akan tertarik untuk memecahkan jendela lainnya. artinya, keadaan tidak tertib, atau remeh temeh dalam skala kecil akan berubah menjadi skala besar bila dibiarkan dan dianggap normal. Buat para petinggi New York pembersihan kota atas mural jadi langkah awal untuk mengurangi kejahatan yang lebih besar.

Nampaknya Banksy Cuma sekadar ingin memberi chaos. Ya, semua aksi Banksy cuma ingin mebubuhi chaos atas stagnasi yang dibuat kelompok dominan lewat upaya stabilisasi masyarakat yang rentan mengebiri fakultas kemanusiaan manusia.

Namun, konfrontasi Banksy tak selamanya berjalan selaras tujuannya buat mendinamiskan ruang kota. Chaos yang diciptakan justru jadi mode baru, Hackey bisa jadi jawaban nyata bagiamana produksi seni Banksy justru dinikmati estetika saja. Bahkan, beberapa hasil seni Banksy telah dimiliki kolektor seni hingga Jenifer Lopez dengan banderol harga setinggi langit, walaupun secara langsung Banksy tidak menikmat hasilnya.

Bahkan, saking tersohornya nama Banksy, iPhone khusus membuat aplikasi tentang Banksy yang berisi hasil karya, news update, lokasi karya seni Banksy. Untungnya ia menolak copyright, bila tidak mungkin sudah jadi milliarder.

Theodore W. Adorno, salah satu anggota Mazhab Frankfurt berpendapat, semakin sering karya seni direproduksi, maka akan semakin terkikis nilai-nilai yang ingin disampaikan. Seni yang terlampau banyak direproduksi memang dilematis. Pada mulanya, gagasan, ide dan tujuan hadirnya karya seni tersebut bisa banyak diterima khalayak, namun dalam tingkatan selanjutnya internalisasinya hanya berupa perihal simbolik.

Yang menarik justru yang terjadi di Indonesia, dan Jakarta pada khususnya. Pemerintah Jakarta justru memberi beberapa ruang untuk mural-mural seperti: By pass Cawang, Terowongan Cawang, Terowongan Dukuh Atas, Terowongan Semanggi. Mural tersebut punya tujuan sama dengan niat Banksy sebagai upaya kritisme terhadap ketidakadilan. Tapi, bagaimana mungkin mengkritik pejabat yang korupsi lewat bantuan pejabat?

Alhasil, orientasi untuk merubah ketidakadilan melalui karya seni malah membuat karya seni menjadi tujuan akhir. Makanya, hari ini seniman lebih banyak berkutat pada value atas karya seni tersebut, bukan pada tujuan karya seni itu hadir. Satu mural Banksy, cukup bisa menjelaskannya. Gambar tikus dengan tulisan ”if Graffiti changed anything-it would be illegal” bila itu adalah legal maka tak akan ada yang bisa dirubah.

Indonesia-dalam satu sudut-hari ini memberikan kebebasan bagi tiap manusianya buat berekspresi. Mencipta karya seni yang dapat dinikmati massal jadi motif utama, entah lewat pameran, pargelaran, bahkan ruang kota yang telah dilegalisasikan. Mungkin pilihan Banksy adalah tepat: tetap menyumbunyikan identitasnya, paling tidak ia masih bisa menjaga dirinya sendiri untuk tidak direproduksi seperti karyanya. “Nobody ever listened me until they didn’t know who i as,” ujarnya.

Anggar Septiadi

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *