Jerat-Jerat Kapitalisme

No Comment Yet

Judul : GENEALOGI KAPITALISME, Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Ekspolitasi Kapitalistik
Penulis : Dede Mulyanto
Penerbit : Resistbook
Tahun : Januari 2012
Tebal : 284 halaman

Komodifikasi atas pasar, tanah, dan tenaga kerja hanyalah hayalan kapitalis yang rakus komodifikasi.Karl Polanyi

Kapital berupa kantor, pabrik, mesin, dan uang harus dipahami sebagai hubungan sosial eksploitatif. Oleh karena itu, kapitalisme bukan hanya sebagai sebuah ideologi ekonomi politik. Melainkan juga suatu kebudayaan yang bersumber dari kapital, yang dibangun dari hubungan sosial manusia.

 Inilah yang ingin disampaikan oleh Dede Mulyanto melalui Genealogi Kapitalisme; Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Ekspolitasi Kapitalistik. Realitas selama ini, juga seperti yang selalu diajarkan dalam bangku sekolah dan perkuliahan. Kita selalu diyakinkan oleh para ekonom borjuis, bahwa kapital adalah sesuatu yang bendawi, ‘sesuatu yang material’. Proses produksinya adalah proses antar sesuatu, bukan antar orang yang menyandang kategori tertentu di dalam struktur sosial.Kenyataannya tidak seperti ini.

Maka dari itu proses produksi menjalin berbagai macam kategori sosial tertentu yang bermakna dalam perekonomian kapitalis. Dede Mulyanto menggambarkan, pertama-tama kapitalis membiayai usahawan dengan cara menginvestasikan dananya atau, bahasa lebih tepatnya memberikan dana usaha. Si usahawan lalu menyewa atau membeli lahan dari para pemilik tanah, membangun pabrik-pabrik, belanja mesin, menjalin kontrak pembelian pasokan bahan baku dengan usahawan lain, serta mempekerjakan orang-orang yang dibutuhkan, mulai dari barisan manejer, peneliti, akuntan, ahli mesin, hingga buruh pabriknya. Sehingga dari lahan, pabrik, mesin, dan bahan baku yang sudah dibelinya dihasilkanlah barang atau jasa yang bisa dijual di pasar, dan kemudian mendapatkan laba. Jelas, semua urusan ini merupakan hubungan antar sosial.

Letak eksploitasi kapitalisme yang dibentuk melalui pranata tersebut adalah dimana ketika kapitalisme melakukan tindak komodifikasi. Antropolog Malvin Harris berpendapat bahwa salah satu ciri mendasar kapitalisme ialah komodifikasi hampir semua barang dan jasa, termasuk tanah dan tenaga kerja. Bagi kapitalisme, komodifikasi merupakan proses menjadikan sesuatu yang sebetulnya bukan komoditi menjadi komoditi.

Di dalam pasar kapitalis, tenaga kerja menjadi barang komoditi. Hal ini merupakan sesuatu yang unik dalam sejarah. Tenaga kerja bukan hakikatnya sebagai komoditi. Keunikan tenaga kerja sebagai komoditi golongan pekerja tidak terdapat pada masyarakat prakapitalis, termasuk masyarakat yang mengenal pasar sebagai pranata pertukaran. (halaman 19)

Dede Mulyanto membawa kita pada kondisi kapitalistik hari ini yaitu, sistem kerja outsourcing. Perusahaan-perusahaan regional bahkan sampai multinasional lebih memilih memperdagangkan tenaga kerja. Mereka memperoleh laba dari upah tenaga kerja, yang dipekerjakannya di perusahaan lain yang benar-benar memproduksi barang konsumsi.

Perusahaan tersebut biasanya berdalih dengan menjual jasa. Dengan kedok menjual jasa parkir, layanan keberihan, keamanan dan lainnya. Padahal yang mereka jual adalah tenaga kerja yang telah dikomodifikasi. Jadi, secara antropologis Dede Mulyanto menjelaskan, bahwa perekonomian kapitalis memerlukan suatu kondisi sosial yang khusus berupa terlembaganya jual-beli tenaga kerja. Max Weber juga menambahkan, bukan sekedar adanya orang-orang yang hidup dari menjual tenaga kerjanya, tetapi juga yang bisa dipekerjakan secara murah di pasar tenaga kerja merupakan sesuatu yang perlu guna mencipta kapitalisme yang sehat.

Dalam buku ini Dede Mulyanto juga memaparkan secara historis terciptanya golongan sosial yang hidup dari menjual tenaga kerjanya demi uang. Sehingga dinamika pemaknaan tenaga kerja yang hidup dari menjual tenaganya tidak terjadi secara begitu saja, tetapi diciptakan. Sehingga tabir kapitalistik yang sifatnya menghisap terbongkar.

Dalam menyingkap tabir pranata kapitalistik, Dede Mulyanto coba objektif dalam menilai kapitalisme. Hal ini terungkap pada apa yang pernah didengungkan oleh Joseph Schumperter bahwa keunggulan kapitalisme ialah ketegaran semangat dan militansinya dalam penolakan terhadap kemandegan. Kapitalisme senantiasa membawa orang yang berada di dalamnya untuk terus memperbaharui diri.

Sehingga di bawah kapitalisme tidak bisa ada sesuatu yang langgeng. Semua yang beku dicairkan, semua yang baru segera menjadi kuno bahkan sebelum menguap.Tidak ada ruang tersembunyi dari rengkuhan pasar yang senantiasa harus memperluas diri bagi komoditi yang diproduksi guna mengejar laba.

Kiranya buku ini membawa kita untuk meninjau ulang apa yang terjadi di tengah-tengah modernisme kehidupan. Sehingga yang kita lihat hari ini, terjadi pengalamiahan dan pewajaran atas ekspolitasi kapitalisme. Kian lebarnya jurang ketimpangan sosial ekonomi dianggap bukan produk sistem perekonomian, yang dimana sistem perekonomian harus diyakini sebagai sebuah pengorganisasian hakikat manusia yaitu, kerja.

Kasus Century, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan krisis ekonomi nasional-global yang sering terjadi. Sehingga membuat ribuan usaha kecil bangkrut, serta jutaan pekerja kehilangan pekerjaan dan hidup dalam kemiskinan. Tidak dianggap sebagai logika kapitalisme, yang membawa kita hanya pada pandangan bahwa itu semua hanya salah urus negara saja.

Sayang buku ini terbatas pada tidak adanya uraian mengenai kedudukan bankir, para pelaku spekulasi produk-produk finansial, dan sistem kredit kapitalis. Yang juga turut berperan dalam sistem ekonomi kapitalisme kekinian. Tapi, melalui buku ini Dede Mulyanto ingin menyampaikan bahwa melalui pranata eksploitasi kapitalistik, kapitalisme bukanlah sesuatu yang ilmiah.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *