Rahasia Hati

7 Comments

“Sin, Dino tadi aku lihat ngasi boneka. Wah-wah, dia masih aja tetep perhatian walaupun udah berkali-kali kamu tolak.” Tanya Mira, kawan sebangkuku.
“Kenapa si kamu nggga terima aja Dino? Orangnya kan baik banget, ramah, pinter.” Tanya anggi
Huh, mereka selalu saja bersemangat membicarakan Doni, “kalian saja yang pacaran sama dia! Udah ah, enggak usah dibahas, aku udah dijemput tu.” Didepan pagar sekolah seorang laki-laki berdiri bersandar pada sebuah mobil.
Laki-laki itu membuka pintu mobil, mempersilahkanku masuk. Perlahan aku memasuki mobil. Terdengar bisik-bisik Mira dan Anggi. “Gila ganteng banget tu cowo, gayanya juga keren. Siapa ya namanya? Apa hubungannya sama Sinta.” Suara ceriwis Mira kumat ketika melihat laki-laki tampan. “Gebetannya kali. Buktinya dia selalu nolak Dino.” Anggi menjawab
Aku hanya diam, menatap laki-laki itu yang telah duduk di kursi pengemudi. Aku beralih menatap teman-teman yang masih berbisik-bisik sambil mencuri lihat laki-laki yang duduk disampingku. “Teman-teman, aku pulang!”
“Ok. Dadah.”
***
“Sayang, bagimana sekolahmu?” Tanya ayah.
“Tenang saja, semua berjalan baik dan lancar.” Aku tenang menjawab.
“Bagus. Kalau pacar bagaimana? Sudah punya belum? Atau setidaknya punya gebetan kan. Beritahu Ayah, jangan sembunyi-sembunyi!” Tangan ayah mengacak-acak rambutku.
“Aku belum punya pacar, Ayah.” Aku diam sejenak. Bola mataku menatap langit-langit, “gebetan juga belum ada, Ayah.”
Ayah mendekatkan wajahnya, menatap mataku. “Ayah tahu kalau kamu berbohong. Ayo beri tahu, siapa gebetan kamu! Ayah penasaran seperti apa orangnya?”
Aku diam.
“Ya sudah kalau enggak mau memberi tahu. Sekarang sudah malam, kamu tidurlah! Ayah tidak mau jika harus sering membangunkanmu!” Untunglah ayah tidak bertanya lebih jauh. Sebelum beranjak dari sofa, ayah mencium pipiku. “Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak.”
“Selamat malam, Ayah.” Aku menjawab sambil setengah berlari menuju kamar, meninggalkan ayah seorang diri di depan televisi.
Ciuman ayah membuat dadaku berdegub kencang dan perasaanku bercampur aduk. Kuberitahu hal penting. Dia adalah ayah tiriku, menikah dengan ibuku diusia yang sangat muda. Umur ayah baru menginjak 21 tahun sementara ibuku telah berusia 40 tahun. Aku tidak pernah bertanya mengapa dia mau menikah dengan ibuku. Aku menyetujui pernikahan mereka dengan syarat, tidak ada yang boleh tahu dia ayahku.
Awalnya aku sempat khawatir dia menjadi ayah buruk mengingat umurnya masih muda. Namun khawatiran tersebut tidak terbukti. Justru sebaliknya, dia menjadi ayah yang sangat baik bahkan setelah ibu meninggal dua tahun lalu. Lebih dari ayahku kandungku sendiri yang kini mendekam dipenjara. Masalah justru timbul dari hatiku sendiri. Umur yang hanya berbeda tujuh tahun, fisik ayah menarik, serta kebaikan ayah membuat perasaan ini tumbuh. Jadi jangan menganggapku abnormal karena semua ini memang tidak normal.
***
“Sin, aku perhatiin kamu dari tadi murung. Ada masalah?” Dino menghampiri aku yang sedang duduk seorang diri di dalam kelas saat jam istirahat.
“Aku enggak ada masalah.” Aku menjawab tanpa melihat wajahnya.
“Bohong. Aku sudah kenal kamu dari SMP, jadi aku hapal banget kalau kamuu lagi sedih.”
Aku diam.
“Yasudah kalau kamu enggak mau cerita. Sin, hari minggu ini aku boleh main ke rumah kamu enggak?”
“Jangan pamanku enggak suka ada temen laki-laki yang berkunjung.”
“Sin, jangan berbohong denganku, kamu cuma tinggal berdua sama ayahmu.” Hal yang satu ini memang hanya Doni yang tahu sementara Mira dan Anggi hanya mengetahui bahwa Aku tinggal bersama Paman. Entah bagaimana caranya dia bisa tahu hal yang selama ini aku sembunyikan dari awal.
“Kali ini aku tidak berbohong. Ayah sedang pergi jadi aku tinggal berdua sama paman di rumah.” Aku menahan tangis. Ayah pergi, mungkin untuk selamanya.
***
Jam sekolah sudah habis, aku bersiap pulang. Dino menahanku tetap berada dikelas, ada hal yang ingin dibicarakan.
“Ada apa. No?”
“Tadi kamu jatuhin ini.” Dino menyerahkan sebuah surat yang sudah lecek. Surat yang membuatku gundah gulana.
Assalamu’alaikum
Anakku, aku akan pergi ke kampung tempat kenangan antara aku dan orangtuaku. Untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Maaf jika aku melakukan ini. Tadi pagi saat aku akan membetulkan lampu kamarmu. Aku melihat sebuah buku tergeletak di lantai, mungkin kamu menjatuhkannya. Aku memungutnya, ternyata itu buku harianmu. Maaf jika aku lancang membuka dan membacanya.
Anakku, sikapmu yang selama ini yang menyembunyikan keberadaaanku sebagai seorang ayah dari teman-temanmu kupikir hanya karena kau tidak menginginkan mereka mengetahui kau mempunyai ayah sepertiku. Dan pantas selama ini kamu selalu mengelak jika membicarakan siapa laki-laki yang kau sukai. Akhirnya aku tahu alasanmu menyembunyikanku sebagai seorang ayah dan akhhirnya aku tahu siapa laki-laki yang kau cintai itu.
Anakku, berapapun umurku, aku adalah suami dari ibumu. Aku sangat mencintai ibumu, dan yang tersisa darinya adalah kau, maka aku juga menyangimu, sebagai seorang anak dari istriku. Aku menjagamu seperti jika aku menjaga anak kandungku sendiri.
Ayah sudah menitipkan kamu kepada paman, kakak dari ayah kandungmu. Karena tinggal dialah satu-satunya keluargamu dan mudah-mudahaan dia dapat menjagamu dengan baik.
Maaf atas kesalahanku selama ini. Semoga jika kita bertemu lagi, kau dapat benar-benar merasakan kehadiranku sebagai seorang ayah. Tanpa perasaan yang lain. Aku harap kau menemukan cinta lain, yang tulus menyanyangimu. Sekali lagi maafkan aku.
Rudi
“Jadi ini masalah yang membuatmu sedih beberapa hari ini. Ayahmu pergi”
“Kamu sudah baca kan? Ayah pergi gara-gara kesalahan aku.”
“Sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri! Tabahkan hatimu!” Dino mengelus-elus rambutku, tatapan teduhnya seakan berusaha menenangkanku.
“Kamu enggak marah? Selama ini aku menolakmu karena hal ini.”
“Aku enggak marah. Aku enggak peduli siapa laki-laki yang kamu suka, aku enggak akan menyerah. Aku akan tetap sayang kamu.”
“Terimakasih”
Tangis yang kutahan sejak tadi, akhirnya pecah juga. Aku memeluk Dino, menangis sepuasnya di dadanya. Rasanya hangat.
***
Sejak kepergiaan ayah seluruh tubuhku lemas. Perasaanku sedang sangat kacau. Hari minggu ini hanya aku habiskan dengan menonton televisi sejak pagi.
“Sin, kamu sudah punya pacar belum?” Paman yang duduk di sampingku, menemaniku menonton sejak pagi tadi angkat bicara.
“Belum.”
“Hmm. Biar paman tebak alasannya. Karena kamu sudah menyukai ayahmu?”
Aku terkejut dan spontan menjawab, “Paman tahu dari mana?”
“Tadi siang Paman melihat-lihat kamarmu dan menemukan buku harianmu. Paman penasaran dan membacanya, hasilnya mengejutkan sekali.” ucapnya terdengar sinis. “Kalian sudah melakukan apa saja?”
“Apa maksud paman?” perlahan-lahan dadaku terasa panas.
“Umur kalian tidak berbeda jauh, kalian masih muda, jadi emosi masih sulit dikendalikan, hanya berdua di rumah, dia pernah menikah dan kau menyukainya. Jadi lengkap sudah.” Senyumnya seolah ingin menghina kami.
“Ayah adalah ayah terbaik yang pernah aku kenal, jauh lebih baik dari ayah kandungku, kakak paman yang bejat. Jadi jangan berpikiran kami berbuat mesum.”
“Jangan bohong. Tidak mungkin dia tidak menginginkanmu. Pantas ayahmu mengiginkanmu, kamu gadis terindah yang pernah kulihat.” Tangannya meraba tubuhku.
“Tidak, lepaskan!” Aku meronta dan berusaha melepaskan diri hingga terjatuh dari sofa, kepalaku membentur meja. Sebelum aku sempurna menutup mata, aku melihat sosok beringas ayah kandungku dalam wajah paman.
***
Perlahan-lahan cahaya memasuki retina mataku.
“Uhh,” hanya itu yang dapat kuucapkan setelah dapat melihat dengan sempurna.
“Nak, kamu baik-baik saja?” suara laki-laki yang tidak asing dan kurindukan terdengar.
Sosok itu terlihat jelas. Aku ingin bertanya banyak, namun aku hanya dapat berkata, “Ayah, aku ada dimana?”
“Kamu ada dirumah sakit. Kepalamu mengalami benturan hebat dengan meja.”
“Aku ingat. Paman akan…”
Tiba-tiba ayah memelukku. “Maafkan Ayah, seharusnya Ayah tidak meninggalkanmu.”
“Bukan salah Ayah, itu salahku.”
“Sudah lupakan saja. Aku sadar, Aku harus tetap berada disisimu sebagai ayahmu.”
***
Sepekan setelah kejadian itu, aku mulai mengiginkan kehadirannya sebagai seorang ayah. Aku sudah berani memperkenalkan ayah kepada teman-teman, tentunya dengan daftar panjang pertanyaan dari mereka. Kehidupanku perlahan berjalan normal, tanpa beban perasaan.
Saat ini aku berada di Taman Menteng bersama seseorang yang menjadi penyelamat hidupku. “Kok minggu kemarin kamu nekat datang, kan sudah aku beri tahu pamanku galak.”
“Kan sudah sudah ku beri tahu sejak awal, aku enggak akan nyerah. Pantang menyerah itu ternyata membuahkan hasil. Pertama, bisa tepat waktu nolonginkamu. Kedua, cuma dalam waktu seminggu ternyata aku bisa dapetin cinta cewek yang sangat aku sayang setelah beberapa kali ditolak. Sudahlah masalah itu tidak usah dibahas, biarkan berlalu.” Dino mengacak-acak rambutku.
Aku tersenyum. “Minggu besok, Ayah ingin bertemu kamu.”
“Wah pertemuan penting pertama dengan calon mertua.”
Aku mencubitnya. Kami menikmati hari yang cerah ini bersama-sama.

Jakarta, 2005
Untuk yang memulai belajar menulis.

Citra Nuraini

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *