Kitab-kitab Kuning Perpustakaan UNJ

10 Comments

Persis samping kanan pintu lift UPT perpustakaan Pusat UNJ di lantai dua, tergantung sebuah pigura seukuran kertas A4 yang menarik perhatian, berisi informasi penambahan buku tiap tahunya. Kaca piguranya sudah buram, pertanda sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah diturunkan. Dengan font yang cukup besar, dari jauh bisa terlihat apa yang tertulis, lebih kurang berbunyi “lima ribu buku untuk penambahan koleksi perpustakaan setiap tahunya”.

Sementara di lantai tiga, di antara deretan rak buku, raut putus asa menyelimuti wajah Udin, dengan berpeluh keringat ia mencari buku yang dicarinya, matanya teliti mengamati tiap-tipa rak buku, “belum ketemu juga, padahal sudah mencocokan dengan dengan katalog di komputer lantai I”, keluh mahasiswa semester enam ini menyeka keringatnya, AC yang menjadi penyejuk di lantai yang paling ramai disambangi ini sudah lama mati. Sudah umum pula terjadi kesalahan antara katalog dengan nomer buku yang tersedia di rak. “amburadul”, tambah , mahasiswa Jurusan Elektro Fakultas Tekhnik ini.

Kondisi inilah yang belakangan ini terjadi di perpustakaan pusat UNJ. Buku yang sejatinya sangat diperlukan mahasiswa dalam penunjang kuliah justru sangant minim, buku-buku yang tersedia sekarang pun kebanyakan buku terbitan lama, terlihat jelas tanpa perlu melihat tahun terbit yang tercantum di buku, indikator ini bisa dilihat jelas dari sampul lusuh dan kertasnya yang mulai menguning.

Parahnya kondisi terbelakang ini terus dibiarkan. Lain cerita untuk mengchasing gedung bagian luar agar terlihat tampak baru, UNJ royal merogoh kocek hingga miliaran rupiah, rektorat pun dinilai lebih menghamburkan uang mahasiswa pada alokasi yang sejatiya kurang bermanfaat dan kurang menyangkut kepentingan mahasiswa banyak. Satu contoh, tiap tahunya, satu miliar dihabiskan untuk acara Dies Natalis UNJ yang kian tahun kian mewah, bandingkan dengan anggaran penambahan buku perpustakaan tahun 2008 yang hanya lima ratus juta rupiah.

“Sudah dua tahun perpustakaan UNJ tak mendapat alokasi anggaran dari rektorat (red: PR II)”, ungkap Kepala UPT Perpustakaan UNJ, Joko Irianto saat ditemui di ruanganya. “Untuk tahun ini kita sudah coba mengajukan satu miliar untuk khusus pengadaan buku, tapi disetujui atau tidak itu tergantung dari PR II”, tambahnya. ia menambahkan dirinya tak bisa berbuat banyak dan pasrah dengan menerima banyak keluhan mahasiswa tanpa dukungan dana dari PR II.

Sungguh ironi, perpustakaan yang menjadi bagian  dari gambaran etalase kualitas sebuah perguruan tinggi, justru dengan pengelolaan serba terbelakang. Sebuah keniscayaan jika rektor dan pejabat kampus jarang berkunjung ke perpustakaan pusat, mereka memang berkunjung, namun sekadar lewat untuk urusan mereka, melantik doktor dan hajatan lainya di aula lantai I perpustakaan. Urusan mahasiswa? Itu nomor sekian.

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *