Pedagang Sekitar UNJ Mengeluh BBM Naik

273 Comments

 “ Apanya yang merdeka, semuanya kok malah dinaikkan,” Abdul Gani pedagang batagor

Menjelang 1 April sejumlah aksi berkumandang di titik-titik ibukota. Kebijakan pemerintah terkait kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) turut meresahkan masyarakat. Berbagai kalangan ikut turun aksi menolak kenaikan harga minyak bersubsidi  (BBM) dari 4500 rupiah per liter menjadi 6000 rupiah per liter.

“Pemerintah naikinnya kemahalan, jujur ya gak sanggup kalo naiknya segitu,” ujar Tasib, supir bajaj yang biasa mangkal di depan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kenaikkan BBM menjadi keresahan pedagang dan supir bajaj sekitar UNJ. Hal ini dianggap memberatkan, karena dapat berefek domino bagi harga-harga kebutuhan yang lain. Kenaikan Harga BBM ini sangat membebani rakyat. Dampak yang terasa kini adalah harga-harga barang lain ikut naik,  mau tidak mau para pedagang pun menaikkan harga dagangannya. Tercatat dalam survey didaktika 78,1 % pedagang akan menaikkan harga barang ketika BBM naik.

“Belom dinaikin ajah, barang-barang dagangan udah naik, mau gak mau ya kita naikin juga harganya,” tukas Amin Rais, pedagang somay di depan UNJ yang mengeluh atas kenaikan BBM menjelang april.

Walaupun harga minyak mentah Indonesia dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya masih tergolong murah, tetapi hal ini seharusnya diimbangi oleh kemampuan daya beli masyarakat yang masih rendah. Seharusnya pemerintah lebih melihat kebutuhan masyarakat yang kini semakin tinggi. Indonesia sebagai penghasil minyak mentah pun tidak mampu mengolah sumber daya alamnya sendiri, semuanya serba diolah oleh asing.

Hal ini yang kemudian yang menyebabkan kenaikan BBM di Indonesia selain alasannya kelangkaan minyak dunia. Indonesia minim Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengolah, padahal menurut  UU APBN pasal 7 ayat 6, pemerintah dilarang menaikkan harga minyak bersubsidi. Namun, undang-undang tersebut pun akhirnya dicabut. Kemerdekaan sudah berkibar selama 66 tahun di tanah pertiwi ini, akan tetapi kemerdekaan belum seluruhnya dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah.

 “Kita ini belum merdeka, apanya yang merdeka kalau sana-sini mahal Kemarin seenaknya ajah buat toilet seharga 2 milyar, sekarang main enaknya ajah naikin BBM,” tegas Abdul Gani ketika diwawancarai tim.

Sari Wijaya

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *