IDENTITAS?

6 Comments

    Judul Buku      : In The Name of Identity

    Pengarang       : Amin M., Ronny A.    

    Penerbit           : Resist Book

    Tebal                 :180 hlm

 

 

 

Peresensi: Irul

Dalam merumuskan dirinya, manusia tidak penah berdiri tunggal. Ia hasil dari kontruksi sosial yang kemudian aktif diseleksi oleh manusia. Sementara, hal-hal yang menyusun manusia bisa dibilang sebagai identitas manusia itu sendiri. Maka dalam identitas seseorang, bisa tercermin atas kontestasi sosial yang dialaminya; golongan, suku, ras, kelompok yang kemudian diwujudkan dalam karakter si manusia.

Walau bersifat dinamis, dalam satu sisi, manusia juga bisa menjadi representasi atas golongan, suku, ras, atau kelompoknya. Semisal, kita bisa tahu orang dari mana ia berasal dari gaya bicara, tingkah pola, hingga sifatnya.

Amin Maalouf, dalam In The Name of Identity novelis Perancis kelahiran Lebanon coba mengugkap bagaimana sebuah identitas kelompok ini direpresentasikan oleh manusia secara kolektif. Secara lebih khusus Maalouf berfokus atas identitas tersebut yang justru banyak menimbulkan konflik, hingga bencana kemanusiaan.

Bencana Hollocaust oleh pemerintahan Nazi nampaknya cukup banyak memperlihatkan bagaimana identitas jadi perihal utama munculnya kejahatan. Semangat anti-yahudi sudah tertanam jauh di bawah sadar, hingga tidak perlu dipertanyakan kembali oleh bangsa Arya. Bahkan anak-anak sudah punya semangat anti-Yahudi.

Atau perselisihan yang lebih ekstrem antara orang Turki dengan Kurdi yang  sama-sama muslim, walaupun mereka bicara dengan bahasa yang berlainan tapi tidak membuat perang diantara mereka menghasil darah. Ada juga Orang Tusti dan Hutu sama-sama katolik, berbicara bahasa yang sama, tapi tidak membuat mereka berhenti menyembelih satu sama lain.

Mengapa lewat identitas, manusia sering melakukan tindakan kekerasan? Karena buat Maalouf, identitas jadi pertautan, dan dipertaruhkan secara subjektif. Orang akan marah dan menimbulkan luka yang dalam saat agama, warna kulit, logat, bahkan cara berpakiannya diperolok, dihina. Karena hal tersebut merupakan pilihan sadar si manusia. makanya, konflik yang luas bisa saja terjadi karena hal yang sepele.

Konflik Ambon yang melibatkan warga asli yang berlainan agama ditenggarai oleh hal sepele. Konon dipicu oleh pertengkaran kecil antara supir taksi yang beragama Kristen dengan warga yang beragama Islam. dan semakin membesar karena ada korban yang terakumulasi menjadi dendam yang mendalam.

Namun, Maalouf menolak bahwa identitas adalah hal yang diberi sekali seumur hidup. Identitas terbangun dan berubah sepanjang kurun hayat seseorang. Konflik Dayak dengan Madura bisa dilihat atas perpektif tersebut. Kecemburuan sosial atas orang di pulau Jawa yang punya akses lebih ketimbang orang di pedalaman bisa jadi pemicu konflik yang dibangun atas nama identitas.

Mungkin, karena Maalouf memfokuskan kepada hal-hal yang konkret di lapangan, ia alpa menganalisis, ternyata konflik kemanusiaan juga terjadi secara struktural. Walaupun demikian,  dalam In The Name of Identity, Maalouf membawa kita atas cara pandang baru mengenai identitas yang digunakan sebagai simbol dasar atas konflik, pun sebagai pemicunya.

Maalouf juga sedikit mengingatkan untuk sedikit waspada atas pengunaan identitas, harga diri, agama, suku dalam tindak tanduk si manusia karena lewat identitas, manusia bisa melakukan apapun termasuk tindak kejahatan.


guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *