UNJ MISKIN KEAMANAN

1 Comment

 

 

 

 

 

 

 

suasana tidak kondusif, kampus bergeming.

Keamanan di UNJ semakin mengkhawatirkan dengan banyaknya kasus pencurian. Pihak Keamanan UNJ mencatat ada 47 kasus pencurian di UNJ selama Mei-Desember 2011.Salah satu faktor yang membuat UNJ tidak aman adalah sedikitnya personel kemanan yang dimiliki. Sekarang UNJ memiliki 82 petugas kemanan, setelah ditambah 10 orang. “Personel baru ditambah tahun 2011 setelah 4 tahun mengajukan penambahan personel ke pihak kampus,” kata Bambang Supriyadi, Kepala Kemanan UNJ. Belum lagi ditambah kasus yang tidak tercatat.

Untuk menciptakan situasi yang aman dan nyaman, idealnya UNJ memiliki 150 personel keamanan di 4 kampusnya. Karena, tugas kemanan harus menjaga kampus selama 24 jam, dan sesuai dengan proporsi kebutuhannya, yakni daerah yang rawan pencurian harus dijaga lebih ketat walau daerahnya tidak luas.

Sulitnya birokrasi di UNJ yang turut berperan dalam pengadaan penambahan personel menunjukan pihak kampus agak meminggirkan urusan kemanan. Padahal, dengan kondisi UNJ yang tidak kondusif membuat sivitas akademika resah menjalani hidupnya di UNJ. Rifki, mahasiswa Jurusan Manajemen 2010 salah satu yang resah, karena pernah kehilangan helm. “Seharusnya ada jaminan atas kemanan karena tarif parkir pun sudah naik,” ujarnya.

 Menanggapi hal tersebut, Taryono, Kepala UPT K3 (Kemanan, Ketertiban, dan Keindahan) menyatakan memang tidak ada jaminan untuk kehilangan, karena uang hasil parkir digunakan untuk infrastruktur seperti rambu, lampu, rantai pembatas jalan, dan perbaikan jalan.

 Taryono juga menambahkan situasi UNJ yang tidak kondusif ditambah dengan banyaknya pedagang kaki lima, anak jalanan, pengemis, dan pemulung di UNJ, padahal sudah ada larangan dari kampus. “Khusunya untuk pedagang kaki lima, karena sering buat kotor kampus,” pungkasnya.

 Pedagang kaki lima merasa betah karena sudah lama berjualan di UNJ dan merasa ‘direstui’. “sebenarnya saya tahu tidak boleh berjualan disini tapi saya kan sudah bayar uang keamanan setiap hari,” keluh pedagang yang biasa mangkal di lorong FBS.

 Keluhan pedagang diatas disikapi dengan dingin oleh Bambang, ia mengaku bahwa dirinya tidak pernah memerintahkan untuk melakukan pungutan. Bambang siap untuk menindak tegas bila ada anak buahnya yang melakukan pungutan terhadap pedagang kaki lima. “Kami selaku keamanan hanya bekerja sesuai dengan tugas dan kami sudah digaji sesuai dengan semestinya,” tegas Bambang

 Sulitnya birokrasi di UNJ ditambah koordinasi antar elemen kampus yang amburadul ternyata turut menciptakan suasana tidak kondusif di UNJ. padahal, sudah selayaknya kampus sebagai ruang akademik menciptakan situasi kondusif itu guna menunjang kehidupan sivitas akademika. Selain itu, perlu juga ditingkatkan peran aktif dari sivitas akademika dalam menciptakan suasana yang kondusif. “Karena ini adalah tugas kita semua,” ajak Bambang. (Hasan/Yudha/Yoga)

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *