Dusun Nisan

1 Comment

Apakah dusun Popoan akan menjadi nisan saat tak ada lagi yang mau menempatinya?

“Krek-krek”, terdengar denyit pompa besi dari kamar mandi umum di sekitar pepohonan kelapa.
Dari kamar mandi umum itu, terlihat seorang perempuan mengayuh pompa hijau berlumut hingga embernya terisi penuh air. Perempuan itu meraih ember dan mengangkatnya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mengengam erat tongkat yang berguna sebagai penopang tubuhnya. Dari sumur, dia berjalan tertatih-tatih tanpa alas kaki menuju sebuah rumah bambu bercat putih. Wajahnya berkeriput, rambut putih, tubuh membungkuk, itulah postur tubuh Darmin. Kebaya lusuh dan kain coklat menempel di tubuhnya yang telah berusianya 90 tahun. Air tersebut hendak ia dipergunakan untuk memancing pompa airnya agar dapat bekerja. Di usia tuanya dia masih harus bersusah payah mengerjakan pekerjaannya sendiri. Darmin tinggal seorang diri dirumahnya yang berukuran 4×5 meter.
“Anak-anaknya semuanya pergi merantau ke kota besar. Hanya sesekali mereka datang,” ujar Yanti, tetangga Darmin, sambil mengayunkan pompa.
Darmin merupakan salah satu dari beberapa penduduk Dusun Popoan yang berlanjut usia. Dusun Popoan terletak di Kelurahan Triwarno, Kecamatan Banyu Urip, Purworejo. Dusun yang dikelilingi sawah ini menjadi saksi para lansia berjuang hidup tanpa anak-anaknya. Masih ada beberapa penduduk yang seusia dengan Darmin. Ia memiliki sedikit penduduk, hampir semuanya lanjut usia.
Dari gapura pintu masuk desa, terdapat jalan setapak sepanjang tujuh meter yang membelah dusun. Jalan yang dibangun oleh warga secara gotong royong. Dengan menelusuri jalan setapak tersebut maka akan terlihat beberapa kondisi rumah-rumah yang dikelilingi pepohonan. Beberapa rumah terlihat berpenghuni. Beberapa rumah lainnya terbengkalai, kosong, setengahnya tahap pembongkaran, bahkan ada yang telah berubah menjadi pepohonan.
Lima meter dari kamar mandi umum, terlihat sebuah bangku panjang di bawah pepohoan kelapa. Seorang laki-laki terbaring di atasnya. Celana pendek di atas dengkul dan singleut putih melekat di tubuhnya. Rambutnya hitam bercampur uban, kumis tipis melekat diwajah keriputnya. Namanya Nasroh. Usianya memang tidak setua Darmin tapi nasipnya sama dengan Darmin. Dia tinggal seorang diri di rumahnya. Kepala Nasroh mendongkak ke langit yang semakin memanas.
Laki-laki ini sempat merantau ke Jakarta. Kawasan Pulo Gadung pernah menjadi tempatnya bekerja, di pabrik peleburan besi. Dia mengontak rumah di Cipinang Besar Selatan bersama istrinya. Setelah istrinya meninggal dunia, dia kembali kampung.
“Awalnya saya nyari penghidupan yang lebih baik di Jakarta tapi nggak betah. Emang si jadi petani disini kurang mencukupi kalau tidak ada pekerjaan lain,” tambah laki-laki berambut putih ini.
Nasroh menambahkan, ketika bermukim di Jakarta sawahnya yang hanya berukuran 0,3 hektare dikelola saudaranya. “sekarang si ngelola sendiri. Tinggal buruhin aja orang dari kecamatan tetangga. Mereka kan bukan daerah sawah,” ungkap laki-laki beranak dua ini.
“Waktu saya kecil keadaannya lebih ramai, sekarang dusun makin lama makin sedikit karena anak-anak yang baru lulus langsung pergi ke Jakarta,” ujar Laki-laki berumur 50 tahun ini.
Ini terjadi karena penduduk yang telah lulus Sekolah Menengah Atas pergi merantau ke kota besar terutama Jakarta. Merantau ke kota-kota besar telah menjadi kultur. Alasan utamanya karena pekerjaan sebagai petani tidak menentu, kadang hasilnya memuaskan dan kadang tidak. Selain itu bagi mereka Jakarta dan kota besar lainnya masih menyediakan lapangan pekerjaan bagi lulusan baru. Terutama bagi sekolah-sekolah kejuruan yang bidangnya seperti akuntan dan seketaris.
Matahari telah mencapai puncak. Tiba-tiba seorang perempuan berseragam putih abu-abu melintasi Nasroh. “Dia satu-satunya remaja yang ada disini,” tangannya menunjuk perempuan berseragam abu-abu itu.
Perempuan itu bernama Dian. Siswi kelas satu Sekolah Menengah Kejuruan ini, termasuk salah satu yang berniat ke Jakarta setelah lulus. “Saya masuk SMK biar cepet dapet kerja di Jakarta setelah lulus,” Dian bercerita sambil membersihkan sepatu hitamnya.
Kakaknya, yang terpaut umur dua tahun darinya, setelah lulus SMK langsung merantau ke Jakarta. Kebetulan, sang kakak langsung bekerja di Yamaha Musik. Sang orang tua tidak berkeberatan jika kedua anaknya merantau. “kata Ibu dari pada jadi petani yang hasilnya ngga tentu. Hasil panen kemarin saja cuma dapat 70%,” ujar perempuan berkulit putih ini.
Budaya merantau setelah lulus meninggalkan masalah sendiri bagi Dusun Popoan. Jika semua generasi muda meninggalkan dusun popoan ini dan generasi tua sudah terlelap, lalu siapa yang akan menghidupi dusun ini. Akhirnya dusun ini akan menjadi nisan.

Citra Nuraini

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *