Jebakan Hutang

1 Comment

Tolak hutang bersakit-sakit dahulu, pilih hutang maka bersakit-sakit kemudian.

“Yah pak, jangan diambilin dagangan saya,” ucap seorang wanita berumur sekitar 50 tahun.
“Loh, salah siapa lunas sampai tengat waktu. Saya kan sudah bilang konsekuensinya dari awal kalau belum lunas tepat waktu,” ucap seorang laki-laki bertubuh pendek berkemeja biru.
Tak ayal, laki-laki bertubuh pendek berkemeja biru itu bersama seorang laki-laki bertubuh besar berkaos merah berlalu dari wanita itu dengan membawa beberapa barang. Kunyit, krupuk, bawang merah, dan kentang. Rupanya barang-barang itu langsung diambil dari kios wanita tersebut. Wanita itu bernama darno. Darno merupakan salah satu pedagang di pasar kecil di daerah Cipinang Muara. Kedua pria itu adalah rentenir. Pria berkemeja biru adalah pemilik dana, sedangkan pria berkaos merah adalah pekerja penagih hutang (debt collector).
Darno meminjam uang sebesar lima juta untuk biaya rumah sakit anaknya yang terkena DBD. Tenggat pelunasan bulan ferbuari lalu.
Darno memang biasa meminjam kepada renternir. Itu untuk membantu keberlangsungan kiosnya. “saya tidak punya banyak modal,” Darno beralasan. Sialnya, berhutang menjadi kebiasaan Darno. “saya terjebak hutang”. Untung dagangan jadinya cuma buat bayar bunga utang,” ujar Darno seperti binggung.
Tidak lama setelah kejadian penarikan barang di kios Darno. Seorang renternir perempuan terlihat mendatangi kios yang bersebelahan dengan Darno. Ciri-ciri perempuan itu mengenakan topi dan membawa-bawa buku besar. “Sri….,” ujar perempuan yang akrab disapa uni.
“Ngga ada uni, lagi sepi hari ini,” ujar seorang wanita bernama Sri.
“Masa ngga ada mulu. Udah tiga hari lu belum bayar,” Uni menggomel.
“Janji dah uni, besok dibayar sekalian jadi lima hari. Minggu kan ramai,” Sri terlihat memelas.
“Yaudah. Besok bayar!” Uni berlalu begitu saja dari kios Sri dan bergeser kekios-kios lain.
Sri, wanita berumur 38 tahun, juga tidak lepas dari hutang. kebutuhan rumah tangga yang besar memaksa Sri harus berhutang. “Saya bingung bayar listrik nunggak dua bulan (November dan Desember-red). Ditambah lagi waktu itu WC penuh. Saya ngga punya simpanan, jadi ya terpaksa hutang,” sri mengeluh.
Tak banyak yang dapat dilakukan orang berpenghasilan minim seperti sri selain berhutang demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Namun, hutang bukan solusi terbaik. Bunga hutang turut menggerus laba dari berjualan bumbu dapur yang memang sudah tipis. Akibatnya jatah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari juga turut berkurang. “Semenjak ada kewajiban bayar hutang, uang saku anak saya dikurangi. Terus makan pake ayam atau ikan cuma sebulan sekali jadinya. Diiritlah buat bayar utang,” Sri bercerita.
Pengurangan anggaran kebutuhan sehari-hari untuk membayar hutang juga dialami Daus, pedagang kelapa. Bedanya, Daus bukan berhutang dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk kredit barang. Istrinya membeli beberapa barang elektronik dengan mencicil. Televisi, rise cooker, dan kipas angin mini, dibeli dengan harga yang beda 20% dari harga asli. Oleh karena itu, daus mengurangi anggaran kebutuhan sehari-hari. “Coba istri saya sabar. Tiga empat bulan juga udah terkumpul uang buat beli tunai. Kredit nyiksa baget. Anak saya ngerengek bosen diempanin telor dan mie mulu,” ujar Daus sembari menghisap rokok yang juga terkena impas pengiritan.
Darno, Sri, Daus merupakan contoh kecil bahayanya jerat hutang. Imbas terbesarnya ialah pengurangan anggaran kebutuhan sahari-hari, seperti makan. Padahal kecukupan gizi didapat dari makanan. Kekurangan gizi terkait kesehatan, pertumbuhan, kecerdasan, dan produktivitas.
Jebakan hutang juga dihadapi pemerintah Indonesia, termasuk dampak pengurangan kebutuhan primer. Alasan kenaikan harga BBM karena besaranya beban pengeluaran untuk subsidi tidak tepat. Dibandingkan dengan harga subsidi BBM jika tidak dinaikan yang mencapai Rp178,62 triliun, anggaran untuk pembayaran utang luar negeri lebih besar lagi. Angaran membayar angsuran pokok hutang dan bunga hutang dalam dari APBN 2011 tercatat Rp267,509 triliyun. Pengurangan subsidi publik tidak hanya terjadi pada BBM, tapi beberapa sektor lain. Seperti listrik, pendidikan, kesehatan.
Hutang luar negeri mulai tercatat di APBN ketika rezim orde baru bercokol di Indonesia, dengan pendonor IMF dan World Bank. Alasannya untuk pembangunan. Pembangunan memang berlangsung, tetapi penuh dengan kolusi dan korupsi. Belum lagi pembangunan itu tidak sepenuhnya dibutuhkan oleh rakyat. Seperti Daus yang berhutang hanya untuk kebutuhan sekunder.
Lembaga pendonor internasional sama mengerikan dengan rentenir yang hanya mencari keuntungan. Melalui jebakan hutang, Indonesia harus memprivatisasi beberapa BUMN. Seperti Darno yang kehilangan aset-aset sumber pendapatannya. Akhirnya hutang menjadi alat menjerat kehidupan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, jangan pernah sekali-kali berhutang pada renternir. Sekali terjebak, kita sulit keluar.

Citra Nuraini

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *