Operator

3 Comments

Video berdurasi 5.31 menit itu memang cuma hanya rekaman tanpa ada video(gambar yang bergerak). Rekaman yang diunggah ke situs YouTube diberi judul Ngapak Cilacap vs Operator Telkomsel dan diunggah oleh pemilik akun hanifalviyanto. Di awal rekaman, ada operator Telkomsel yang menyapa dengan ramah,

“Telkomsel, selamat malam dengan Irfan disini, dengan bapak siapa saya bicara?” tanya si operator.

“Dengan Bapak Doeng,” jawab si penelepon.

“Dengan Bapak Doeng ada yang bisa kami bantu?”

“Ohhhh, iya iya mesti,” jawab si Doeng dengan logat ngapak

“Apa keluhan bapak saat ini?”

Ditanya seperti itu, Doeng malah menyeru supaya tidak mengejek. Si operator yang bingung menjelaskan masih dengan baik bahwa ia tidak mengejek, dan kembali menanyakan Doeng punya keluhan apa atas kartu Telkomsel-nya. Kemudian Doeng menjelaskan bahwa ia memiliki keluhan atas tarif kartu selularnya, namun tidak dipedulikan oleh operator. Saking kesalnya Doeng mengumpat dengan logat ngapak khas Cilacap. “ini saya tanya tentang tarif dari tadi tapi tak dipeduliin, koe arep tak tempiling (kamu mau saya pukul) apa?”

Operator yang bingung dengan bahasa Doeng, menyuruh Doeng bicara dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. Doeng justru malah marah, ia malah memaki si operator dengan kelamin lelaki dalam bahasa Cilacap. Si operator masih tidak mengerti, dan masih menyuruh Doeng menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Diketahui kemudian, si operator berasal dan berdomisili di Bandung, mengetahui hal tersebut Doeng makin karuan mengumpat si operator dengan bahasa kasar dalam bahsa ngapak yang tidak dimengerti olehnya. Namun, sesekali Doeng memberi penjelasan atas bahasa ngapak yang digunakannya. Isinya  berupa kata-kata keji yang memang digunakan untuk mengumpat.

Berkali-kali dihujam kata-kata kasar oleh Doeng si operator tetap melayani dengan ramah. Mungkin keramahan yang disuguh si operator adalah Standar Operator Prochedure (SOP) yang diterapkan oleh perusahaanya. Makanya, ia masih tetap menghadirkan kerja-kerja sebagaimana operator telepon yang harus lakukan.

Niat Doeng sebenarnya bukan untuk mengadukan keluhan telepon selulernya. Doeng hanya ingin usil kepada operator, walaupun tidak diketahui motifnya. Niat usil Doeng terjewantahkan dari munculnya suara tertawa tebahak di belakang Doeng yang ikut terekam mulai dari pertengahan rekaman.

Si operator juga nampaknya tahu modus Doeng karena mendengar suara tertawa tersebut. Tapi ia tetap tabah menghadapi keusilan Doeng. Ia tidak begitu saja memutus sambungan teleponnya. Doeng yang diberi kesempatan tidak menyia-nyiakannya.

“Koe ngerti simatogereng, sing tukang mangani balung? Enyong ponakane (kamu tahu simatogereng yang suka makanin tulang? Saya keponakannya)”ancam Doeng bila si operator tidak mendengar keluhannya. Tapi si operator yang tidak mengerti tetap menyuruh Doeng untuk tetap menggunakan Bahasa indonesia yang baik dan benar.

Hingga di menit-menit akhir rekamannya Doeng menutup perbincangan dengan melontar kata-kata kasar dengan bahsa ngapak lagi. Si operator tetap menjalankan tugasnya “Terima Kasih, Selamat Malam,” tutup si operator.

Percakapan tersebut mungkin diunggah hanifalviyanto hanya untuk lucu-lucuan. Cilacap, Banyumas, Tegal, Brebes, Purwokerto memang dikenal dengan logat jawa yang khas dan lucu untuk yang jarang mendengarnya. Namun, kelakuan Doeng memang keterlaluan. Dan si operator mungkin harus diganjar penghargaan operator teladan karena tetap melayani Doeng yang usil.

Rekaman tersebut sebenarnya sudah lama saya dengarkan, namun gara-gara seorang guru yang bercerita tentang bagimana kondisi ia mengajar di kelas, saya kembali mencari kembali rekaman tersebut. Si guru cerita bahwa selalu terbatas melangkah dalam proses pengajaran karena di depannya hadir tembok besar bernama kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan beragam tetek bengek yang musti dilakukan guru.

Dari cerita si guru, saya melihat posisi dia sebagai operator ilmu pengetahuan. Ia hanya me-reproduksi pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada, itu pun dalam bentuk yang sudah dimampatkan dan dikomodifikasi sedemikian rupa dalam wujud buku teks pelajaran, tanpa mengerti orientasinya dan silang sengkarut atas munculnya pengetahuan tersebut.

Makanya saya searching rekaman operator tersebut, guna mengetahui lebih jauh bagaimana kerja operator. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat tahun 2011, lema operator berarti: n orang yang bertugas menjaga, dan menjalankan suatu peralatan, mesin. Irfan sebagi operator sudah dengan baik memenuhi tugasnya. Ia menjalankan mesin, peralatan yang bersifat fisik maupun non-fisik seperti peraturan, standar kerja.

Sebagai operator, dalam tingkatan tertentu kita memang tidak bisa menyalahkan Irfan karena tidak mengerti bahasa Doeng karena memang tidak ada keharusan bagi Irfan untuk paham semua bahasa daerah di Indonesia, walaupun ia jelas tahu Indonesia negara multi-etnis. Pun bukan keharusan semua guru untuk tahu semua mata pelajaran di sekolah. Namun, adalah sebuah kesalahan bila dia memang memposisikan diri sebagai operator ilmu pengetahuan.

Filosofi guru yang dicetus R.M Soewardi Surjaningrat benar meninggikan posisi guru dalam medan pendidikan: di depan memberi contoh, di samping memberi aktif belajar bersama murid, di belakang menyuntik semangat. Dari filosofi tersebut muncul kondisi bagaimana seharusnya guru bertindak-tanduk, ia harus punya otoritas atas ilmu pengetahuan dalam rangka membimbing murid di depan. Bukan sebagai operator yang pengetahuannya sudah dirumuskan oleh departemen, dinas, bahkan kepala sekolah.

Makanya, banyak siswa yang kemudian setelah lulus tidak lagi tahu menahu atas pengetahuan yang didapatnya ketika bersekolah. Karena memang prosesnya terjadi secara mekanik tanpa ada hal yang substantif dan orientasi pendidikan yang jelas. Artinya, siswa menganggap pengetahuan yang didapat hanya bisa digunakan saat ia ujian, tidak lebih dari itu.

Beruntung Irfan memang cuma seorang operator telepon selular, coba bayangkan bila ia jadi guru

“Siapa penemu mesin uap anak-anak?” tanya Irfan sebagai guru fisika.

“James Watt pak,” jawab murid serantak.

“Iya , pintar kalian semua.”

“oh jadi dia yang buat nenek moyang saya kehilangan pekerjaan,” celetuk seorang murid.

“hah?” Irfan heran.

“iya pak, kata bapak saya, nenek moyang saya dulu seorang petani, kemudian gara-gara banyak pabrik muncul pada zaman penjajahan, bapak saya dipaksa jadi buruh murah di pabrik. Mesin uap kan banyak digunakan di pabrik-pabrik pak” jelas si murid.

“lha itu tidak ada hubungannya nak,”

“jelas ada pak,”

“tidak ada nak, kita kan sedang membahas belajar fisika, bukan belajar sejarah,”

“pak, Koe ngerti simatogereng, sing tukang mangani balung? Enyong ponakane (kamu tahu simatogereng yang suka makanin tulang? Saya keponakannya)”

Anggar Septiadi

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *