Melahirkan Kultur Akademik

3 Comments

Meski minim dana, WCP jalan terus

Usianya baru dua bulan. Ibarat manusia, tentu pada usia ini yang hanya bisa dilakukan ialah merengek dan menangis. Tapi tidak dengan, Writing Club Psikologi (WCP). Tepat pada tanggal 1 Maret 2012, WCP lahir mengisi kultur akademik yang tandus di Kampus D, Halimun, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

WCP merupakan sebuah komunitas yang didirikan atas inisiasi sejumlah mahasiswa Jurusan Psikologi. Tujuan WCP, “ membudayakan minat baca, tulis, dan diskusi khususnya di kampus Halimun,” ungkap Koordinator WCP Chairunnisa.

Hadirnya WCP memberikan warna baru di Jurusan Psikologi. Dimana sebelumnya budaya diskusi dan menulis terbatas pada Sistem Acara Perkuliahan (SAP) yaitu, ruang kelas dan waktu. Sekarang, “ kita selepas kuliah tiap hari kamis ada diskusi rutin.Biasanya dari diskusi itu kita membuat tulisan,” papar Fitriyanti Herlinda Sari, pegiat WCP. Dalam diskusi, disana mereka membahas tema-tema yang akan diangkat untuk menjadi sebuah tulisan.

Kegiatan rutin yang mereka lakukan, bukan tanpa masalah. Dikarenakan tidak tersedianya tempat untuk mahasiswa berdiskusi. WCP menggelar agenda diskusi, “ di kelas. Karena jam operasional kelas, diskusi dialihkan ke kantin Jurusan Psikologi. Kadang terganggu dengan aktifitas teman-teman yang sedang makan,” keluh Ismud mahasiswa Jurusan Psikologi 2008.

Selama ini hasil tulisan WCP dipublikasikan melalui media cetak dan elektronik. Tercatat sudah tiga periode mereka rutin mengisi tulisan di mading yang mereka buat sendiri. Terletak di persimpangan lantai dua Jurusan Psikologi. Pada periode kedua, mereka berinisiasi untuk mengganti mading yang terbuat dari papan kayu yang ditempel lembaran kertas tulisan mereka. Dengan, “ melayout tulisan berukuran A2 kemudian kita cetak tidak menggunakan kertas, melainkan bahan spanduk,” kata Chairunnisa.

Kendala yang dialami WCP adalah tidak tersedianya tempat untuk berdiskusi. Sampai pada proses menulis dan cetak yang dilakukan secara independen. Selama ini mereka melakukan kegiatan dengan dana pribadi.

Hal ini sangat disesalkan oleh Ismud. Menurutnya, “ mesti ada apresiasi untuk kegiatan kami. Kegiatan kami bukan hura-hura, melainkan mencipta kultur akademik yang tandus di jurusan ini.” Meskipun pada tahun 2011 Psikologi, menurut UNJ tercatat menempati peringkat ketiga sebagai jurusan yang paling diminati masyarakat. Ternyata minim apresiasi terhadap kultur akademik yang seharusnya dicipta oleh jurusan. Sehingga sampai sekarang, “ kami terus melanjutkan kegiatan meskipun belum mendapatkan dana dari jurusan,” imbuh Chairunnisa yang berharap WCP mempunyai regenerasi di tahun berikutnya.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *