Optimis Saja Tak Cukup

3 Comments

Dari sekolah dasar hingga SMA, para guru selalu punya jurus jitu dalam menanamkan optimisme pada murid didiknya, sang guru selalu berucap “kamu sama-sama makan nasi, kenapa tidak bisa seperti mereka (menrujuk pada siswa-siswa berprestasi), kata-kata motivasi seperti di atas sebenarnya kurang relevan dengan kondisi sekarang.

 

Kemudian saat melihat realitas kemiskinan di kolong jembatan, bantaran sungai, kampung, maka muncul pertanyaan, kenapa mereka miskin? Para kaum optimis namun punya cita rasa kepekaan sosial yang rendah tentu akan menjawab, “mereka orang malas yang kurang berusaha”.

 

Kita tidak bicara seperti apa yang sering dilontarkan dari para lidah motivator ulung, tapi kita bicara dengan melihat realitas. Memang benar sebagian dari mungkin mereka malas, namun ada yang faktor besar penyebab mereka terus miskin, yah jawabanya memang dimiskinkan, lantas siapa yang memiskinkan? Jelas negara yang dikuasai oleh para elit. Semua regulasi pemerintah hampir tak satu pun berpihak pada kaum miskin, semua akses “menjadi kaya” telah ditutup rapat bagi mereka.

 

Apakah seorang petani miskin yang bekerja keras sejak subuh hingga menjelang petang itu seorang pemalas? Pertanyaan selanjutnya, apakah mereka bodoh? Mungkin mereka mereka memang bodoh, para petani memang tidak tahu menahu bursa komoditas, inflasi, sistem distribusi, investasi pertanian, dan sebagainmya.

 

Tapi pertanyaan yang lebih mendasar, kemana peran negara dalam kondisi tersebut? Rasanya percuma juga kalupun petani pintar dengan sistem yang ada saat ini, saat harga pupuk menjadi permainan, proyek pertanian hanya jadi bancakan, sekali lagi, optimisme tak cukup bagi petani.

 

Lingkaran setan kemiskinan takkan pernah terputus. Kemiskinan si petani akan diwariskan dan dinikmati pada anak cucunya. Dan jalan merubah nasib tentu di pundak anaknya, caranya? Ya dengan sekolah. Lebih parahnya, satu-satunya akses yang paling memungkinkan dalam merubah nasib, yakni pendidikan, telah diliberalisasi dan dikomersilkan dengan dalih standar internasional.

 

Kembali pada optimisme, logikanya, bagaimana mungkin seorang miskin, meski dengan otak encer dan kemauan sekeras baja bisa bertahan di sekolah dengan bayaran jutaan untuk SPP, uang gedung, uang LKS, dan sebagainya. Kalaupun ada beasiswa, paling hanya segelintir orang miskin yang “beruntung”, itu pun banyak salah sasaran. Jangan tanya kemana dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Realita lapangan tentu berbicara lain.

 

Sekarang uang bicara lebih banyak dalam semua hal mencapai mimpi. Hidup di negeri seperti Indonesia, optimisme, berpikir positif, dan kerja keras seakan percuma. Zaman sekarang, hampir tak ada celah akses bagi kaum miskin merubah statusnya, akses pendidikan sebagai satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan justru makin sempit, bahkan mustahil.

 

Orde baru memang meninggalkan banyak catatan kelam dalam urusan KKN. Namun dalam hal keadilan pendidikan, orba patut mendapat apresiasi. Sebelum reformasi, ada keadilan berkompetisi bagi semua orang.

 

Semua orang, baik kaya atau miskin, semua berkompetisi secara fair masuk ke sekolah dan universitas favorit, meminjam istilah pakar sosiologi Koentcoroningrat, pendidikan adalah salah satu dari jalan terbaik mengubah status sosial vertikal masyarakat, artinya seorang miskin bisa menjadi kaya asalkan ia punya kemauan keras dalam menempuh pendidikan.

 

Sekali kita bicara realitas. Tanpa menihilkan institusi pendidikan lain, penulis ambil contoh kasus di PTN. Dulu saat orba, universitas negeri (PTN) adalah favorit lulusaan SMA, selain pertimbangan murah, juga PTN cenderung bukan universitas murahan. Orang yang kini pejabat tinggi dan para akademisi kaya, sebagian besar sejatinya kebanyakan dari produk orang miskin dan menegah bawah yang bisa merengkuh perguruan tinggi, anak seorang buruh petani, buruh dan sejenisnya. Tentu kita sudah sering mendengar “kisah-kisah teladan” perjuangan mereka saat hidup serba susah banting tulang pantang menyerah hingga kini menjadi orang berada.

 

Dulu dan sekarang tak lagi sama. Saat dulu mengenal ujian masuk perguruan tinggi negeri atau UMPTN, semua lulusan SMA punya peluang yang sama dalam iklim kompetitif, meski ada juga sisi tidak adil dalam UMPTN, anak orang kaya tentu dengan modal finasial lebih besar, bisa membeli buku lebih banyak, bisa mengakses internet, bisa mengikuti bimbingan belajar rutin, dan sejenisnya tentu lebih siap dibanding anak si petani yang cuma bermodal otak encer dan optimisme dengkul namun dengan ketiadaan akses menjadi pintar. Tapi meski sulit, kompetisi masih bisa dibilang wajar dengan satu jalur UMPTN tersebut.

 

Kini lebih banyak lagi jalur masuk PTN, setiap PTN bisa sesuka hati menggelar ujian mandiri, dan yang pasti jalur tersebut tentulah tak murah, standar tak murah tersebut sudah pasti tak bakal terjangkau bagi anak si petani. jika dulu sudah sangat terbatas, kini makin terbatas, bahkan hampir tanpa celah keluar dari jerat miskin.

 

Mari berlogika, seorang guru memotivasi murid SD dengan bertanya, “apa cita-citamu saat kelak besar?”, serentak menjawab, “Dokteeeerr…” yang lain menjawab, “piloooot…”, dan satu lagi, jawaban yang jujur dan paling menurut saya paling realistis “Masinissssssss….”

 

Mari berlogika, fakultas kedokteran adalah jurusan paling favorit tiap tahun, untuk menjadi dokter paling tidak butuh 200 juta uang reguler bayar semester dan kebutuhan lainnya di PTN. PTS tentu lebih mahal lagi, kalaupun ada jalur “murah” melalui beasiswa dan tes nasional, di situlah persaingan paling fair si kaya dan si miskin, masalahnya ada perbedaan akses tadi (buku, bimbel, dsb) pada miskin dan kaya. Maka bisa dipastikan, kursi kedokteran jalur masuk yang berkategori murah dan disubsidi tersebut pun  pasti akan dikuasai anak orang kaya.

 

Faktor ini pula yang menyebabkan angka persaingan jurusan favorit di PTN sengit. Dan efeknya, anak orang miskin mau tidak mau bersaing pada jalur mereka, yang menurut mereka realistis, ketika ujian mereka harus “tau diri”, jurusan-jurusan prodi universitas mana yang mereka harus pilih.

 

Atau dalam kesuksesan di luar konteks pendidikan. bagaimana seorang penjaja roti keliling bisa menjadi sukses dan kini menjadi pengusaha roti kelas besar, pedagang Bakso gerobak yang kini jadi pengusaha besar, dan banyak cerita “inspiratif” para entepreneur dengan semangat optimisme dan kerja keras hingga bisa mencapai standar hidup tersebut sekali lagi tidaklah cukup.

 

Dan dari sekian banyak buku “inspiratif” yang penulis baca, ada faktor paling penentu keberhasilan mereka, yakni hoki atau keberuntungan. Hoki itulah yang kemudian jadi titik balik dan batu loncatan mencapai kemakmuran. Ambil contoh si tukang roti keliling yang bekerja keras siang malam keliling kampung menjajakan roti, ia ceritakan bagaimana ia secara kebetulan (hoki) bertemu seorang tertarik meminjamkan modal padanya setelah melihat potensi pada si tukang roti.

 

Masalahnya apa semua orang miskin yang bekerja keras dan pintar mungkin, bisa mendapat hoki seperti si tukang roti. Kalaupun tak ada faktor hoki, tentulah bisa dipastikan si tukang roti akan tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan, bukan pengusaha roti seperti sekarang, hoki atau keberuntungan seseorang sangat berperan penting, saya pun percaya, keberuntungan tak lepas dari sebuah keajaiban doa dan terus menjaga optimisme.

 

Inilah Indonesia, saat suap menyuap tak menjadi hal tabu, KKN berjamaah, dan kerusakan lain telah sedemikian parah. Optimisme tak lagi berlaku, kita hidup di tengah masyarakat yang hidup dalam pesismistis, ketika optimisme mulai redup oleh kebatilan, satu optimisme yang harus dijaga agar bangsa ini terus hidup, yakni optimisme akan sebuah perubahan. Istilahnya Gusdur, “Reformasi ulang”, atau jika perlu menggunakan istilahnya Lenin, “Revolusi”.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *