Stasiun Penantian

No Comment Yet

Tengah malam, tepat ketika akan berganti hari baru, terlihat beberapa, puluhan, ratusan, bahkan jutaan orang berada di stasiun. Mempunyai tujuan sama, menunggu kereta yang sama, kereta bercat hijau dengan satu gerbong.

***

“Uah,” aku menguap panjang di kursi peron.

Tepat tengah malam, stasiun ini telah sepi. Tak ada lagi pedagang asongan, pengemis, pengamen, dan petugas stasiun. Semua seperti lenyap ditelan bumi. Stasiun ini sudah menjadi rumahku sejak kecil, tak ada hal yang aneh bagiku di sini.

Beberapa orang duduk di kursi yang aku tiduri. Seorang laki-laki berperut buncit, seorang laki-laki berseragam polisi dan seorang wanita muda. Wajah mereka pucat. Seorang laki-laki berjaket usang datang dan duduk di sebelah kananku. Sudah seminggu ini aku melihatnya menunggu kereta tengah malam.

“Aku menunggu istriku pulang, dia bekerja di Jakarta,” suatu hari, saat hanya kami berdua, dia memulai percakapan denganku. “Dia bekerja sampai larut malam demi menambah penghasilan aku yang pas-pasan, aku sangat mencintainya,” laki-laki berjaket usang itu terus bercerita, walau aku tak menanggapinya.

“Bapak mau pergi kemana?” laki-laki berjaket usang itu bertanya pada lelaki berperut buncit di samping kiriku, sekedar basa-basi.

Laki-laki berperut buncit itu diam, tidak merespon. Laki-laki berjaket usang itu mengulang pertanyaan. Laki-laki berperut buncit itu tetap diam, wajahnya semakin memucat, bibirnya menjadi ungu, matanya melotot.

Laki-laki berjaket usang itu mengalihkan pandangan pada seseorang laki-laki berseragam polisi di samping kanannya, melupakan laki-laki gendut tadi, “Pak Polisi, sedang tugas malam?”

Tak ada jawaban. Laki-laki berjaket usang itu tidak mengulang pertanyaannya dan memutuskan untuk diam. Dia menjadi enggan untuk bertanya pada seorang wanita muda di samping laki-laki berseragam polisi. Keheningan melanda. Seorang laki-laki paruh baya berpakaian compang-camping mendekati kursi. Dia tersenyum, entah kepada siapa. Sebuah kereta datang dari arah timur, tanpa informasi dari pengeras suara, kereta bercat hijau. Kereta itu menarik  satu gerbong dengan dua pintu, satu di depan dan satu di belakang. Pintu terbuka, kereta terlihat kosong. Laki-laki paruh baya tadi bangkit dari kursi dan masuk ke dalam gerbong. Sejenak dia melambai ke arah kami, laki-laki berjaket usang itu membalas. Kulirik Laki-laki berperut buncit di sampingku, wajahnya memucat bahkan mirip mayat, tubuhnya menggigil, dan nafasnya tersengal. Sosok setinggi dua meter, bertubuh besar, berwajah seram, keluar dari dalam kereta dan berjalan kearah kami. Dia menyeringai, empat taring tajam di dalamnya seperti sudah siap merobek tubuh kami. Vampir, hantu, jin, iblis, preman, manusia biasa? Aku diam. Laki-laki berjaket usang itu bergidik.

“Sudah waktunya, ayo berangkat!” bentak sosok itu sambil dengan kasar meraih laki-laki berperut buncit itu dan menyeretnya ke dalam kereta.

“Jangan. Tidak. Sakit,” laki-laki berperut buncit berteriak di dalam kereta.

“Pak, segera tolong laki-laki itu, dia dalam kesulitan,” laki-laki berjaket usang itu berbicara cepat kepada laki-laki berseragam polisi.

Laki-laki berseragam polisi itu tetap diam, wajahnya tampak memperlihatkan ketakutan.

“Ayolah Pak, jangan diam saja, dia menjerit-jerit di sana. Itu kekerasan, kalau Bapak takut, Bapak bisa gunakan pis….” sebelum laki-laki berjaket usang itu menyelesaikan kalimatnya, sosok itu telah menarik dan menyeret laki-laki berseragam polisi itu dengan cepat.

Laki-laki berseragam polisi itu berusaha melepaskan diri tapi tidak mampu, dia terlihat begitu kesakitan, matanya membelalak, mulutnya terbuka seakan ingin berteriak. Sementara laki-laki berjaket usang itu masih terpaku, wanita muda itu bangkit dan berjalan menuju sosok seram itu. Sebelum ditarik kedalam kereta, sosok itu memukul payudara, perut dan kemaluan wanita muda itu. dia tidak menjerit apalagi melawan. Laki-laki berjaket usang itu memuntahkan isi perutnya ketika pintu kereta tertutup, padahal sebagian tubuh wanita muda itu masih di luar pintu. Kereta pergi meninggalkan kami, aku dan laki-laki berjaket usang yang masih tertegun, berada dalam kesunyian stasiun.

***

Di stasiun ini aku banyak melihat macam-macam orang menunggu kedatangan kereta dan turun dari kereta. Inilah tempat aku tidur dan mencari makan.

Aku mendekati laki-laki berjas hitam, “meong.”

“Kucing sialan, bulumu mengotori pakaianku.” Dia menendangku, aku terlempar jauh dari laki-laki berjas itu.

Aku mendekati kumpulan laki-laki berpakian putih-putih, “meong.”

“Kucing kau kurus sekali, pasti tidak ada yang memperhatikanmu. Manusia jaman sekarang memang sudah jauh dari ajaran agama makanya mereka tidak peduli sesama.” Laki-laki berjengot lebat itu mengelus kepalaku, dia menolehkan pandangannya kepada laki-laki berpeci putih. “Bisa tolong belikan makanan untuk kucing ini, dia harus kita bantu.” Laki-laki berjenggot tebal itu menyerahkan uang dari dompetnya dan memberikannya pada laki-laki berpeci putih, “tolong belikan beberapa potong ayam di warteq itu.”

Laki-laki berpeci putih membawa sebuah bungkusan, dia membukanya, beberapa potong ayam. “Ini untukmu kucing kurus, berterimakasihlah pada guruku, dia orang yang sangat pemurah dan bijaksana,” laki-laki berpeci putih itu berkata seraya menoleh ke arah laki-laki berjenggot lebat. Laki-laki berjenggot lebat itu tersenyum.

Esok harinya, aku mengemis pada setiap orang di stasiun ini, berharap ada yang berbaik hati seperti laki-laki berjenggot lebat kemarin.

“Meong,” aku mengemis pada wanita bergaun hijau.

“Hus, bulumu menempel di kulitku, bisa rusak kulitku,” dia menghindariku dan melangkah ke tempat lain.

“Meong,” aku mengemis pada laki-laki berseragam coklat.

“Hus, kucing jelek. Kalau lapar jangan mengemis padaku, pemerintah tidak mengurusi binatang kelaparan. Aku hanya mengurusi manusia yang kelaparan yang tidak ada habis-habisnya, yang selalu menuntutku, menganggu kanyamanan hidupku saja.” Laki-laki berseragam coklat itu berceloteh sambil mengibas-ngibaskan kakinya.

“Meong,” aku mengemis kepada seorang wanita.

“Alhamdulillah kita selamat dari razia semalam.” Dia sedang bercakap-cakap dengan wanita berpakaian hitam di sampingnya, tidak melihat aku berdiri di depannya.

“Meong,” aku mengemis sambil menggesek-gesekan tubuhku di kakinya.

“Ooh, kucing manis, dari tadi kamu di sini ya, maaf aku tidak tahu.” ucap wanita itu sambil mengelus kepalaku.

Wanita itu mengeluarkan sebuah bungkusan dan botol minuman dari tasnya. Dia membuka bungkusan itu, sepotong ayam dan nasi. Dia melepas sepatunya dan menuangkan air kedalam sepatunya. “Makan dan minumlah!”

“Hei, itu makan yang baru kau beli? Mengapa kau berikan kepada kucing itu? Kau sendiri belum makan,” wanita berpakaian hitam itu mendengus.

“Kasihan dia kurus sekali.”

“Kau ini jangan sok peduli. Kita sebagai manusia tidak ada yang memedulikan kemiskinan kita, bahkan ketika kita bekerja demi bisa menghidupi keluarga, kita justru dihujat.”

Wanita itu hanya tersenyum dan mengelus kepalaku yang sedang sibuk menikmati makanan.

***

Stasiun ini telah sepi, tepat tengah malam, aku tidur di kursi peron. Seorang laki-laki berjalan menuju kursi. Rupanya laki-laki berjaket usang. Sudah seminggu aku tidak melihatnya. Laki-laki berjaket usang itu duduk disampingku.

Sebuah kereta bercat hijau dengan satu gerbong meluncur perlahan. Laki-laki berjaket usang itu terlihat tegang, wajahnya menyiratkan rasa takut. Kereta  itu tidak berhenti di stasiun ini, dia terus meluncur meninggalkan stasiun ini. Laki-laki berjaket usang itu menghela nafas panjang. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Halo, Sih, ada apa?”

“Mas, maaf kamu harus menunggu satu jam lagi, aku baru keluar setengah jam lagi,” suara itu terdengar parau.

“Ya, aku tunggu kamu. Sih, ada apa denganmu, suaramu terdengar parau?”

Tenang saja, aku baik-baik saja.” Diam beberapa detik. “Mas, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu. Ada apa, Sih?”

“Tidak ada apa-apa. Sudah dulu, Mas.”

“Ya.”

Laki-laki berjaket usang itu menyandarkan kepalanya di kursi, matanya memandang langit, seperti memikirkan sesuatu. Dia menoleh ke arahku, mengangkat tubuhku kepangkuannya.

“Kucing manis sudah seminggu kita tidak bertemu. Sih sedang tidak lembur bekerja, jadi aku tidak harus menjemputnya di stasiun ini. Seminggu ini, sisa waktu sepulang bekerja kami habiskan bersama, membayar kebersamaan yang hilang karena kesibukan bekerja.” Laki-laki berjaket usang ini terus berceloteh.

Beberapa orang berdatangan, mereka duduk di kursi yang sama denganku. Laki-laki berjaket usang ini berhenti berbicara.  Tiba-tiba terlihat sebuah kereta bercat hijau dengan satu gerbong meluncur ke arah kami. Melihat kereta itu, wajah mereka mendadak pucat dan memperlihatkan kepasrahan. Kereta berhenti, ke dua pintu gerbong terbuka lebar, seperti sudah dikomando mereka serentak naik ke dalam gerbong. Tidak terlihat sosok setinggi dua meter yang menyeramkan itu, laki-laki berjaket usang ini menarik nafas tenang. Stasiun sudah lengang. Hanya ada aku dan laki-laki berjaket usang ini, yang masih setia menghuni peron.

Setengah jam berlalu dalam kelenggangan, kereta itu belum juga meninggalkan stasiun. Seperti ada yang ditunggu. Laki-laki berjaket usang memperhatikan kereta bercat hijau itu, wajahnya memperlihatkan rasa penasaran. Laki-laki berjaket usang melepaskan aku dari pangkuaannya, dia bangkit dan berjalan menuju pintu gerbong, memasuki kereta bercat hijau dengan satu gerbong tersebut. Entah mengapa, aku mengikuti laki-laki berjaket hitam itu. Begitu masuk, istingku merasakan keanehan. Kutatap wajah laki-laki berjaket hitam itu, terlihat dia sangat terkejut. Kereta satu gerbong dengan dua pintu itu ternyata panjang sekali. Ternyata di dalam kereta ini telah duduk puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan penumpang. Ekspresi wajah mereka beraneka ragam.

Aku mengamati penumpang satu persatu, begitu pula laki-laki berjaket usang itu, dia terlihat sedang mengamati penumpang satu persatu. Ada beberapa orang yang menggunakan tanda pengenal yang sekias tampak seragam. “Islam, Kristen, Hindu, Budha, tidak tahu, tidak tahu, “ laki-laki berjaket usang itu membaca makna tanda pengenal tersebut. Mereka tampak tenang, tak terpancar kegelisahan apalagi ketakutan dari raut wajah mereka, hanya ada pancaran kepasrahan.

Aku terus berjalan mengikuti laki-laki berjaket usang itu sambil memperhatikan penumpang satu persatu. Ada beberapa orang berpakaian putih-putih, ada yang tersenyum, ada yang terdiam, ada yang tampak ketakutan. Aku melihat laki-laki berjenggot lebat dan laki-laki berpeci putih yang pernah kutemui. Laki-laki berjenggot lebat terlihat gelisah sementara laki-laki berpeci putih tampak tenang. Aku ingin menemuinya, mengemis makanan lagi, tapi kakiku tidak mau diajak menuju dirinya. Menyerah karena kaki tidak mau digerakan, aku terus mengikuti laki-laki berjaket usang itu. Aku melihat beberapa orang berjas, termasuk laki-laki berjas yang pernah menendangku, hampir semua raut wajah mereka terlihat suram. Aku melihat beberapa orang berseragam coklat, termasuk laki-laki berseragam coklat yang pernah ku temui, beberapa di antara mereka memangku bangkai tikus yang sudah belatungan. Makanan basi. Kami mempercepat langkah, menjauhi orang-orang dengan bangkai tikus itu. Aku melihat wanita bergaun hijau, matanya melotot. Aku juga melihat wanita yang memberiku makan dan minum bersama wanita berpakaian hitam kemarin. Wanita itu berdiri dari kursinya, mendekatiku dan mengelus kepalaku, “terimakasih kucing manis.” Aku tidak mengerti maksudnya. Wanita itu duduk kembali di kursinya, dia masih tersenyum padaku. Wanita berbaju hitam di sampingnya terlihat ketakutan.

Aku terus mengikuti laki-laki berjaket usang. “Dimana pintu keluarnya? Sudah berapa jam aku disini? Aku harus menjemput istriku.” Wajah laki-laki berjaket usang itu terlihat ketakutan. Laki-laki berjaket usang itu tiba-tiba berlari, aku tertinggal. Terlambat, aku tidak dapat mengikutinya. Akhirnya aku terus berjalan sendirian.

Aku berhenti berjalan, lelah. Aku menjatuhkan tubuh kelantai, ingin menidurkan diri. Belum sempat mataku terpejam sempurna, tiba-tiba tubuhku terayun diudara. Sosok menyeramkan setinggi dua meter.

“Disini bukan tempatmu, kucing. Kamu tidak bisa naik kereta ini. Ini khusus manusia. Untukmu ada kereta yang berbeda,” dia berbicara cepat. Dia meletakan tubuhku di luar gerbong. Ah, ternyata pintu gerbong sedekat ini.

Aku melihat laki-laki berjaket usang berdiri di depan pintu gerbong, dia tengah berbicara dengan seorang wanita.

“Mas, aku bahagia hidup bersamamu. Terimakasih atas kesetianmu. Carilah wanita yang dapat membahagiakanmu dan dapat memberimu anak,” wanita itu tersenyum, dia melambaikan tangan kepada laki-laki berjaket usang. Pintu gerbong tertutup dan kereta bercat hijau dengan satu gerbong itu meluncur dengan cepat. Kereta itu menuju arah matahari tenggelam.

***

Seusai azan subuh berkumandang, dari pengeras suara mesjid terdengar lantunan syair-syair, memenuhi stasiun ini.

Eling-eling manungso

Pulangne tumpok kereto jowo

Rodo papat rupo manungso

Tak tunggune neng stasiun

Citra Nuraini

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *