Jejak Dokter di Gaza

No Comment Yet

“Tolong, biarkan aku masuk, aku seorang dokter. Aku ingin memasuki gaza sebagai rasa tanggungjawab kemanusianku,” aku mengemis kepada seluruh otoritas mesir di perbatasan.

Setelah mendapat berita Israel menyerang Palestina selama beberapa hari, yang menyebabkan ratusan jiwa tewas dan luka-luka, warga pelestina membutuhkan bantuan medis, obat-obatan, dan makanan. Aku bersama beberapa orang dokter dari Norwegia diberangkatkan ke Gaza untuk membantu mereka. Tapi kami tertahan di perbatasan, padahal kami berjarak beberapa meter dari wilayah yang ingin kami bantu. Puluhan dokter dari seluruh dunia termasuk Malaysia, Indonesia, Turki, Yunani, dan lainnya mendapatkan perlakuan serupa di perbatasan selama beberapa hari.

“Otoritas mesir menghentikan kami,” ujar seorang dokter dari Yunani.

“Situasi di gaza sangat menakutkan,” Omran Ibrahim, psikiater dari mesir tidak dapat memasuki gaza, padahal dia berharap dirinya dapat memberikan bantuan apapun yang dapat ia lakukan untuk penduduk gaza. “Banyak penduduk gaza yang mengalami gangguan psikis, terutama anak-anak,” ujarnya, saat berbincang-bincang di tengah siruasi yang tidak mengenakan.

“Menurutmu apakah ini menunjukan lambatnya sikap pemerintahan mesir untuk membantu penduduk gaza?”

“Kurasa tidak, otoritas mesir telah berupanya sebisa mungkin untuk membantu penduduk gaza. Masalah sulitnya akses obat-obatan, tim medis, dan makanan masuk ke gaza adalah karena blokade tentara Israel,” bantah Ibrahim.

“Entah, aku tidak tahu mengapa otoritas mesir lambat bertindak. Ini sudah satu minggu lebih. Sejak awal agresi Israel, ahli bedah dan dokter-dokter Mesir dilarang ke gaza. Kami tidak tahu mengapa pemerintah mesir melarang membuka gerbang rafah, mereka hanya mengizinkan pengiriman korban ke gerbang rafah, itu pun dalam jumlah terbatas. Kita hanya bisa berdoa,” ucap Khaely, dokter Mesir.

“Aku sudah mendapat izin tapi aku tidak akan masuk sendirian karena aku ke sini bersama tim dari Indonesia. Jadi aku tidak akan masuk jika timku tidak diizinkan masuk. Kami akan terus berusaha untuk dapat masuk ke gaza,” ujar seorang dokter dari Indonesia.

“Para dokter hanya dapat melihat kekejaman Israel, tanpa bisa melakukan apapun. Kami tidak dapat masuk ke gaza,” aku menjawab pertanyaan seorang reporter. “Seperti yang kalian lihat, ratusan dokter menunjukkan kesiapan mereka untuk masuk ke Jalur Gaza. Sebagian mereka sudah bermalam di sisi perbatasan Mesir, berharap bisa masuk dari gerbang Rafah. Namun otoritas Mesir menahan mereka.”

***

“Anda berdua dari mana? Sepertinya anda seorang dokter?” tanya wanita pemilik kedai berumur sekitar tigapuluhan, disusul senyum.

“Kami berempat dari Norwegia. Kami memang dokter yang sengaja diberangkatkan menuju gaza,” jawab Ali, dokter ortopedi yang rekan setimku dari Norwegia

“Sepertinya kalian juga susah untuk mendapat izin masuk gaza. Sudah beberapa hari, banyak tamu-tamu di sini yang berstatus  dokter dan jurnalis.”

“Seperti yang anda lihat. Kami terperangkap di sini sudah beberapa hari, ini membuat kami stress.”

“Ini tehnya silahkan diminum, mungkin dapat menghilangkan stress anda. Maaf jika aku banyak bertanya. Jika butuh aku, silahkan panggil. Namaku Shifa.” Shifa membalikan punggungnya.

Aku mengangkat gelas yang tadi diletakan Shifa. Sebelum teh berhasil ku masukan kedalam tenggorokan, teh tumpah. Aku terkejut.

“Nguing. Dumm.” suara yang dasyat tedengar menggetarkan bumi.

“Astaga. Anda tidak apa-apa?” Shifa menghampiri kami sambil membawa serbet.

“Aku baik-baik saja. Suara apa itu?”

“Itu suara pesawat Israel yang menjatuhkan misilnya. Dari tempat ini suara-suara seperti itu sudah biasa terdengar. Kedai ini hanya berjarak 300 km dari pintu gerbang perbatasan. Aku juga pernah melihat asap pekat di angkasa. Di tempat ini, anda dipaksa terbiasa dengan hal-hal itu.” Shifa bercerita lebih banyak kepada kami.

Tempat ini  dinamai Saladin Square karena salah satu jalan yang bermuara di perempatan itu namanya Jalan Saladin. Bahkan, kawasan ini secara keseluruhan disebut Distrik Saladin. Jalan inilah yang berujung di Gerbang Saladin, gerbang yang menjadi pintu masuk ke Jalur Gaza. Namun, sejak tahun 2000, gerbang ini ditutup. Yang disebut Saladin Square atau Salahuddin Square adalah sebuah perempatan jalan di pusat kota Rafah Mesir. Sebuah perempatan jalan yang di setiap sisi perempatan berdiri toko-toko dan warung-warung yang kusam catnya. Ada toko kelontong, warung makan, toko serba ada kecil, ada toko pakaian, dan ada pula toko buah.

”Nguing….,” lagi-lagi suara pesawat Israel.

Hari ini kami sudah melihat beberapa kali pesawat Israel melintas daerah Rafah.

”Saya sejak kecil tinggal di daerah ini. Jadi, sudah begitu terbiasa mendengar suara ledakan bom, suara tembakan, merasakan tanah bergetar, dan melihat pesawat Israel yang melintas tempat ini. Namun kali ini, suara-suara itu sering lebih terdengar.” Isa, supir taksi yang kami tumpangi menceritakan keadaan di sini.

Setelah kami akan kembali menemui otoritas mesir, memohon lagi agar mendapatkan izin memasuki gaza.

***

“Uwee, eeee,” tangis seorang bayi yang sedang kuobati.

“Sabar ya, obat biusnya habis,” aku berusaha menenangkannya.

“Anda baru dapat izin masuk ya?” tanya William, dokter dari Inggris.

“Ya, aku terkejut dengan kondisi disini. Ini lebih buruk dari yang kubanyangkan.”

“Beginilah kondisi disini. Setiap hari para dokter harus tahan banting mendengar jeritan dan rintihan para korban. Kita harus kerja 24 jam karena semakin hari pasien bertambah banyak.”

“Apa kau tidak merasa kelelahan?”

“sebetulnya aku sangat lelah, tapi semangat kemanusiaan menggerakan kekuatan ekstra dalam dirimu. Kau bisa lihatkan, pasien-pasien itu bertumpuk menunggu giliran diobati.”

“Dan kita menunggu obat-obatan datang?”

“Yea,. apa boleh buat, bantuan banyak tertahan di gerbang rafah. Jeda tiga jam tidaklah cukup untuk kondisi buruk ini,” William hanya geleng-geleng kepala, pusing menghadapai situasi ini.

Setelah tertahan selama seminggu lebih di perbatasan, akhirnya tim kami mendapatkan izin memasuki gaza. Bersama dokter lainnya kami bekerja di Rs al-Awda di Jabaliya, bagian gawat darurat. Kondisi Rumah Sakit ini sudah sangat memprihatinkan, para dokter melakukan bedah di koridor-koridor rumah sakit, pasien bergeletakan di mana-mana, banyak korban sekarat sebelum mereka akhirnya mendapatkan perawatan. Persedian beberapa macam obat-obatan dan bius habis sehingga kami harus melakkan pertolongan seadanya.

***

Setelah beberapa hari disini aku dapat melihat dengan jelas kekejaman israel. Kebanyakan korban adalah anak-anak. Yang lebih buruknya, mereka menggunakan senjata fosfor putih. Bukan hanya aku yang berpendapat demikian, dokter-dokter lain juga berpendapat sama. Indikasi penggunaan fosfor putih dapat dilihat dari keadaan pasien, kebanyakan pasien menderita luka terbakar. Israel sudah tak berprikemanusiaan, bahkan mereka seolah tak lagi punya hati untuk sekedar memberi pelakuan yang baik kepada orang-orang yang telah dibunuhnya.

“Oh, Tuhan aku tidak pernah melihat pemandangan mengerikan seperti ini,” aku berkat sambil tersedu.

Aku biasa menangani korban terluka dan tewas akibat serangan Israel di jalur gaza dalam berbagi kondisi, tapi tidak dengan satu ini. Aku hampir tak percaya yang kulihat.

“Dokter, saat anakku sadang bermain dihalaman rumah, tentara israel menembak secara membabi buta. Melihat dia tergeletak mengenaskan, kami berusaha meraihnya. Tapi, serdadu Israel mengusir kami dengan hujan peluru. Kami meninggalkan Saad sendirian dan tentara israel melepaskan anjingnya. Dokter, ternyata anakku dijadikan santapan anjing mereka.” Mahmud, ayah Saad, bocah laki-laki berusia dua tahun, bercerita sambil menangis.

“Anjing-anjing itu hanya meninggalkan satu bagian utuh bayi malang itu,” aku berkata, dengan air mata berderai, saat menuturkan cerita tragis ini kepada wartawan.

Muhammad yusuf, tetangga saad yang juga melihat peristiwa ini, menilai tentara Israel sangat mengetahui apa yang mereka lakukan. “Mereka manghalau dan mencegah keluarga yang ingin mengambil manyat Saad, karena mengetahui anjing-anjing mereka akan memakannya,” katanya, menahan amarah.

Setelah peristiwa Saad, keluarga Husan Omran juga mengalami hal yang sama. Saat Husan Omran dan saudaranya sedang mencoba menguburkan tiga anaknya yang tewas, secara tiba-tiba tentara israel mencegah acara penguburan itu dengan berondongan peluru. Saat mereka menjauh, tentara israel melepaskan anjing-anjing pelacaknya ke arah tubuh-tubuh itu.

“Apa yang terjadi ini sangat mengerikan dan tidak terbanyangkan, “ kata Husan Omran. “Mereka bukan hanya tewas didepan mata kami, tapi kami juga dicegah untuk menguburkan mereka. Orang-orang Israel melepaskan anjing-anjing ke arah tubuh-tubuh mereka, seakan yang mereka lakukan belum cukup,” katanya sambil menangis.

***

“Druuu, wung….,” suara pesawat terdengar jelas diseluruh rumah sakit ini.

“Tidak, kita akan diserang,” seorang pasien berteriak panik.

‘Tenang-tenang jangan panik, rumah sakit tidak akan diserang,” William bersaha menenangkan pasien.

Aku terpaku, tubuhku menggigil. “Gawat, Israel akan menyerang kita. Mereka tidak pandang bulu,” aku mondar-mandir, panik dan takut.

“Hai, kau harus tenang, kau dokter. Jika kau tidak tenang, pasien akan lebih panik,” bentak Ahmed, kolegaku, sesama dokter dari Norwegia.

Aku berusaha lebih bersikap tenang. Walaupun ini rumah sakit Israel tidak akan segan menembakan misilnya, sudah beberapa klinik dan rumah sakit yang menjadi sasaran. Kemarin aku mendapat kabar, di Jabaliya seorang dokter Palestina dibunuh tentara Israel. Dia dan timnya sedang menolong korban serangan israel, saat memasuki gedung yang tadinya sudah diserang tentara israel, ternyata beberapa menit kemudian sebuah helikopter menembakan misilnya ke gedung. Dokter bersama timnya dan beberapa wanita dan anak-anak tewas seketika. Tentara Israel memang biadab, tak ada lagi sejengkal pun tempat yang aman untuk berlindung dari kebuasan mesin-mesin perang Israel. Mereka menghancurkan mesjid-mesjid, rumah-rumah, kantor berita dan rumah sakit. Yang lebih sadisnya mereka menghancurkan sekolah milik PBB tempat penduduk berlindung. Ya, tak ada tempat yang terlepas dari serangan israel termasuk rumah sakit ini.

***

“Dokter ayo cepat!”

“Aku segera masuk ke dalam ambulan.”

Aku dan kolegaku, Ahmed, masuk ke ambulan yang berbeda. Aku menuju sekolah Al falluj, utara Jabaliya, sekolah itu terkena serangan udara israel. Sedangkan Ahmed menuju ke sebuah rumah runtuh, di dekat mesjid kota Jabaliya, didalamnya terdapat sebuah keluarga. Dari kejauhan, kami melihat ambulan yang di tumpangi Ahmed ditembaki arteleri Israel. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi dengan mereka.

“Ayo cepat, anak ini sudah sekarat,” aku keluar dari ambulan membawa seorang anak yang terluka.

“Wuing, dum.”

Aku melihatnya jelas. Pesawat Israel menjauh setelah melepaskan misilnya di sekitar rumah sakit Al-Awda. Kedua misilnya terjatuh dihalaman parkir yang penuh kendaraan, 15 meter dari pintu gawat darurat. Pintu gawat ikut hancur, petugas medis sibuk memadamkan api di sekitar pelataran parkir. Beberapa menit aku terpaku. Astaga, aku terlupa, anak ini harus segera ku tolong.

“Halo paman yang baik hati!” anak ini tersenyum.

“Jangan bicara dan bergerak dulu, kamu sedang sekarat. Aku akan menolongmu.”

“Tidak usah, sudah tidak apa-apa kok,” dia melepaskan pelukanku.

“Tapi kamu terluka parah, lihat tubuhmu terbakar. Loh mana luka bakarmu?”

“Terimakasih telah membantuku. Aku ingin menemui ibu.” Anak ini berdiri sempurna. Dia pergi meninggalkanku.

Saat ingin mengejarnya, aku melihat Ahmed datang bersama ambulan yang lain. Kakinya terluka. Aku ingin segera mengobatinya.

“Ahmed! Aku akan mengobatimu.” aku menghampirinya.

“Abu khaely!” Dia menangis.

“Ada apa? Kenapa kau memanggil namaku sambil menangis? Ada apa denganku? Aku baik-baik saja. Lihatlah, tak ada luka sekecil apapun pada tubuhku!” Aku tersenyum pada Ahmed.

Petugas medis membawa Ahmed ke ruang gawat darurat, mereka tidak memperhatikan aku. Beberapa meter dari ruang gawat darurat orang-orang sedang sibuk mengangkut mayat yang terkena misil Israel. Saat misil diluncurkan, banyak ambulan yang sedang keluar masuk membawa korban. Korban dokter dan petugas medis yang tewas bertambah. Aku melihat tubuhku dibawa masuk ke dalam rumah sakit.

Jakarta, 2010

Mengenang peristiwa penyerangan Israel ke Jalur Gaza pada akhir masa kepemimpinan Bush.

Citra Nuraini

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *