Ojo Seneng Maido

2 Comments

Seperti biasa, sebelum azan subuh Ani sudah terbangun dari tempat tidurnya. Berkeliling menyusuri gang kecil yang hening bersama adiknya yang masih balita. Kegiatan ini mesti dilakoninya, sebelum berangkat ke sekolah.

Tidak seperti hari biasanya. Ketika jarum jam sudah jatuh pada angka lima, Ani bergegas menuju kamar mandi mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sebuah sekolah Madrasah Aliyah (MA) yang terletak tidak jauh dari rumahnya, Assalam nama sekolahnya. Tapi hari itu Ani terlihat masih asyik menyuapi adiknya dengan sebuah pisang yang di atasnya disirami susu kental manis.

“Jam berapa nak pengumumannya,” tanya Ibunya yang pagi itu tengah sibuk membetulkan sapu lidi. “ Seharusnya jam 12 tadi sudah keluar, Bu,” sahut Ani. “ Jam delapan saya ke sekolah deh,” janjinya. Memastikan kepada Ibunya bahwa hasil Ujian Nasionalnya tidak mengecewakan. “ Ini Mbak, kamu yang teruskan,” Ani menyodorkan sarapan adiknya kepada saudaranya yang pagi itu sedang membersihkan kaca rumah.

Jarum jam baru menunjukan angka enam, Ani sudah bersiap. Lengkap dengan seragam dan atribut sekolahnya. “ Hei, Nak, tunggu dulu,” pinta Ibunya. Langkah Ani terhenti tepat di depan pagar rumah. Kemudian Ibunya berkata, “ kerudungmu belum dipakai.”  “ Ah, sudahlah Bu, aku cuma lihat pengumuman,” bantah Ani bergegas menyalakan sepeda motor dan menancapkan gas.

MA  Assalam masih terlihat lengang. Pagar hijau yang menjulang tinggi itupun belum terbuka dengan lebar. Hal ini sengaja dilakukan oleh penjaga sekolah. Biasanya pagar baru terbuka lebar setelah jarum jam menunjukan angka tujuh.

“ Pak Dek, tolong buka pagarnya,” bentak Ani sambil menekan klakson motornya terus menerus. “ Berisik,” kata Pak Dek penjaga MA Assalam. Di parkirnya motor di samping tembok pagar, tanpa mengunci kendaraan Ani segera menuju ruang tata usaha.

Di ruang tata usaha ternyata sudah berkumpul sepuluh siswa kelas tiga MA Assalam. Dua orang diantaranya adalah teman sekelas Ani. “ Di rumahku modemnya eror, makanya aku putuskan kesini,” Ani memberi alasan kedatangannya kepada dua teman sekelasnya.

“ Aku lulus, tapi belum tau nilainya,” jelas Mitha. “ Pak Badrun, tolong dicek nomor ujian ini,” pinta Ani tak sabar ingin mengetahui nasib nya. “ Tenang Ni, Assalam lulus seratus persen kok,” ucap Mitha yang baru saja mendapatkan informasi dari Badrun, Kepala Tata Usaha MA Assalam.

Mendengar itu Ani pun tak beraksi apa-apa, “ sesuai dugaanku,” katanya sombong. “ Sekarang aku mau langsung ke rumah, dan memberitahu kepada kedua orang tuaku,” pamit Ani kepada semua orang yang pagi itu berada di ruang tata usaha MA Assalam.

Sesampainya di rumah, Ani disambut dengan ocehan Bapaknya, “ kamu pecicilan gak pake kerudung. Mau jadi apa hah!” Ani hanya menundukan kepala. Dikuncinya sepeda motor, kemudian Ani melangkahkan kaki menuju tempat di mana Bapaknya sedang menyiram tanaman. Ani menyodorkan tangan dan mencium tangan Bapaknya yang sedang memegang selang.

Ani menjulurkan mulutnya dekat sekali dengan telinga Bapaknya dan berbisik, “ Pak, aku lulus.” Sontak, Bapaknya terpingkal kaget membuang selang dan memeluk erat tubuh Ani. “ Selamat Nak, akhirnya bapak punya keturunan seorang guru,” ucap Bapaknya yang mengharapkan Ani segera melanjutkan ke perguruan tinggi dan mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Ani kaget, dan bertanya kepada Bapaknya, “ bagaimana dengan UI dan STAN. Ani sudah mendaftar ujian masuknya, Pak.” “ Sudahlah biarkan saja, besok kamu segera pergi ke UNJ. Bawa uang pendaftan dan daftarkan dirimu ke ujian masuk Penmaba,” tegas Bapaknya.

“ Lebih baik Ani tidak kuliah Pak kalau begitu. Mending kerja saja jadi SPG atau kasir,” sahut Ani. “ Lihat saja tetangga kita alumni Pendidikan Sejarah UNJ. Kerjanya setiap hari nongkrong di belakang etalase berjejer voucher pulsa,” imbuh Ani memberikan alasan kepada bapaknya. “ Ini sudah kemauan bapak. Jadi anak ojo seneng maido,” tegas bapaknya. Kemudian aktifitas menyiram pohon segera dihentikan, dan Bapaknya mengunci rapat pintu rumah. Ani hanya bisa menangis dan mengadu kegelisahannya pada bantal dan guling di kamarnya.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *