Sosok Wanita dalam Fiksi

4 Comments

Tetapi wanita zaman sekarang adalah biasa memiliki pendididikan tinggi, biasa merawat diri, atau bersolek menjadi cantik.

Sruuuuuppppp. Aku menghisap rokok. Jemari tanganku memainkan rokok dengan enaknya. Rokok yang aku hisap mengeluarkan asapnya. Aku menggunakan rok mini yang tinggi. Sepatu hak tinggiku cukup membuat tubuhku terganggu. Terurai rambut panjang hitamku.  Dress bunga-bunga yang tadi pagi baru ku ambil dari lemari tersemat di tubuhku. Makanan pesananku yang sejak tadi masih terletak di atas meja, belum tersentuh.

Sayup-sayup terdengar suara wanita di seberang sana. Wanita itu menggunakan kerudung biru . Dalam hatiku aku berkata gadis yang manis. Melirik ke arahku dan berbicara pada pria di seberang mejanya. Meski suara wanita itu kecil tetapi terdengar olehku, dia berkata aku cantik namun sayang aku merokok. Suara pria di seberang mejanya berkata dengan suara yang terdengar cukup jelas. “Sari ngerokok tapi kog lo nggak merasa empati”. Gadis berkerudung itu menjawab, “Sari beda wa, gue udah biasa ngeliat dia ngerokok”. Gadis itu bermata binar ketika membicarakan aku. “Cantik banget wa, kayak boneka barbie”. “Hanya saja sayang banget  ya, dia ngerokok”. Pria di seberangnya nampak melirik aku, mungkin memastikan apa yang wanita seberang mejanya katakan. “Terus kenapa emang kalo dia ngerokok”. Terdengar olehku wanita di seberangnya menjawab, meski agak lirih suaranya. “Iya, sayang aja, bisa ngerusak badan”. Nampaknya gadis itu mencoba mendebat dengan pria di sebelahnya. Namun pria di seberang meja itu nampak acuh tak acuh.

Dua temanku sudah mulai melahap makanannya. “Lo, nggak makan?”. “Iya nih gue makan”. Setelah aku menghabiskan rokok di tanganku. Terpaksa sepagi ini aku mulai melahap makananku sambil merenung bacaan tentang sosok wanita dalam fiksi. Tentu saja aku harus memulai dengan rasa kagum satu kata yang pantas disematkan bagi penggambaran sosok nyai Ontosoroh dalam novel Bumi manusia karangan Praomoedya Ananta Toer. Awalnya diceritakan bahwa statusnya sebagai gundik, rendah di mata masyarakat pada masa itu. Tetapi perilakunya yang ajaib menjadikan dengan sendirinya  sosok wanita yang di hormati. Idealnya wanita zaman itu pendidikannya dapat dikatakan rendah, orientasi mereka pada waktu itu hanya memandang dapur dan menyenangkan suami adalah bagian utama dalam kehidupan mereka. Berbeda dengan mereka, nyai Ontosoroh mendapatkan pengajaran dari suaminya, Herman Mallema. Digambarkan di situ bahwa nyai Ontosoroh berperan sebagai murid yang baik, di sisi pengajaran Herman Mallema. Nyai ontosoroh dapat membaca dan menulis, tidak hanya berhenti di situ, nyai Ontosoroh dapat pula berbahasa Belanda. Jika bicara dia sangat terpelajar dan pemikirannya pun matang. Di tangannya ia mengurus manajemen peternakan yang ia miliki bersama suaminya. Ketika zaman itu sosok nyai Ontosoroh telah mewakili sosok wanita yang unggul.

“Ayam bakar yang aku makan, sedikit demi sedikit mulai habis”. Lalu aku merenung ke novel tentang wanita yang lainnya yang cukup melekat dalam ingatanku. Berbeda penggambaran wanita di novel Ronggeng Dukuh Paruk. Srintil, meski wanita bukan terpelajar, jalan hidupnya mengarahkan dia untuk menjadi ronggeng. Di dukuh paruk menjadi seorang ronggeng dianggap memiliki suatu kehormatan tertentu. Karena tidak sembarang orang bisa menjadi ronggeng. Mereka yang bisa menjadi ronggeng adalah mereka yang dipilih oleh leluhur. Srintil dapat dikatakan wanita unggul dalam wilayah bernama Dukuh Paruk itu, berbeda dengan Nyai Ontosoroh yang unggul tidak hanya bentuk fisiknya yang anggun dan cantik tetapi juga perilaku dan kematangan pemikirannya, Srintil mengunggulkan kecantikan dalam dirinya, terang saja kecantikan saja di Dukuh Paruk bisa menjadi unggul, karena Dukuh Paruk merupakan desa yang tertinggal. Srintil mewakili wanita yang pandai merawat diri, pandai urusan dapur atau urusan tempat tidur. Keunggulan Srintil adalah lebih dari siap untuk menjadi seorang istri untuk berumah tangga. Namun di situ digambarkan sangat tidak mungkin Srintil di peristri oleh satu orang karena Srintil milik orang banyak. Siapa saja dapat memilikinya, asalkan ia mampu membayar dengan harga yang pantas.

Aku bayangkan lagi yang menarik dari  kedua tokoh ini digambarkan dengan sangat detail oleh penulis pria. Rupanya diam-diam wanita bisa sangat menginspiratif mereka melebihi apa yang bisa di kira.Wanita-wanita unggul di masa sang penulis itu menurutku.

Aku terbayang ada hal-hal yang bisa ditiru dari mereka, sosok wanita dalam fiksi ini. Keunggulan mereka bisa memacu wanita lain yang membacanya, untuk maju seperti mereka. Wanita zaman sekarang harus memiliki sosok yang tepat untuk ditiru. Tetapi wanita zaman sekarang biasa memiliki pendididikan tinggi, biasa merawat diri, atau bersolek menjadi cantik. Rupanya perkembangan zaman telah mengantarkan mereka ke tempat itu. “Selesai makan, selesai sudah perenunganku ”. Wanita berkerudung biru yang tadi terpaksa membuatku merenung tentang sosok wanita yang baik, sudah pergi berlalu bersama teman prianya.

 Indah Hidayatie

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *