Tato Mentawai Tinggal Kenangan

4 Comments

Pemerintah lewat SK 167 tahun 1954 memerintahkan masyarakat Mentawai meninggalkan Arat Sabulungan

Kebiasaan bertato di Mentawai merupakan proses masyarakat memenuhi kebutuhan Spiritual. Inilah yang disampaikan oleh Ruhung Nasution, seorang penggemar tato dalam diskusi film, “Mentawai Tattoo Revival.” Acara yang berlangsung pada, Kamis, (7/6) ini bertempat di Studio PKPM UNIKA Atma Jaya, Jakarta.

Kebiasaan bertato di Mentawai sudah menjadi peninggalan leluhur. Sebab sejak zaman Sukarno, tato yang menjadi kultur masyarakat Mentawai di larang melalui Surat Keputusan 167 tahun 1954. ” Isi keputusan itu memerintahkan masyarakat Mentawai meninggalkan Arat Sabulungan.” Jelas Dosen Fakultas Hukum UNIKA Atma Jaya Rianto Adi, yang menjadi pembicara dalam rangka perayaan Dies Natalis LPM Viaduct ke-16 ini.

Hari ini, tidak ada generasi muda yang mau meneruskan kebiasaan bertato Mentawai. Hal ini disebabkan oleh kepentingan politik, yang menggerus sebuah kearifan lokal. ” Saya putuskan untuk bertato sejak tahun 2008,” kata Esmat Wandra Sakulok seorang pemuda Mentawai. Bercita ingin meneruskan kembali kebiasaan leluhurnya ini. Meskipun Esmat lebih tertarik pada gambar-gambar tato Amerika dan Asia. ” Tadinya saya mau gambar naga,” tambah pria yang sudah berada setahun di Jakarta.

Sudah banyak kearifan lokal yang tergerus oleh kepentingan politik. Negara atas nama agama melarang masyarakatnya bertato. ” Produk hukum yang melarang kearifan lokal itu atas dasar arogansi penguasa. Bukan kontrak sosial.” Terang Rianto Adi menyesalkan sikap pemerintah yang tidak menjalankan tugasnya yaitu, melindungi segenap warganya.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *