Ketidakmengertiaan Terhadap Marx

No Comment Yet

Teori Marx tidak mengasumsikan bahwa kebutuhan manusia tertuju hanya pada materi. Lebih dari itu Marx menginginkan manusia terbebas dari tekanan-tekanan ekonomi. Terbebas dari alienasi, supaya manusia menjadi manusia dari dirinya sendiri. Makanya ia disebut sebagai seorang berpaham humanis-naturalis. (Erich Fromm)

Dipuja sekaligus dibenci. Hal ini pantas ditujukan pada filusuf paling berpengaruh di abad 20 yang bernama Karl Marx. Sosoknya menjadi perbincangan bagi publik dunia manakala buah pikirnya menjadi momok menakutkan bagi dunia kapitalisme barat. Di Indonesia, sosoknya pun menjadi cemoohan, bahkan berujung pada pembantaian terhadap orang-orang yang diduga terpengaruh ajaran Marx, yang kita kenal dengan G 30 S (padahal sampai saat ini masih simpang siur siapa yang mesti bertanggungjawab). Dan terakhir adalah justifikasi Prancis Fukuyama seiring runtuhnya Uni Sovyet, bahwa ajaran Marx telah gagal dan kapitalisme adalah jawaban permasalahan manusia di dunia, “akhir sejarah,” katanya.

Praktek Uni Sovyet dan China sebagai negara yang mengaku penerjemah ajaran Marx murni turut pula membuat kesalahpahaman sosok Marx. Ajarannya dipandang publik dunia sebagai pengusung kekejaman, memeberangus nilai-nilai spiritual, dan hak milik pribadi. Harus diakui bahwa negara-negara komunis tersebut telah membuat berjuta rakyat jatuh dalam lembah kematian.

Negara-negara itu pun mensubordinasikan rakyatnya ke dalam birokrasi yang menjadikan manusia-manusia robot dan otomat, dengan dalih menuju sosialisme. Padahal praktek macam ini tak ubahnya sistem kapitalisme itu sendiri yang mereka anggap musuh.Bahkan di China salah satu kritik Dengxiaoping adalah Komunisme ala-Mao membuat para buruh dan petaninya tidak giat bekerja, karena pemerintah terlalu menekankan kesamaan pendapatan. Tak peduli tinggi atau rendah mobilitas kerja petani-buruh tersebut.

Ternyata banyak sekali kesalahan dan ketidakmengertian terhadap sosok dan buah pikirnya tersebut. Mungkin tulisan ini berangkat atau bagian dari ketidakmengertiaan itu juga. Orang dengan lantang berbicara Marx seorang atheis (anti agama), ia seorang pengusung paham materialis (dalam artian memuja harta benda, dan tujuan utama manusia adalah kepuasaan badaniah/hedonisme).

Orang-orang berpendapat bernada fitnah seperti itu memang tidak terlepas dari kebebasan berbicara mengenia Marx. Tanpa dilatarbelakngi landasan keilmuan atau bacaan yang bisa dikatakan valid. Karena lembaga sekolah pun tidak menjadi pionir pembelajaran lebih jelas tentang Marx. Selain itu, kampanye yang mendistorsi ajarannya secara masif dan strukutural sangat berpengaruh bagi citranya menjadi sangat dibenci.

Padahal, menurut Erich Fromm dalam bukunya Manusia menurut Marx (Pustaka Pelajar :2004), bahwa Marx merupakan sosok yang begitu humanis, yakni menentang segala penindasan manusia. Menurut Marx, manusia akan hidup hanya jika ia produktif, menguasai dunia di luar dirinya dengan tindakan untuk mengekspresikan kekuasaan manusiawinya yang khusus dan menguasai dunia dengan kekuasaannya ini.

Manusia menurutnya benda mati jika ia tidak bekerja. karena, hasil kerjanya merupakan esensi ia sebagai manusia. Dan pada dasarnya manusia adalah makhluk yang butuh sebuah pengakuan terhadap apa yang diciptakannya. Ibarat seorang pria yang menyukai lawan jenisnya, otomatis pria tersebut mengharapkan perasaan yang sama dari lawan jenisnya tersebut. Karena perasaan itu bersifat alamiah atau natural.

Maka dari itu, Marx memandang suatu hal yang bisa mengetahui tentang manusia adalah perwujudan dirinya melalui kerja. Dan buruh adalah manusia yang tidak bisa menunjukkan perwujudan dirinya, makanya ia merupakan manusia yang terdehumanisasi. Buruh adalah manusia yang terasing, karena ia tidak bisa menikmti hasil kerjanya. Ia bekerja hanya untuk mempertahankan hidup, bukan perwujudan wataknya sebagai spesies manusia. Buruh adalah manusia yang teralienasi. Dan Marx menetang segala macam proses dehumanisasi manusia oleh manusia tersebut.

Menurut penulis bukankah para nabi utusan Tuhan pun diutus untuk melawan penindasan dan membawa risalah yang bertujuan kesejahteraan. Erick From berani mengatakan Marx seorang Messianis profetik karena prinsip ajarannya yang humanis.

Marx telah melawan tesis-tesis gurunya, termasuk Hegel atau pun Feurbach. Ia mengatakan “para filusuf telah menafsirkan dunia, padahal yang terpenting adalah mengubahnya,” ujarnya. Di sini Marx ingin filsafat mampu bergerak dan bukan sebagai alat status quo. Ia menjadikan filsafat sebagai pembebas dari penindasan, dari kemiskinan, bukan memperoleh materi sebanyak-banyaknya. Jelas ia seorang humanis.

Ia mengkritik agama sebagai candu manusia. Karena ia melihat agama (pada waktu itu gereja) hanya menjadi belenggu dan malah alat penindas, selain penguasa. Agama cenderung tidak mempunyai taji, karena agama melemahkan manusia dan menurut si miskin/tertindas, “biar saya miskin/ditindas di dunia, tapi diakhirat mudah-mudahan mendapat kebahagiaan”. Padahal, seorang nabi Muhammad, atau Yesus pun tidak mengajarkan umatnya pengecut macam itu.

Mereka tidak hanya diam merenung membaca do’a di ruang ibadah. Mereka tidak hanya berkhotbah, menceritakan kenikmatan-kenikmatan surga akhirat. Tapi para utusan Tuhan itu bergerak di tataran bawah masyarakat, janda, budak, dan rakyat jelata lainnya mereka bebaskan. Tak jarang cacian dan lumuran darah mereka alami dari orang-orang atau penguasa yang merasa terancam oleh tindakannya. Mungkin jika mereka tidak seperti itu ajaran mereka pun tidak akan diterima.

Namun, saat ini orang-orang yang mengaku beragama (mungkin juga saya) saat ini malah teralienasi dengan memuja harta keduniawiannya. Seperti mobil, baju, sepatu, uang, bahkan buku sebagai sarana pembebas pun telah menjadikan lupa manusia akan sikap sosialnya. Sikap ini pun didukung oleh penguasa dengan mebiarkan menjamurnya bermacam-macam produk-produk kapitalis yang menggoda kita untuk memilikinya. Atau meminjam istilah Iwan Fals, bahwa “hari-hari kita diisi hasutan hingga tak tahu diri sendiri”. Spinoza, Freud, Hegel, dan Marx menyebut ini sebuah ‘kesadaran palsu’, karena kita telah banyak teralienasi.

Di sinilah Marx berpandangan bahwa manusia harus menjadi kuat, harus mampu berdikari. Harus sadar akan kebutuhannya sendiri, yakni terbebas dari tekanan ekonomi. Membuat surganya sendiri di dunia, dan tak harus menunggu surganya yang ada di akhirat. Seperti firman Tuhan bahwa, Ia tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu tidak mengubanya sendiri.

Tak heran jika para bapak bangsa pun memakai prinsip ajarannya sebagai alat perlawanan terhadap penjajah. Tercatat seorang Misbach, Tan Malaka, Syahrir, Sukarno bahkan Hatta adalah orang-orang yang terang-terangan ideologinya terpengaruh ajaran Marx. Maka dari itu, tak salah jika kita coba membuka pikiran perihal ajaran Marx ini dan tak langsung menjustifikasi tanpa sebuah landasan yang jelas.

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *