Mayat Itu Bernama, SNMPTN

1 Comment

Masyarakat bawah harus mengubur keinginannya untuk masuk ke perguruan tinggi 

Hingar bingar pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) tahun ini sampai juga ke telinga Trikustia Ningsih. Seorang karyawan disalah satu apotik swasta Jakarta ini mengungkapkan kegelisahannya, menyoal rendahnya keinginan lulusan sekolah menengah melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi. “ Waktu itu dari 40 orang teman sekelas saya, di antara mereka termasuk saya, tidak ada yang mendaftar SNPMTN.” Kenang gadis yang pernah bersekolah di Sekolah Menengah Kejuran Negeri (SMKN) 21, Jakarta Pusat.

Meskipun tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menambah kuota mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat jalur SNMPTN, sebesar sepuluh persen. Tapi hal ini ditampik dengan belum terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap PTN. Masyarakat masih menganggap bahwa PTN tidak bisa menjawab permasalahan yang terjadi di kehidupannya. Dari mahalnya biaya pendaftaran SNMPTN, kenaikan biaya pendidikan tiap tahunnya, sampai belum adanya jaminan kerja bagi lulusan PTN. Adalah sederet kekhawatiran yang hinggap di masyarakat.

Trikustia Ningsih salah satunya, sewaktu lulus sekolah menengah pada tahun 2007. Dia harus mengurungkan niatnya untuk mencicipi bangku kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia (UI). Dikarenakan tidak adanya biaya untuk mendaftar SNMPTN, dan biaya pendidikan yang harus dibayarnya jikalau diterima menjadi mahasiswa di kampus yang banyak mengisi pos-pos pejabat di negeri ini.

“ Jangankan SNMPTN, Mas. Buat nebus ijazah SMK saja susah,” keluh gadis yang biasa disapa Tia ini sambil merapikan obat-obatan di tempatnya bekerja. Tia juga menjelaskan, sekarang dirinya sudah mengubur dalam-dalam keinginannya berkuliah di Fakultas Kedokteran. Menurutnya, mengetahui obat untuk jenis penyakit tertentu, bisa dilakukan tanpa harus berkuliah di sekolah kedokteran. Sekarang gadis yang lahir dari seorang ibu berprofesi sebagai penjual nasi uduk, dan almarhum ayahnya yang hanya bekerja sebagai supir metro mini ini. Sudah menjadi supervisor pada apotik swasta yang memiliki tujuh cabang di Jakarta. “ Saya lulusan akutansi. Tapi sekarang saya mampu meracik obat,” ungkapnya.

Mengubur Mimpi Menjawab Realita

Senada dengan Trikustia Ningsih, Devita juga harus mengurungkan niatnya untuk mengenyam bangku kuliah Di Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dikarenakan keterbatasan ekonomi. Menurutnya, biaya pendidikan di PTN hari ini sama dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), sehingga sulit diakses oleh orang sepertinya. Bagi Devita tidak ada alternatif lain setelah lulus sekolah menegah atas selain bekerja.

“ Ketimbang harus berlomba-lomba ikut SNMPTN. Mending saya bergegas melamar kerja musiman di Pekan Raya Jakarta (PRJ),” terang gadis yang menjadikan acara Jakarta Fair sebagai momen meneguk rupiah. Devita sendiri bukan tidak yakin pada kemampuannya ketika membayangkan ikut SNMPTN. “ Ujian Nasional saja saya lulus, masak SNMPTN gak bisa,” gumam gadis yang kini berstatus alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Taman Siswa, Jakarta Pusat.

Devita juga menjelaskan, meskipun sekarang sudah ada beasiswa Bidik Misi yang berguna memberi akses bagi orang tidak mampu untuk berkuliah di perguruan tinggi. Hal itu tidak menjamin dapat menyelesaikan masalah. “ Bagaimana mau tahu. Di sekolah saya saja tidak ada pengumuman jalur SNMPTN undangan ke siswanya, apalagi Bidik Misi. Untuk pergi ke Warnet saja masak mesti ngutang dulu,” jelasnya.

Menjadi sebuah hal yang dilematis memang. Di satu sisi jauh dari realita, pemerintah menambah kuota mahasiswa baru PTN di tengah belum adanya sarana dan prasarana yang memadai guna menunjang berlangsungnya perkuliahan. Di sisi lain, PTN belum mampu meyakinkan masyarakat atas keberadaannya. Yang semula difungsikan untuk menjawab permasalahan masyarakat, melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Syahdan, bekerja menjadi kuli upahan merupakan solusi kongkret bagi masyarakat kalangan bawah yang tidak mampu mengakses perguruan tinggi. Guna menjawab kebutuhan sehari-harinya akan sandang, pangan, dan papan. Di tengah miskinnya solusi kongkret yang seharusnya dipersembahkan perguruan tinggi kepada masyarakat.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *