Matinya Hotspot Masjid

5 Comments

Nampaknya benar kata pepatah perantau, tidak ada gratis di di kota sebesar Jakarta. Ini pula yang berlaku bagi para mahasiswa pemburu wifi (baca hotspot) gratis di lingkungan kampus UNJ. Semua mahasiswa UNJ mafhum, hotspot di kampus pencetak guru ini, bisa dikatakan sama sekali tak bisa diandalkan.

Meski sebenarnya di tiap fakultas, fasilitas hotspot pun tersedia, namun kebanyakan dengan kualitas sangat rendah. Dan lagi, kalupun ada yang yang berkualitas tanpa lelet pun itu pasti terkunci password.

Kini, penderitaan para pemburu hotspot makin bertambah lengkap. Mereka harus gigit jari setelah sinyal hotspot di area Masjid Nurul Irfan ini pun hilang dari peredaran. Ini lantaran kerjasama antara Dompet Dhuafa, sebuah lembaga amil zakat nasional, dengan Masjid Nurul Irfan sudah berakhir. Bisa dibilang, hotspot sejuta umat inilah yang paling stabil di antara hotspot-hotspot yang ada di kampus UNJ.

Ini kian menambah daftar panjang masalah hotspot UNJ yang bermasalah sejak dua tahun belakangan. Sesuai proposal kerjasama, Dompet Dhuafa, melaui program sodhaqoh untuk umat, menyediakan intenet hingga hanya satu tahun, lewat satu tahun, pihak masjid harus membayar biaya langganan normal.

Ade, Dewan Kepengurusan Masjid, mengungkapkan, program kerjasama dengan dompet dhuafa sesuai proposal hanya berlaku setahun, setelah itu wifi harus dibayar tiapa bulan sebesesar 1,5 juta rupiah. “Jariyah tiap minggu saja gak sejuta” ujar pria tambun ini.

Reski, mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi benar-benar dongkol dengan keadaan ini. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin kampus negeri di Ibukota sebesar UNJ, tak bisa menyediakan akses internet yang layak untuk mahasiswanya. “Hotspot UNJ tak bisa diandalkan”, ungkap aktivis dakwah ini, mahasiswa pemilik samsung galaxi ini terpaksa kehilangan kebiasaanya, berselancar dunia maya saat menjelang dan sesudah solat.

Harga yang harus dibayar 1,5 juta, Jumlah tersebut tentu terlalu berat untuk pengeluaran bulanan sekelas rumah ibadah yang mengandalkjan pemasukan dari jumatan. Namun logika sangat tak masuk akal jika UNJ dengan anggaran yang mencapai ratusan milyar rupiah tak sanggup menyediakan akses yang sejatinya hak wajib untuk mahasiswa tersebut.

Realitas ini tentu sangat paradoks kondisi keuangan UNJ. Dengan naiknya pembayaran semester yang terus merangkak naik, tanpa berprasangka, hotpot mengajarkan bagaimana logika berjalan mengungkap sebuah ketidakberesan pejabat rektorat dalam mengelola kampus eks IKIP ini, kampus yang tak segan merogoh uang mahasiswa puluhan juta tiap tahun hanya sekadar perkara merawat mobil dinas Pak Rektor.

 

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *