Si Pemburu (Hantu) Komunis

1 Comment

Judul : Sarwo Edhie dan Misteri 1965
Penulis : Tempo
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Juni 2012
Tebal : xiii+114 hlm
Harga : Rp 45.000

Massa dikoordinasi oleh tentara guna memburu dan membunuh anggota PKI beserta simpatisannya

Dalam bukunya berjudul, Palu Arit Di Ladang Tebu. Hermawan Sulistyo bersaksi bahwa masa kecilnya pernah menyaksikan mayat-mayat mengapung di Sungai Bengawan, yang melintasi Madiun. Banyak di antaranya sudah tidak berkepala lagi. Berita yang sampai ke telinganya, bahwa mayat-mayat itu adalah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan simpatisannya.

Hari ini pun menjadi saksi. Dalam sejarah pembunuhan massal sepanjang abad ke-20 di dunia, pembantaian anggota dan simpatisan PKI pada 1965-1966 adalah salah satu yang terbesar. Hal ini bermula pada peristiwa yang terjadi tanggal 1 Oktober 1965. Di mana tujuh jenderal pimpinan puncak Angkatan Darat (AD) ditangkap, dan berujung tiga orang tewas ditembak di rumah masing-masing. Empat orang lainnya kemudian dibunuh di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Kejadian ini merupakan representasi konstelasi politik nasional yang terjadi kala itu. Di mana PKI kemudian disudutkan sebagai tersangka. Dari serentetan peristiwa yang diduga ingin melakukan coup terhadap pemerintahan Republik.

Dalam rapat di Halim yang dihadiri oleh Jenderal Abdul Haris Nasution selaku Menteri Koordinator Pertahanan kala itu. Dan Suharto yang masih menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. Memerintahkan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Sarwo Edhie untuk bergerak mengamankan situasi. Syahdan, kejadian ini mengawali dan kemudian dimangfaatkan Suharto melibas Gerakan 30 September, dan menumpas PKI beserta simpatisannya sampai ke akar-akarnya.

Keterlibatan elite AD yang membawa nama Sarwo Edhie sebagai orang yang paling ambisius dalam mengejar, menangkap, dan membunuh barisan PKI beserta simpatisannya. Inilah yang ingin diangkat oleh Tempo dalam buku berjudul, Sarwo Edhie dan Misteri 1965. Buku yang berangkat dari seri buku sebelumnya, “Orang Kiri Indonesia” yang bercerita perihal empat tokoh PKI: D.N. Aidit, Sjam Kamaruzaman, Njoto, dan Musso. Adalah kelanjutan dari penelusuran dinamika dan cerita di balik layar seputar Gerakan 30 September 1965.

Buku yang menceritakan masa-masa awal kemenangan TNI AD atas PKI dan zaman ketika Orde Baru dimulai inilah kemudian memunculkan nama Sarwo Edhie Wibowo. Sebagai Komandan RPKAD yang merupakan dalang di balik gerak cepat pasukan khusus memukul basis-basis PKI di Jawa dan Bali. Sarwo ada di garis depan, melakukan dan menyaksikan sendiri pembantaian massal ratusan ribu anggota dan simpatisan PKI.

Membangun Rezim, Menumpas PKI

 Tidak seperti buku sejarah kebanyakan, yang terkesan kaku. Dengan gaya tulisan yang menarik, juga mencantumkan hasil wawancara narasumber. Buku ini menceritakan ulang kepada pembaca apa yang dikatakan kakak Sarwo Edhie, Murdiah Hardiayati. Tentang persitiwa yang terjadi pada keluarganya pertengahan 1942.

Sarwo Edhi Wibowo remaja bersembunyi ketakutan di tepi kali Bogowonto, dekat kampung Kedungkebo. Hari itu, tentara Jepang merangsek masuk ke desanya. “Ibu saya bersembunyi di rumah tetangga, Bapak bertahan di rumah,” tutur Murdiah kepada Tempo awal Oktober lalu. (Halaman 33)

Setelah lulus sekolah menengah zaman Belanda, MULO. Sarwo Edhie mendaftarkan diri menjadi pembantu tentara, heiho. Setelah itu, saat perang kemerdekaan Sarwo Edhie bersama ajakan Ahmad Yani, sesama mantan anggota Pembela Tanah Air (PETA), bergabung dalam Batalion III Badan Keamanan Rakyat. Inilah pertanda awal karier Sarwo Edhie di dunia kemiliteran. Bersama Ahmad Yani teman sekampungnya, yang menjadi teman seperjuangannya di AD kelak.

Saat meletus peristiwa 1 Oktober 1965, di mana Ahmad Yani menjadi korban. Di sinilah nama Sarwo Edhie mulai melejit sebagai orang yang berada paling depan dalam mengamankan situasi saat dan setelah 1 Oktober 1965. Pencarian, penagkapan, dan penculikan terhadap anggota PKI dan simpatisannya oleh tentara dibenarkan mantan Ketua PKI Susukan yang selamat dari amukan massa, Sumarso.

Setelah Mayor Jenderal Suharto dan perangkatnya menguasai situasi, 1 Oktober 1965 menjelang malam, penangkapan orang-orang PKI dan simpatisannya mulai marak. “ Massa dikoordinasi oleh tentara,” kata pria 77 tahun itu. (Halaman 11)

Tidak jelas betul memang buku ini menceritakan kenapa Sarwo Edhi begitu marah dan bencinya kepada PKI. Selain karena peristiwa yang sampai hari ini belum tentu benar bahwa PKI sebagai dalang dari peristiwa tersebut. Sehingga menelan korban jiwa yang salah satunya adalah teman seperjuangan Sarwo Edhie dalam berkarir di militer, Ahmad Yani.

Meski belum terungkap alasan jelas kenapa Sarwo Edhie membenci PKI. Tapi buku ini cukup menerangkan bahwa Sarwo Edhielah yang mengusulkan dan memimpin rekuitmen dan pelatihan pemuda sipil sebagai garda terdepan operasi penumpasan komunis. Hal ini terjadi karena kekurangan personel. Sehingga RPKAD melatih pemuda, sebagian besar angota gerakan Ansor, untuk memburu kader PKI.

Bukti yang mengamini hal ini ialah kejadian dalam rapat umum di Boyolali, Sarwo Edhie bertanya, “Siapa yang mau dipotong kepalanya, saya bayar lima ribu.” Tidak ada jawaban, Sarwo menambah bayaran, “Siapa yang mau dipotong kepalanya saya bayar seratus ribu.” Kemudian Sang komandan kembali mengatakan, “Dibayar seratus ribu saja tidak ada yang mau dipotong kepalanya. Agar kepala Saudara-saudara tidak dipotong dengan gratis, PKI harus dilawan.”

Pada masa itu, Sarwo Edhie adalah sang nemesis: musuh utama kaum komunis. Ketika sungai-sungai di Jawa berubah merah oleh darah korban pembantaian, Sarwo ada di sana. Tangannya juga berlumuran darah.

Nyatanya peristiwa 1 Oktober 1965, sampai sekarang belum juga ditemukan motif yang mendasari peristiwa itu lahir. Ditambah kejahatan kemanusiaan yang telah memakan nyawa ribuan korban bagi mereka yang dituduh terlibat dalam peristiwa tersebut. Sampai hari ini belum juga ada keseriusan dari pemerintah untuk membawanya ke jalur hukum Di mana keadilan harus ditegakan dan membiarkan masyarakat Indonesia tahu sejarahnya sendiri. Tentu sejarah yang tidak dimanipulasi.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *