Dibalik Kemajuan Industri China

2 Comments

Suasana Diskusi Malam Di Wisma Merdeka, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kaum muda desa enggan menjadi petani, mereka lebih memilih menjadi buruh migran

BUKITTINGGI, DIDAKTIKAUNJ.com-  Ada 280 juta penduduk China yang berprofesi sebagai buruh migran. Mereka menyumbang sebagian besar produk dari China yang kini banyak beredar di pasar Indonesia. Buruh migran ini berasal dari desa-desa terpencil yang sudah tidak lagi bergantung pada sektor pertanian.

Inilah yang disampaikan oleh Profesor Wen dalam diskusi malam pada Rabu, (11/7) di Wisma Merdeka, Bukittinggi, Sumatera Barat. “Mereka (baca: buruh migran) datang ke kota tanpa keterampilan industri. Karna dasar mereka adalah petani,” kata pengajar di Renmin University of China yang sedang mengikuti rangkaian acara Workshop Internasional. Yang digagas oleh, La Via Campesina. Sebuah organisasi solidaritas petani internasional di mana beberapa negara Asia, Eropa, dan Amerika Latin tergabung di dalamnya.

Profesor Wen menjelaskan, bahwa produksi industri China yang berlebih sehingga mampu diekspor ke berbagai belahan dunia. Disebabkan karna adanya penindasan yang dilakukan pemerintah terhadap buruh migran. “Buruh bekerja lebih dari 8 jam, ditambah upah yang tidak laik mereka terima,” papar Wen sambil mengacungkan jarinya ke audiens. Hal ini menggambarkan bahwa kini China tengah berfokus menjadikan dirinya sebagai negara industri.

Organisasi-organisasi petani pasca revolusi kebudayaan di China. Kini sudah pudar termakan waktu. Yang terjadi di China kini, orang-orang di desa sudah meninggalkan profesi sebagai petani. Dan beralih menjadi buruh migran di kota-kota besar China.

Sekarang China tengah memulai dari awal untuk menghidupkan kembali organisasi-organisasi petani yang dulu pernah besar, dan berhasil menciptakan revolusi. Hal ini didasari atas semakin besarnya jumlah buruh migran tanpa keterampilan industri. Sehingga menimbulkan berbagai permasalahan sosial.

Ditambah belum terbangunnya kesadaran kaum muda untuk berprofesi sebagai petani. “Di China mereka yang tinggal di desa dan berprofesi sebagai petani adalah kaum tua. Kaum muda China berbondong-bondong meninggalkan desa, dan mendaftarkan dirinya sebagai buruh migran yang mesti rela dibayar murah.” Imbuh lelaki lanjut usia ini yang menjelaskan bahwa ditengah kemajuan industri China. Buruh migran dibayar murah dan jumlah petani China semakin menipis. “Kedepan hal ini berakibat, China dan dunia terancam bencana kelaparan,” tambahnya.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *