Menengok Pertanian Palupuh

No Comment Yet

Di balik bukit, di sanalah padi organik Kecamatan Palupuh ditanam.

Selain hama dan baruak, musuh utama petani adalah tengkulak dan spekulan

AGAM,DIDAKTIKAUNJ.com- Masa depan manusia ditentukan oleh pertanian. Kebutuhan utama manusia ada pada proses pemenuhan kebutuhan pangan. Oleh karena itu, maju mundurnya suatu negara dapat dilihat dari keseriusan pemerintahnya dalam menjaga ketahanan pangan dan memperhatikan nasib petani.

Inilah yang diungkapkan oleh Anna Paula dalam kunjungannya Rabu, (13/7)  ke Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Guna melihat proses pertanian di daerah tersebut yang baru-baru ini terkenal dengan hasil panen padi dengan proses agroekologi. Di mana proses pertaniannya menggunakan cara dan bahan-bahan organik.

Dalam kesempatan ini Anna yang juga menjabat sebagai anggota dari organisasi serikat petani internasional, La Via Campesina. Menyampaikan kekagumannya terhadap hasil panen petani Kecamatan Palupuh yang telah menjadi makanan pokok rakyat Indonesia. “Di Mozambik saya sulit menemukan nasi. Oleh karena itu saya sadar, betapa pentingnya beras bagi kehidupan masyarakat di dunia.” Kata perempuan asal Mozambik ini dalam rangkaian acara Konferensi Internasional, yang berlangsung dari tanggal 9-14 Juli. Dan sesi kunjungan ke Desa Palupuh ini telah memasuki hari ke-empat rangkaian acara yang mengambil tema, “Pembaharuan Agraria, Mempertahankan Tanah dan Kawasan di Abad 21: Peluang dan Tantangan ke Depan”.

Sejauh ini di Kecamatan Palupuh pengelolaan pertanian padi dilakukan secara mandiri. Dari proses produksi sampai distribusi, semua dilakukan oleh masyarakat setempat. Petani di Kecamatan Palupuh tidak mempercayai sistem pasar yang diyakini akan merugikan hasil dari produksi pertanian mereka. Oleh karena itu, “Kita akan menciptakan lumbung padi sendiri. Agar hasil panen kita tidak jatuh ke tangan spekulan, perusahaan-perusahaan besar yang akan merugikan petani.” Terang Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI). Sebagai perwakilan dari para petani Kecamatan Palupuh dihadapan sejumlah perwakilan organisasi serikat petani yang berasal dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.

Kehidupan pertanian di Indonesia, selain masih dihantui dengan marak terjadinya perampasan lahan. Baik oleh pemerintah maupun perusahaan-perusahaan swasta yang selalu merugikan para petani subsisten dan penggarap. Juga sistem pasar yang tidak pernah berpihak pada mereka.  Sistem pasar selalu menjual harga hasil pertanian petani jauh lebih kecil dari modal yang dikeluarkannya untuk produksi. Untuk itu yang dibutuhkan petani adalah keseriusan pemerintah dalam  usahanya membangun sektor pertanian yang adil dan menyejahterakan kehidupan para petani. “Jembatan yang terbuat dari kabel besi ini merupakan akses satu-satunya menuju desa kami. Inipun kami buat secara mandiri.” Imbuh Irwan, petani Kecamatan Palupuh yang mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah daerah setempat  terhadap kehidupan mereka. “Selain hama babi dan baruak yang menjadi musuh kami dalam bertani. Yang paling utama adalah tengkulak, dan spekulan,” tambahnya. Kemudian acara ini ditutup dengan pemberian bibit padi kepada perwakilan petani China, Thailand, Kolombia, dan Italia.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *