Menuntut Hak Petani

No Comment Yet

Reinaldi Chingore (Mozambik) sedang mengutarakan pendapatnya di hari pertama, Workshop dan Seminar Internasional Reforma Agraria.

 Organisasi petani dunia menolak perampasan lahan global

BUKITTINGGI, DIDAKTIKAUNJ.com- Aliran modal transnasional telah menghasilkan gagasan tentang Green Economy dan Blue Economy. Di mana hampir setiap belahan dunia. Terjadi komodifikasi atas tanah, air, dan udara.

Komodifikasi tersebut telah menyingkirkan hak petani atas tanah, nelayan atas laut, dan buruh atas upah laik. Inilah poin penting yang diangkat dalam Workshop dan Seminar Internasional dengan tema, “Pembaharuan Agraria, Mempertahankan Tanah dan Kawasan di Abad 21: Peluang dan Tantangan ke Depan”. Yang berlangsung hari Senin-Jumat, (9-14/7) di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Acara yang digagas oleh organisasi serikat petani internasional, La Via Campesina. Memaparkan fenomena global yang terjadi di seluruh belahan dunia, terutama di negara miskin dan berkembang. Di Mozambik, kapitalisasi atas tanah terjadi hampir di seluruh daerah tersebut. Pemerintahan Mozambik yang dikenal otoriter dan represif. Merampas tanah petani tanpa pemberian uang pengganti sepeserpun.

Wakil dari Mozambik yang juga menjabat sebagai Pemimpin La Via Campesina Reinaldo Chingore dihari pertama acara tersebut mengatakan bahwa Afrika akan menjadi pusat dari akibat penjajahan gaya baru ini. Di mana, “Pemerintah Mozambik mengambil tanah petani dengan janji akan membuat fasilitas publik berupa sekolah, taman kota, dan rumah sakit. Ternyata itu semua omong kosong belaka.” Jelas Reinaldo kepada perwakilan serikat petani yang berasal dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.

Fenomena global seperti perampasan lahan ini didalangi oleh elite lokal dan nasional dalam hal ini pembuat kebijakan. Juga investor transnasional yang bekerjasama dengan pemerintah dalam merampas tanah rakyat, yang sering mengatasnamakan konservasi. Syahdan, tujuan dari perampasan lahan global (Land Grabbing) ini adalah mengontrol sumber daya paling berharga di dunia.

Land Grabbing, Fenomena Dunia Kekinian

Maraknya proses distribusi dan akumulasi modal transnasional terhadap perusahaan-perusahaan besar. Mengakibatkan komodifikasi alam secara masif dan bersamaan. Arus besar kapital pada industri ekstraktif, agrofuel, kehutanan, perkebunan, pariwisata, dan pembangunan infrastruktur raksasa. Tidak pernah sekalipun membawa kesejahteraan rakyat.

Seperti yang terjadi di Afrika Barat, “Perusahaan swasta China menguasai 100.000 hektar tanah di tempat saya. Akhirnya banyak petani kecil terserang kelaparan dan berujung pada kematian,” ungkap Salma. Seorang petani perempuan asal Mali yang mengusulkan untuk memasukan isu kesejahteraan keluarga petani dalam konferensi yang berlangsung di Parai Mount Hotel Resort, Bukittinggi.

Kekinian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menawarkan tema seperti Green Economy dan Blue Economy yang berangkat atas dasar pemanasan global. Selalu menghasilkan ide konservasi lahan sebagai solusi atas masalah tersebut. Dalam konferensi ini semua peserta mengutarakan bahwa solusi tersebut palsu, dan tidak menjawab krisis iklim yang terjadi di dunia.

“Aliran modal abad ke-21 menghasilkan gagasan ekonomi biru, yang berarti komodifikasi atas laut. Di mana nelayan kecil tidak mampu bertahan hidup di tengah gempuran nelayan besar yang didanai oleh perusahaan swasta asing.” Terang Sekretaris Serikat Nelayan Indonesia (SNI) Budi Laksana. Yang menjelaskan bahwa konservasi laut tidak lebih dari pada upaya kapitalis menguasai kelautan untuk dijadikan pariwisata berskala internasional. Kemudian akan meminggirkan pariwisata rakyat, yang modalnya tidak mampu bersaing.

Hasil dari konferensi yang dihadiri oleh 170 organisasi tani, buruh, nelayan, dan pemuda dari pelbagai daerah Indonesia. Dan internasional yang berasal dari Italia, Kolombia, Mozambik, Mali, Perancis, Meksiko, India, Thailand, dan Pakistan.  Kelak akan menghasilkan deklarasi di dalamnya berisi isu yang telah dibahas dalam konferensi selama empat hari tersebut.

Dengan isu besar yaitu, perampasan lahan global. Oleh karena itu, selain menghasilkan deklarasi. “Kita sepakat ketika terjadi perampasan lahan di salah satu negara yang hadir di sini. Kita akan melakukan aksi solidaritas di negara masing-masing.” Cetus Fery Widodo, wakil Indonesia yang berasal dari organisasi Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI). Sebagai bentuk perlawanan kongkret rakyat dunia terhadap isu Land Grabbing.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *