Keberadaan Koramil, Hanya Jadi Parasit Rakyat dan Pembangunan

2 Comments

Jika kita keluar kota, di kota manapun di Indonesia, kita pasti tak akan sulit menjumpai markas Angkatan Darat (AD). Baik Kodim, Kodam, Propam, Konstrad, Pusat Kesehatan AD, Markas Kodislak, dan Komando Rayon Militer, atau lebih akrab di telinga masyarakat dengan Koramil. Dan sebenarnya di luar itu, masih banyak sekali markas yang kita sendiri tidak tahu apa fungsinya. Keberadaanya pun begitu mencolok di samping-samping jalan, dengan warna hijau tua serta berbagai atributnya.

Bagi saya, mungkin juga dirasakan pembaca sekalian, saya heran dan tak habis pikir. Apa maksud dan tujuan dari markas komando, terutama dari kesatuan AD, yang begitu banyaknya, lebih banyak dari kantor pos, di hampir tiap pelosok tanah air. Sesuatu yang sangat mubazir mungkin, tentu semua itu dibangun dengan uang rakyat. Jauh di luar negeri, markas militer bersifat terpusat dan terintegrasi dengan maksud attack and defend.

Saya heran pula dengan para pemimpin negeri ini, yang lebih mengutamakan AD dibanding AU dan AL. Di dunia, hampir semua negara lebih mengutamakan kekuatan AL dan AU, hampir zaman sekarang tak ada satu pun negara memandang milternya, baik attack and defend tadi, dengan menggunakan logika AD. Ini bisa dimengerti, karena di zaman yang serba tekhnologi ini, kecuali perang dalam kota, hampir tak ada lagi perang antar muka. Antar tank, antar pasukan dan perang front lain. Namun lebih pada serangan udara, laut dalam (kapal selam), dan jarak jauh (rudal, satelit, dan pesawat tanpa awak).

Namun hidup di negeri ini, logika itu justru terbalik. Negara kepulauan dengan garis pantai paling banyak pulau ini justru AD-lah yang dimajukan. Saya kembali teringat bagaimana negeri kaya lautan ini banyak dicuri karena keterbatasan kapal patroli AL, pelanggaran wilayah udara oleh pesawat tempur negara lain. Atau pada rencana pembelian besar-besaran pemerintah pada main battle tank bekas dengan harga fantastis dari Belanda.

Hemat saya sendiri, militer di negeri ini bukan dibentuk untuk menjaga kedaulatan NKRI. Namun sebaliknya, militer yang mengarah AD tadi disini diciptakan untuk “melawan rakyat sendiri”. Begitu anehnya logika militer di negeri ini, militer lebih banyak digunakan untuk melawan petani, atau sekadar melawan para pendemo, bahkan sesuatu yang merendahkan bangsa kita, “melindungi aset vital” yang sebenarnya untuk kepentingan asing.

Satu lagi yang paling saya kritik dengan fakta militer di Indonesia. Keberadaan markas-markas militer justru menjadi parasit bagi rakyat itu sendiri, mungkin semua orang dewasa di negeri ini tentu sudah paham dan maklum. Bagaimana seorang yang akan berinvestasi atau sekadar perkara mengadakan hajatan sekelas “Dangdutan” di suatu wilayah harus menyetor uang keamanan pada markas komando setempat, dari kodim hingga koramil tadi. Dan tentu itu tak mahal, dan menjadi lebih tingginya cost yang dikeluarkan pengusaha atau rakyat. Itu sebuah fakta di lapangan yang semua rakyat tentu sudah mengetahui praktek preman tersebut dan sangat mengurat akar.

Penutup keheranan saya, jurus yang selalu, selalu, selalu, selalu, dan hampir pasti dipakai para perwira tinggi militer jika ditanya media soal pungli tersebut di lapangan. “kita bekerja sesuai prosedur, tak ada laporan praktek tersebut, coba buktikan”. Itulah indonesia, negeri dimana logika serba terbalik. Sekadar share unek-unek, bukan gara-gara kegagalan tes masuk jadi militer.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *