Bidik Misi pun Tak Mempan

385 Comments

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dilema, bertambahnya kuota penerima Bidik Misi. Diiringi naiknya biaya pendidikan.

 

Alokasi biaya kuliah persemester bidik misi kurang dari yang ditetapkan fakultas

 

Program Bidik Misi telah memasuki tahun ketiga, sejak dilaksanakan 2010, pelaksanaan bidik memang carut marut. Beasiswa untuk golongan tidak mampu ini banyak yang salah sasaran. Pada 2011 pun, ada beberapa yang tidak memebuhi kriteria. Hasil verifikasi Pembantu Rektor III Fakhrudin Arbah, pelaksana Bidik Misi, hanya meloloskan 240 mahasiswa.  Tindakan yang ia ambil, mencabut beasiswa bidikmisi tersebut dan menyerahkannya pada yang berhak.

Harusnya, kejadian seperti ini tidak perlu ada, jika penyeleksian diperketat sejak awal. Fakhrudin mengatakan akan terus membenahi kesalahan. Tahun ini kuota yang disiapkan sebanyak 575 beasiswa bidik misi. Namun seiring perbaikan yang mulai digencarkan tadi, tahun 2012 fakhrudin mesti berhadapan dengan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Dengan UKT, seluruh anggaran kuliah hingga semester delapan dijumlahkan, termasuk biaya diluar yang telah dianggarkan sebelumnya, seperti KKL. Hasilnya dibagi delapan semester. Tujuan UKT meringankan biaya awal masuk, bukan menguranginya.

Perhitungan ini cukup membingungkan Fakhrudin karena bertabrakan dengan kesepakatan antara rektor dan menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud). Salah satu isinya menyebutkan bahwa untuk biaya kuliah, penerima bidik misi hanya dipungut Rp2.400.000 persemesternya. Sedang biaya semester mahasiswa sekarang di beberapa fakultas lebih dari Rp2.400.000. Di Fakultas Teknik (FT) misalnya, bayaran persemesternya mencapai empat juta rupiah. Ini berarti dana yang dimiliki mahasiswa penerima bidik misi FT untuk biaya persemester kurang Rp1.690.000.

Fakhrudin mengaku kebingungan menghadapi problem ini. Dia menyerahkan urusan itu pada pihak fakultas. ”Saya pokoknya hanya mengalokasikan Rp2.400.000 untuk biaya semester penerima bidik misi,” ujarnya. Sejak pemberlakuan otonomi fakultas, hal-hal seperti ini memang menjadi tanggung jawab fakultas. Mengingat yang menentukan anggaran biaya kuliah adalah fakultas.

Namun, rupanya otonomi ini menimbulkan keruwetan. Ada tarik ulur kewenangan. Pembantu Dekan II FT Purwanto Gendroyono megatakan tidak tahu menyoal masalah ini. Dia menilai ini bukan tanggung jawab fakultas. “Yang saya tahu fakultas menerima uang dari universitas sesuai kebutuhannya, dan masalah ini adalah urusan universitas,” papar Purwanto.

Sebenarnya mahasiswa Bidik Misi tak akan kekurangan dana jika UKT tidak diberlakukan. Bidik Misi memang tidak dirancang untuk sistem UKT. Dana beasiswa Bidik Misi di awal semester tidak diberikan ke mahasiswa, karena sudah dialokasikan sepenuhnya untuk bayaran awal semester yang biasanya besar. Semester berikutnya, dana dipotong Rp2.400.000 untuk biaya semester.

Sebesar apapun, beasiswa tak akan menjawab mahalnya biaya kuliah. UKT memperlihatkan besarnya biaya kuliah mahasiswa seluruhnya. Hingga diatas sepuluh juta. Oleh karena itu, seharusnya biaya kuliah dimurahkan. Sambil bercanda Fachrudin mengatakan, “semoga saja penerima bidik misi ini tidak banyak berasal dari fakultas yang uang kuliahnya mahal.” Daniel Fajar

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *