UNJ Mencari Identitas

5 Comments

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial sedang mengikuti briefing MPA, Jumat (9/8).

 

Akademik tidak sebatas di ruang kelas.

 

Tahun ajaran baru 2012/2013 dimulai. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kedatangan mahasiswa baru (maba). Bagi maba, ada kebanggaan tersendiri menjadi mahasiswa baru. Tak ketingalan pula Rumondang Lubis, mahasiswi jurusan bahasa dan sastra jerman ini sangat atusias saat masuk UNJ. “Bangga dong bisa jadi mahasiswa. Apalagi di UNJ kan nanti kerjanya jadi guru,” ucapnya. Namun, ia mengatakan masih buta akan kehidupan kampus.

Pihak universitas pun tak mau ketingalan untuk menyambut para maba. Masa Pengenalan Akademik (MPA), bentuk perkenalan dari universitas.  Tujuannya memperkenalkan budaya akademik dan memperkenalkan identitas universitas kepada mahasiswa.

Dengan pemahaman ini,  maba diharapkan dapat menjadi mahasiswa yang sesungguhnya. “Mahasiswa itu harus pintar di secara akademik dan ikut dalam organisasi agar tahu kehidupan masyarakatnya,” ucap Zainal Rafli, Pembantu Rektor  I. Jika mahasiswa hanya mengetahui suatu hal di dalam kelas tanpa pernah terjun langsung ke masyarakat, niscaya mahasiswa itu akan dianggap sok tahu oleh masyarakatnya.  “Jika benar-benar diteliti hanya sekitar 30% ilmu yang bisa di dapat diruang kelas,” tambahnya.

Dosen jurusan bahasa dan sastra perancis Jimmy Ph Paat mengamini bahwa mahasiswa harus dekat dengan masyarakat. Setelah lulus pun mahasiswa akan kembali ke tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, budaya akademik mesti dijalankan mahsiswa agar lebih memahani kehidupan nyata di lingkungannya. “Tugas mahasiswa adalah baca, tulis dan berdiskusi,” tambah Jimmy Ph Paat.

Baca, tulis, diskusi merupakan budaya akademik. Budaya akademik ini tidak hanya ada di ruang kuliah. Organisasi pun bagian dari budaya akademik. Zainal Rafli menuturkan akademik itu bagian dari suatu proses mencari, menemukan dan membagikan ilmu secara menyeluruh tanpa terikat tempat. Kegiatan akademik di kampus pada dasarnya tradisi berpikir yang bermulai dari kegiatan membaca setelah itu dituliskannya untuk dipublikasi dan didiskusikan untuk merekonstruksi suatu kebenaran. Proses itulah yang merupakan tempat membangun kesadaran tentang kebenaran yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Namun, budaya akademik tidak dapat berjalan ketika kampus mengeluarkan regulasi pembatasan masa studi dan naiknya biaya kuliah. Pembatasan masa studi menggiring mahasiswa untuk fokus ruang kelas karena masa studi terbatas. Mahalnya biaya kuliah secara tidak langsung ini menegaskan mahasiswa untuk cepat lulus. Semakin lama di kampus, maka semakin besar ongkos kuliah yang dikeluarkan. Jadi, banyak mahasiswa saat ini yang banyak menginginkan cepat lulus dengan rasio tersebut tanpa memikirkan kualitas keilmuannya.

Padahal, kampus  pada hakekatnya merupakan tindakan nyata untuk meningkatkan kadar ilmu pengetahuan dan pengamalan bagi mahasiswa. Kampus menyediakan ruang untuk mengolah keterampilan hidup agar mahasiswa mampu mengenal dan mengatasi masalah diri dan lingkungannya.

Kampus yang hanya mereproduksi pengetahuan bukan memproduksi pengetahuan. Sebab interaksi yang terbatas di ruang kelas berujung pada transfer pengetahuan dari dosen ke mahasiswa tanpa adanya suatu inovasi atau pembaharauan pengetahuan yang dilakukan.

Peran kampus yang besar dituangkan dalam prinsip Tri Darma Pergurguruan tinggi. Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. prinsip pembelajaran menjaga kampus agar bisa menghadirkan budaya akademik dalam proses pembelajaran. Prinsip penelitian, mengahruskan kampus mereproduksi pengetahuan baru. pengabdian pada masyarakat menegaskanbahwa kampus tidak boleh terlepas dari masyarakat, bahkan berperan didalamnya.  Tiga prinsip ini harus berjalan sesuai dengan identitas kampus.

Identitas UNJ saat menjadi IKIP jelas sebagai LPTK.  Kini pasca konversi 1999, UNJ terasa ambigu fokus pada bidang pendidikan atau ilmu murni. “Ini terbukti dengan banyaknya program studi yang non pendidikan di dalam kampus pendidikan. Teringat kata pak HAR Tilaar bahwa UNJ itu banci,” papar Jimmy kepada didaktika (14/08).

Kejelasan identitas ini, bukan hanya persoalan jurusan pendidikan atatu ilmumurni. Tapi tercermin juga di gagasan dan sikap yang diambil. Zainal Rafli bersikukuh identitas UNJ masih dalam koridor LPTK. UNJ tetap berkeinginan menjadi kampus yang menghasilkan tenaga kependidikan yang berkualitas sehingga dapat mencerdaskan generasi penerus bangsa dan tetap dapat berkontribusi dalam setiap keputusan pemerintah mengenai pendidikan.

Namun, identitas kependidikannya ini masih jauh implementasi. Belum ada gagasan besar perihal pendidikan yang dihasilkan adari kampus ini. Dulu, dari rahim IKIP lahir kurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Di IKIP hidup pemikir-pemikir besar seperti Muchtar Bukhori,  H.A.R Tilaar, Winarno, dan lainnya. “Kita patut bersedih, belum muncul kembali di kampus ini pemikir-pemikir besar seperti mereka,” tandas Jimmy.

Jika UNJ sudah kehilangan identitas, dihawatirkan ada penetrasi kepentingan dan ideologi dari luar yang ingin membentuk identitas sendiri. Agar jelas mahasiswa seperti apa yang ingin dihasilan. Maka UNJ perlu menegaskan kembali keidentitasannya. Semua itu harus ditatanya dengan baik sesuai dengan tugas dasarnya, yakni Tri Dharma perguruan tinggi. Ujungnya, mahasiswa dapat melakukan tugasnya sebagai agen perubahan. Karena Indonesia tidak hanya perlu dengan orang cerdas tapi kritis. Virdika Rizky Utama

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *