Untuk Sebuah Identitas

770 Comments

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Identitas bukan berasal dari pemakaian atribut, dan pemasangan umbul-umbul.

 

Peraturan Masa Pengenalan Akademik (MPA) 2012 kembali mewajibkan mahasiswa baru (maba) perempuan  untuk mengenakan kerudung. Kewajiban ini bukan pertama kali diterapkan, melainkan sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun sebelumnya. Tidak hanya di salah satu fakultas, hampir seluruhnya memberlakukan peraturan ini.

“Tujuannya sama sekali bukan membentuk identitas kampus islam. Namun MPA kali ini masih dalam suasana Ramadhan,” ujar Ketua MPA Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Dipta. Ia menambahkan, adanya peraturan ini dimaksudkan untuk menyeragamkan umat Islam. Hal senada diungkapkan oleh Ketua MPA Fakultas Teknik (FT) Herda, ”MPA tahun ini, kan, terlaksana seminggu setelah puasa, jadi suasana puasanya masih terasa.”

Buat Dipta, salah satu nilai dalam MPA adalah membentuk pribadi mahasiswa lebih religius. Caranya, dengan mewajibkan penggunaan kerudung bagi mahasiswa perempuan. Sebagai Ketua MPA, Dipta menganggap adanya pembudayaan sifat religius akan punya hasil linear dengan karakter dan moral yang baik. Maka, MPA jadi momen tepat yang mampu mengakomodasikan kebutuhan pembentukan karakter maba.

Menimbang lewat perspektif akademis, adanya atribut keagamaan dengan tujuan meraih pribadi religius tidak berkaitan secara langsung dengan nilai-nilai akademik. Namun, panitia MPA rupanya tidak alpa memikirkan hal tersebut. Untuk memenuhi konfigurasi akademis, mereka merumus konsep agenda mentoring. “Mentoring yang diadakan berisi hal-hal akademis yang sifatnya religius,” tukas Dipta.

MPA sebagai momen tepat pembentukan identitas maba diamini oleh Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi (FE) Dedi Purwana. Baginya, kepentingan tersebut justru harus diprioritaskan dalam agenda MPA. Buat Dedi, unsur keindahan, religius, dan akademik mesti dielaborasi menjadi satu kesatuan agar membentuk mahasiswa yang berkarakter.

Maka jelas, ada identitas yang ingin disematkan kepada mahasiswa baru. Sayangnya, hal ini tidak muncul dari kampus yang punya wewenang penuh untuk merancang mahasiswanya. “Peraturan ini murni berasal dari BEM,” ujar Dipta.

Identitas UNJ

Kembali pada sejarahnya, kampus yang berdiri tegak di ibukota ini pertama kali muncul sebagai sebuah institut keguruan. Meski pada tahun 1999 sudah dikonversi ke bentuk universitas. Tujuannya jelas, melaksanakan perluasan mandat dari negara untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di luar soal-soal kependidikan.

Namun, hingga hari ini pihak kampus  masih menyetujui identitas resmi UNJ sebagai LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). “UNJ masih tetap beridentitas kependidikan, sangat jelas itu,” ungkap Pembantu Rektor III Fakhrudin Arbah ketika ditemui langsung di ruangannya. Ia menambahkan, dalam esensi pendidikan hal yang perlu ditekankan adalah proses menciptakan guru yang profesional.

Maka, bila MPA dimaknai sebagai alat untuk membentuk identitas, seyogyanya nilai-nilai seputar pendidikan dan keguruan lah yang ditanamkan. “Karena pendidikan tidak lepas dari guru,” tegas Fakhrudin Arbah. Begitu pula MPA yang semestinya berorientasi pada hal-hal akademik, bukan pada sesuatu yang sifatnya atribut belaka.

Ketiadaan gambaran besar kampus mengenai mahasiswanya ini jadi rentan dimanfaatkan oleh segelintir orang. Untuk memberikan identitas baru, sesuai dengan apa yang dimilikinya, bukan apa yang menjadi esensi UNJ.

Belum lagi dampak lain yang muncul akibat adanya pembentukan identitas ilegal ini. Kerudung buat mahasiswa perempuan beragama Islam, pita bagi mahasiswa beragama lain, meski sekedar atribut, secara tidak langsung sudah merupakan laku pengkotak-kotakan mahasiswa. “Iya, seperti ada penyekatan antar agama gitu,” ucap lugu Litia, seorang mahasiswa Jurusan Manajemen 2012. Yogo Harsaid

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *