Ajimumpung MPA

No Comment Yet

Masa Pengenalan Akademik (MPA) diwarnai pelbagai pernak-pernik. Mulai dari atribut, hingga tugas-tugas yang beragam untuk mahasiswa baru. Riuh rendah MPA nyata menyelipkan banyak kisah. Salah satunya membuka peluang usaha bagi beberapa pihak. Seperti nampak di depan gerbang utama kampus, sebuah tenda didirikan untuk menjual ragam atribut MPA.

Bukan cuma pedagang yang dapat untung. Panitia MPA rupanya ikut ambil bagian soal ini. Di jurusan Ilmu Sosial Politik (ISP) panitia menjual seperangkat tas berisi barang-barang khas MPA jurusan. “Iya, ada merchandise seperti tas, notebook, pulpen, pin dan sticker,” kata Reni, mahasiswa baru jurusan ISP. “Barang-barang tersebut sudah satu paket dengan kegiatan Jumbara, PKMJ, pokoknya tertera di surat edaran yang kami terima dari jurusan.”

Usaha-usaha tersebut juga hadir dalam bentuk lain. Jurusan Sosiologi, memungut bayaran untuk acara di luar rangkaian MPA, namun terdapat mata anggaran untuk MPA, sebesar Rp 10.000 per mahasiswa. Padahal MPA sudah memiliki anggaran dananya sendiri, bersumber dari dana yang dihimpun dari mahasiswa baru.

Ketua Jurusan Sosiologi Evy Clara menyebutkan penarikan dana kepada mahasiswa baru ini dikarenakan adanya penarikan yang juga dilakukan oleh jurusan lain. “ Jurusan sosiologi memang jurusan yang baru dan jurusan yang lain pun begitu seperti jurusan sejarah misalnya, saya tidak akan mengizinkan jika  sebelumnya tidak di acc oleh fakultas,” tutur Evy.

Namun, Komarudin Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) menampik adanya pelegalan penarikan dana oprasional MPA untuk maba. “Fakultas tidak pernah mengijinkan adanya pungutan, bila memang hal tersebut terjadi di lapangan itu diluar kontrol fakultas ” jelas Komarudin.

Kejadian di Jurusan Sosiologi telah diklarifikasi oleh pihak jurusan. Hal tersebut  juga diamini oleh Sarkadi, Pembantu Dekan III FIS, ia menjelaskan bahwa hal yang yg terjadi di jurusan sosiologi tersebut adalah sebuah kesalahpahaman. Dalam rapat telah disepakati bahwa dalam MPA tidak diperbolehkan mengambil dana tambahan dari mahasiswa. Penarikan dana hanya boleh untuk kepentingan kegiatan diluar MPA. “Di jurusan sosiologi hal tesebut terjadi karena adanya ketidakpahaman pihak jurusan terhadap keputusan yang ada. Namun saat ini surat tersebut sudah diperbaiki,” jelas Sarkadi.

Sarkadi menolak beberapa kejadian di fakultasnya merupakan bentuk bisnis di MPA. Karena sifatnya hanya untuk penggalangan dana untuk kegiatan jurusan yang dilakukan BEM. “Kalau memang ada penjualan merchandise itu sepertinya bagian dari atriibut untuk kegiatan diluar MPA, dan tujuannya untuk penggalangan dana. Jadi ini bukan untuk kepentingan bisnis,” tuturnya.

Kasus yang terkesan saling melemparkan tanggung jawab ini tentu sudah seharusnya ditindaklanjuti lebih dalam karena mahsiswa baru sendiri tentu keberatan dengan adanya penarikan biaya opersional lagi untuk MPA. Seperti yang utarakan maba jurusan Sosiologi menurutnya penarikan biaya itu memberatkan baginya. “adanya penarikan ya sebenarnya memberatakan, tapi kalo memang itu aturannya mau gimana lagi,” ungkapnya.

Kegiatan bisnis di MPA nyatanya masih tetap terjadi meskipun sudah ada larangan dari pihak Universitas. “Kalau ada penjualan atribut itu tidak boleh mengatasnamakan MPA” tutur Fakhrudin Arbah selaku Pembantu Rektor III.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *