Mahasiswa Produk MPA

No Comment Yet

Masa Pengenalan Akademik nyata tidak melahirkan mahasiswa yang berpikir akademis.

Senin lalu (27/8) telah terjadi pembriedelan Warta MPA yang dilakukan oleh pihak panitia Masa Pengenalan Akademik (MPA) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Hal ini dilakukan dengan memberi instruksi kepada mahasiswa baru (maba) FMIPA untuk tidak menerimabuletin yang dibagikan.

Ketika dimintai penjelasan mengenai pembreidelan tersebut, pihak panita mengatakan ini sengaja dilakukan karena penyebaran Warta MPA menyalahi aturan. Berdasarkan perintah panitia MPA FMIPA seksi Humas, Publikasi dan Dokumentasi(HPD) bahwa mereka menolak selebaran apapun saat MPA. Hal ini diakui oleh Kamil selaku seksi HPD. Mereka menolak segala hal yang bukan merupakan bagian dari rangkaian acara MPA, terlebih yang berasal dari organisasi-oraganisasi di luar kepanitiaan MPA. “Hal ini dilakukan agar maba dapat menjalani MPA dengan fokus,” ucap Kamil.

Kamil menambahkan, tindakan ini sudah dilakukan olehnya bersama panitia MPA FMIPA sejak awal masa lapor diri maba. Sikap panitia yang seperti ini jelas menunjukkan tindak pembatasan  informasi bagi maba. Padahal Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Karnadi mengatakan bahwa maba perlu berbagai informasi mengenai kampusnya. “ Informasi yang diberikan pun harusnya tidak hanya yang lurus-lurus saja,” ujar Karnadi.Sayangnya, hal ini tidak dilakukan oleh panitia MPA FMIPA.

Selain itu, tindak pembreidelan Warta MPA serta pembatasan penyebaran segala selebaran dari organisasi mahasiswa (ormawa) ini juga berdampak menjauhkan maba dari ormawa.Jangankan untuk ikut serta di dalamnya, untuk mengenalnya pun sudah dibatasi sejak awal. “Kami mau maba fokus untuk bisa membayar kuliah dulu, kemudian mengikuti MPA,” sekali lagi Kamil menegaskan.

Hal ini tidak sesuai dengan harapan Pembatu Dekan III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Sarkadi. Dia menilai bahwa MPA merupakan momen bagi organisasi mahasiswa untuk menjaring maba untuk melanjutkan hidup organisasinya. Dan menurut Sarkadi organisasi mahasiswa ini merupakan kegiatan yang banyak manfaatnya. “Saya tidak mengharapkan mahasiswa saya hanya giat di kelas, karena tidak akan jadi apa-apa nantinya,” tutur Sarkadi. Dirinya menambahkan bahwa mahasiswa yang bergiat di organisasi lebih banyak yang sukses ketimbang mereka yang hanya kuliah dan pulang saja.

Namun dengan keadaan yang dibentuk seperti ini, kecil kemungkinan maba memiliki minat untuk pergi belajar di luar ruang kelas kemudian berkecimpung dalam dunia organisasi. Ditambah lagi makna akademik yang semakin kabur dengan adanya MPA. Kegiatan di luar kelas seperti berorganisasi tidak lagi penting bagi mereka. Kebiasaan berdiskusi mahasiswa semakin lama terkikis. Tentunya hal ini dikarenakan nilai-nilai akademik yang diperkenalkan saat MPA sebatas administrasinya saja.

MPAseharusnya jadi momen yang paling bertanggung jawab terhadap permasalahan-permasalahan semacam pembreidelan di FMIPA. Ini merupakan wujud kegagalan MPA itu sendiri. Produk-produk kegiatan ini, yang kemudian menjadi penyelenggaranya malah berperilaku tidak mencerminkan seorang akademisi. Kebebasan berpikir serta berkarya ranah akademis dihadang penyebarannya oleh pelaksana masa pengenalan akademik dengan cara yang tidak akademis.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *