Masa Pembinaan Mahasiswa: Cara Instan Raih Prestasi

3 Comments

Mandul gagasan, miskin prestasi, kampus rumus cara instan sebagai solusi.

Masa Pengenalan Akademik (MPA) 2012, dilaksanakan dengan durasi lebih lama dari tahun sebelumnya. Setelah penutupan, ada rangkaian agenda pembinaan pasca MPA yang dirancang sebanyak sepuluh kali pertemuan, dilaksanakan tiap akhir minggu. “Karena empat hari MPA tidak cukup untuk memperkenalkan kampus,” terang Pembantu Rektor III Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Fakhrudin Arbah.

Konsep agenda pembinaan memprioritaskan hal-hal yang sifatnya akademik. Tujuannya agar mahasiswa dapat terintegrasi dengan lingkungan kampus dalam hal akademik. “Agenda pembinaan ini sebagai pembentukan karakter diri,” ujar Dedi Purwana, Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi (FE) ketika ditemui di ruangannya. Dia menambahkan, di dalamnya disisipkan kegiatan asah mental yang diinternalisasikan ke dalam dimensi akademik.

Kemunculan agenda pembinaan ini diindikasi kuat karena UNJ tidak memiliki prestasi yang membanggakan dalam beberapa tahun belakangan. Terutama dalam ranah kejuaraan karya tulis. Oleh sebab itu, salah satu poin yang diprioritaskan dalam agenda pembinaan adalah menciptakan mahasiswa yang mahir dalam membuat karya tulis.

“Kemarin ada 300 judul karya tulis yang masuk untuk mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa- Gagasan Tertulis (PKM-GT),” terang Fakhrudin. “Namun tidak ada satu pun yang lolos.” Buramnya prestasi akademik ini memaksa rektorat untuk segera merumuskan solusi. Jawabannya: agenda pembinaan pasca MPA.

Maka jelas, agenda ini dijadikan formula instan untuk segera mendorong UNJ tampil di permukaan dengan segala prestasinya. Namun jadi sangat logis bila nantinya malah tidak ada hasil yang nampak. Karena pembinaan mahasiswa tidak bisa dibangun secara reaksioner dan serampangan.

Buktinya, universitas tidak punya gambaran jelas soal bagaimana nanti agenda pembinaan ini harus hadir. Oleh karena itu, pelaksanaannya diotonomkan kepada setiap fakultas. Karena fakultas dipandang sebagai pihak yang paling mengerti soal apa yang dibutuhkan mahasiswa. “Universitas hanya memberikan standarisasi saja, yang nanti akan berujung pada pembentukan karakter,” kata Fakhrudin.

Di Fakultas Ekonomi (FE) nilai kewirausahaan jadi fokusnya, karena dalam perkuliahan mahasiswa selalu dikonstruksikan untuk menjadi seorang wirausaha. “Selalu ada unsur-unsur kewirausahaan di FE,” ujar Dedi Purwana.

Agenda yang mengedepankan nilai kewirausahaan ini akan dibungkus dalam sepuluh kali pertemuan yang wajib dihadiri mahasiswa. Ada hukuman berat yang harus ditanggung bila alpa mengikutinya. “Mungkin ijazah akan ditahan,” kata Kasubag Kemahasiswaan FE Uded Darussalam.

Sedangkan di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), hal belajar-mengajar jadi prioritas. Ditambah Mata Kuliah Ciri Fakultas (MKCF) yang menjadi pembeda dari tiap fakultas. Lebih lanjut, Pembantu Dekan I FIP Asep Supena menegaskan bahwa MKCF sudah menjadi bagian dari kurikulum.

Gambaran kasar dari universitas soal pelaksanaan agenda pembinaan pasca MPA disambut dengan penolakan dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Ketika ditemui pada acara pembukaan MPA 2012 (27/8) Pembantu Dekan III FIS Sarkadi menegaskan bahwa fakultasnya tidak ikut serta menyelenggarakan masa pembinaan tersebut.

Soal anggaran dana juga jadi ganjalan buat fakultas yang dipimpin oleh Dekan Komarudin ini. Dana operasional MPA yang digelontorkan ke fakultas memang tidak bertambah dari tahun sebelumnya. Sedangkan gelaran kegiatan harus ditambah. “Dana Rp 55.000 sangat tidak rasional untuk dipergunakan lebih dari sehari,” tambah Sarkadi.

Manusia Satu Dimensi

Atas adanya agenda pembinaan ini, Fakhrudin berharap mahasiswa mampu bersinergi dengan kampusnya. “Agar kokoh mahasiswa melihat kampusnya,” selorohnya. Namun kegiatan yang dirumus untuk dapat melihat kampus secara komprehensif hanya dijejali konten-konten yang tidak jauh berbeda dengan kegiatan-kegiatan di ruang kelas.

Bila sudah begini, yang jadi korban utamanya adalah organisasi.  Maka wajar apabila sempat terdengar gaung penolakan atas agenda pembinaan pasca MPA ini dari Forum Komunikasi Gedung G. Bagi mereka, hadirnya agenda ini akan berdampak buruk terhadap regenerasi organisasi. Hal ini tidak bisa dihindar meski Fakhrudin kecewa atas sikap tersebut, “seharusnya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gedung G jangan menantang agenda ini.” Karena, menurut dia, UKM diperbolehkan untuk bergabung dalam agenda pembinaan.

Maka tidak perlu lagi bicara organisasi bila mahasiswa pun sudah terancam. Penahanan ijazah saat kelulusan, integrasi agenda pembinaan dengan kurikulum dan mata kuliah. Selanjutnya akan lahir pribadi-pribadi mahasiswa yang hanya akan mengerjakan apa-apa yang sudah diperintahkan. Dan bukan tidak mungkin akan punya urusan yang sama: kuliah-kantin-kost.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *