Rektornya Kemana?

1 Comment

Pembukaan MPA ditinggal si empunya hajat

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Bedjo Sujanto tidak hadir dalam pembukaan Masa Pengenalan Akademik (MPA) 2012 (27/8). Serangan asam urat mendadak hinggap di dirinya pagi itu. Bukan hanya Rektor, pagelaran yang diikuti dari 5200 mahasiswa baru (maba) ini juga tidak dihadiri oleh Pembantu Rektor I yang bertanggung jawab secara langsung atas segala kegiatan akademik di kampus. Zaenal Rafli rupanya sedang berada di tanah suci untuk melaksanakan ibadah Umroh.

Begitu pula PR II bidang Administrasi Umum Suryadi yang juga alpa pada pembukaan MPA. Ketidakikutsertaannya dalam prosesi ini dikarenakan adanya gangguan kesehatan yang juga terjadi secara mendadak.

Yang terlihat mengikuti prosesi acara tersebut hanya Pembantu Rektor (PR) III Bidang  Kemahasiswaan Fakhrudin Arbah serta PR IV Bidang Kerjasama dan HLN Suprijanto. Peran Rektor Bedjo pun kemudian digantikan oleh Fakhrudin, untuk berpidato pada acara tersebut. Ia tidak ambil pusing atas ketidakhadiran rektor. Menurutnya hal tersebut tidak akan berpengaruh pada maba, ditambah ketidakhadiran tersebut bukan disengaja tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan. “Saya kemarin menjadi Rektor sehari. Hahaha,” seloroh Fakhrudin.

Ditemui sehari sesudahnya, Suryadi ungkap pandangannya soal MPA. Baginya kegiatan tersebut merupakan sebuah momen yang penting bagi maba. Karena MPA adalah ajang penimbaan ilmu serta penyesuaian dengan dunia kampus. “MPA adalah sebuah orientasi untuk mahasiswa baru, dari masa peralihannya dari siswa menjadi mahasiswa,” tukasnya. Kemudian ketidakhadirannya dalam pembukaan MPA menjadi titik tolak bahwa ia tidak lagi melihat MPA menjadi sebuah hal yang esensial. “Saya pribadi tidak percaya jika rangkaian singkat ini dapat mengubah orientasi maba secara instan,” tegas Suryadi.

Hilangnya sosok besar universitas dalam acara tersebut memang sangat disayangkan. MPA diharap bisa jadi momen awal maba untuk menanamkan kedisiplinan. Namun, nilai yang ingin dibentuk pada akhirnya menjadi tidak relevan dengan keadaan. “Penanaman kedisiplinan tidak ditujukan oleh pihak rektorat bahkan PR I sebagai yang punya hajat,” tutur Sarkadi selaku Pembantu Dekan 3 Fakultas Ilmu Sosial.  “Kami di dalam forum para pimpinan fakultas juga tutut menyesalkan hal tersebut,” lanjutnya.

Pembukaan MPA kemarin adalah momen yang sangat penting bagi maba, karena di dalamnya kecintaan terhadap dan Universitas seharusnya mampu ditanamkan. Namun, penanaman cinta kampus ini tidak terwujud. Karena pengenalan dunia kampus yang ingin dimulai melalui pengenalan sistem akademik kampus serta jajaran birokratnya tidak terlaksana.

Seperti dikatakan oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Karnadi, menurutnya pembukaan MPA tersebut harus dapat menjadi ajang pengenalan jajaran birokrat sebagai langkah awal maba dalam mengenal dunia kampus. “Pembukaan MPA harus ditekankan dengan adanya penerimaan maba secara simbolis langsung oleh rektor, karena itu menjadi salah satu momen terpenting dalam MPA,” tukasnya.

Ketidakhadiran Rektor dan beberapa pembantunya dalam upacara pembukaan MPA menjadi simbol tidak seriusnya birokrat terhadap eksistensi MPA. Ditambah upacara pembukaan dapat dikatakan menjadi sebuah simbol diterimnya maba masuk ke dalam keluarga besar Universitas. Hilangnya sosok Rektor dan PR I dalam acara MPA, menunjukan adanya inkonsistensi pihak birokrat terhadap MPA. Gelaran yang diselenggarakan dengan tujuan memperkenalkan budaya akademik, sistem adminstratif serta visi misi universitas, menjadi kehilangan esensinya dengan ditinggalkannya maba oleh para jajaran rektorat. Betapa tidak, pidato yang seharusnya disampaikan rektor kepada maba sebagai acuan terhadap perkuliahnnya justru nihil keberadaannya.

Pada dasarnya yang harus ditekankan adalah bagaimana pemaknaan rangkaian MPA itu sendiri bagi para birokrat kampus. Ditambah ketidakhadiran para jajaran rektorat menambah kesan semakin hilangnya esensi yang ingin dicapai oleh universitas. Kecintaan pada kampus yang semarak digembar-gemborkan menjadi lenyap dengan hilangnya para pejabat rektorat dalam pembukaan MPA.

Kekecewaan pun kemudian hadir dari pelbagai pihak. Seperti dituturkan Rizki, maba Fakultas Teknik (FT). Ia begitu kecewa ketika rektornya tidak muncul pada acara pembukaan kemarin. “Kecewa banget jadinya, soalnya saya penasaran banget rektor UNJ itu yang mana,” tutur Rizki.

Lebih dari soal kecewa. Menurut Sarkadi, ketidakhadiran rektor akan punya dampak besar terhadap maba, “tentu akan berakibat pada kondisi psikologis maba,” terangnya. “Karena MPA adalah momen paling penting untuk mereka.”

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *