CINTA

2 Comments

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Nyatanya, cinta diartikan sebagai keinginan untuk memiliki, bukan keinginan untuk mencintai (menjadi).”

Kali ini Masa Pengenalan Akademik (MPA) angkat suara soal, cinta. We Love Green Kampus, dijadikan sebagai tema besar. Dengan bunyi, “Menanamkan Semangat Cinta Kampus dalam Membentuk Pribadi yang Kompetitif”. Dijadikan acuan dalam menjalankan kegiatan membentuk dan mengenalkan mahasiswa baru terhadap dunia barunya yaitu, kampus. Melalui ini, kampus meyakini dirinya adalah sesuatu yang harus dicintai dan mencintai.

Bicara soal cinta. Cinta dapat dimengerti sebagai sebuah rasa perhatian dan kasih sayang terhadap orang lain. Dalam arti yang lebih luas lagi, cinta dapat dipahami sebagai keinginan untuk memperhatikan dan diperhatikan, juga mempedulikan dan dipedulikan. Oleh karena itu, cinta tidak memiliki arti tunggal, melainkan beragam.

Dari beragam inilah kemudian menghasilkan proyeksi akan cinta yang bermacam-macam. Seorang lelaki membahasakan cinta terhadap kekasihnya dengan cara mengapeli dan memperhatikannya. Orangtua membahasakan cinta terhadap anaknya dengan cara mencukupi kebutuhan hidup dan memikirkan masa depannya. Dosen membahasakan cinta terhadap mahasiswanya dengan cara membimbing dan memberikan pengajaran. Sedang kampus membahasakan cinta kepada sivitas akademikanya dengan pembangunan dan pelayanannya.

Pertanyaannya, apakah yang seperti ini bisa kita sebut sebagai cinta? Ketika seorang lelaki membatasi ruang gerak kekasihnya, atas dalil menjaga kesetiaan guna menghindari perselingkuhan. Yang berakibat pada terganggunya aktivitas, serta terbunuhnya produktivitas sang kekasih.

Dan dosen selalu menganggap bahwa dirinya lebih tahu daripada mahasiswa. Sehingga dosen menekan mahasiswa untuk mengikuti segala nasihat-nasihat, keinginan, kemauan, ambisi-ambisinya, tanpa memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk memilih. Kemudian ketika ada mahasiswa yang mengkritik dosen, dianggap sebagai sesuatu pembangkangan dan harus ditindak.

Atas fakta soal cinta yang seperti ini, kita dapat menemukan bahwa cinta yang ada selama ini hanya bicara tentang saling kuasa dan menguasai, serta saling milik dan memiliki. Hal-hal seperti ini yang melunturkan makna cinta yang menuntut sebuah ketulusan. Dan cinta yang memiliki unsur untuk saling memiliki dan menguasai, niscaya tidak terdapat ketulusan.

Oleh karena itu, cinta bukan lagi pengorbanan, tetapi tuntutan. Dan jika tuntutan tidak dipenuhi, seringkali terjadi kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikologis, yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar cinta. Yaitu ramah, penuh kasih, dan penuh sayang. Sekali lagi, ini mengisyaratkan bahwa selama ini, cinta dianggap sebagai sesuatu yang dapat dimiliki, yang darinya muncul naluri untuk mengatur dan menguasai.

Maka dari itu, sudah selaiknya kita menaruh curiga terhadap gagasan menyoal ‘cinta kampus’. Yang kenyataannya, kampus pun tidak pernah menunjukkan kecintaan terhadap mahasiswanya. Ini terbukti pada kenaikan biaya pendidikan yang terjadi tiap tahunnya.

Kampus yang mencitai mahasiswa adalah kampus yang berbicara atas kepentingan mahasiswa. Perlindungan dan tanggung jawab adalah unsur pokok dari cinta kampus terhadap mahasiswa. Ketika kampus pun ingin merasa dirinya laik dicintai.

Lagi-lagi kenyataannya tidak begitu. Ketika tiap tahunnya ada mahasiswa baru yang tidak sanggup membayar biaya pendidikan, kampus pun angkat tangan. Maka dari itu, sebelum ada pertanyaan tentang apa yang dapat diberikan mahasiswa dalam mencintai kampusnya. Pertanyaan itu harus kita balik. Apa yang telah kampus ambil dari mahasiswa, sehingga mahasiswa harus mencintai kampusnya.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *