Karut Marut Pembukaan MPA

No Comment Yet

Acara Pembukaan Masa Pengenalan Akademik (MPA) 2012 (27/8) memberikan warna baru dalam sejarah MPA Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pertama, mengangkat tema olimpiade. Melalui tema ini, panitia ingin mengubah prosesi lama yang terkesan monoton. Acara tidak lagi dibuka dengan pembacaan Al-Quran seperti tahun sebelumnya, melainkan dengan penampilan grup musik yang meriah. “Acaranya lumayan seru apalagi ada band-nya gitu,” tutur salah seorang mahasiswa baru Fakultas Teknik.

Kedua, rektor dan beberapa pembantunya alpa hadir dalam acara ini. Habis waktu untuk menunggu mereka, pelaksanaan acara molor sampai satu jam. Acara pun berjalan tidak sesuai dengan susunannya, tidak dimulai jam 06:30. Padahal mahasiswa baru, sudah siap berkumpul sejak pagi-pagi sekali.

Beberapa penampilan yang sudah dijadwalkan pun tidak jadi ditampilkan. Salah satunya pencak silat. “Pencak silat tidak jadi tampil karena mereka tidak ikut geladi resik sebelumnya, jadi tidak mau mengambil resiko,” ungkap Koordinator Seksi Acara MPA Universitas Bregas.

Ketiga, tidak ada konsumsi buat para pejabat kampus. Pembantu Dekan III Fakultas Ilmu Sosial (FIS) bercerita, pada saat acara diselenggarakan ia menghimbau salah satu panitia untuk mengluarkan konsumsi. Namun panitia memang tidak menyiapkannya.

Peniadaan konsumsi bagi pejabat kampus sengaja dilakukan oleh panitia yang karena adanya kekurangan anggaran yang diberikan universitas kepada panitia MPA. “Dana yang diberikan kepada panitia universitas sebesar Rp 31 juta, tapi dari dana itu belum dapat menutupi keseluruhan apalagi biaya konsumsi,” tutur Ketua Panitia MPA UNJ 2012 Niky Sagara. Niky menambahkan, dana tambahan untuk alokasi konsumsi sebenarnya telah diajukan pihak panitia namun tidak disetujui oleh pihak rektorat.

Terlepas dari persoalan konsumsi Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Karnadi menyatakan kekecewaannya terhadap pelaksanaan acara ini. Menurutnya dalam momentum itu terkesan ada yang kurang, karena dalam rangkaian acara tidak menampilkan sosok pejabat-pejabat universita kepada mahasiswa baru. “Kalau tahun kemarin seluruh Dekan turut andil dalam rangkaian acara sebagai pelepas balon dari tiap fakultas secara simbolis,” tuturnya.

Koordinasi kerja yang buruk menjadi penyebab tidak ikut sertanya pejabat kampus dalam prosesi pembukaan MPA. Hal ini diakui oleh panitia MPA melalui pernyataan koordinator seksi acaranya. “Kemarin seharunya para pejabat kampus seperti dekan ikut dalam penyalaan obor yang menjadi simbol pembukaan MPA, namun koordinasi yang terjadi dilapangan tidak begitu,” jelas Bregas.

Mengetahui hal ini, Pembantu Rektor III Fakhrudin Arbah  tidak ambil pusing. Buatnya, acara yang digelar sudah cukup meriah dan tidak kalah dari tahun-tahun sebelumnya. “Jika tahun lalu ada penembakan, tahun ini dibuka dengan penyalaan obor,” tukas Fachrudin.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *